<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267</id><updated>2011-11-26T23:30:02.123+07:00</updated><category term='Musik Lokal'/><category term='Sejarah'/><category term='Industri'/><category term='Wisata Budaya'/><category term='Tokoh'/><category term='Opini Publik'/><category term='Budaya'/><category term='Berita'/><category term='KOLOM HASAN AONI'/><title type='text'>Kudus Online</title><subtitle type='html'>Kebebasan Bukan Berarti Tanpa Batasan
Sebab dengan kebebasan itu sendiri, akan tercipta dengan sadar dan sendirinya sebuah batasan-batasan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-2409311320993225964</id><published>2011-11-26T19:28:00.000+07:00</published><updated>2011-11-26T19:30:16.568+07:00</updated><title type='text'>cerita nyata</title><content type='html'>&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cerita mahasiswa Indonesia di Ausie.&lt;br /&gt;Nyataa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi,kami menjemput seseorg klien di bandara.&lt;br /&gt;Org itu sdh tua,kisaran 60thn.&lt;br /&gt;Si Bpk adl pengusaha asal Singapura,dgn logat bicara gaya melayu&amp;english, beliau menceritakan&lt;br /&gt;pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda.&lt;br /&gt;Beliau berkata,"Ur country is so rich!" Ah biasa banget denger kata2 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tunggu dulu."Indonesia doesn't need ...the world,but the world needs Indonesia,"lanjutnya.&lt;br /&gt;"Everything can be found here in Indonesia, U don't need the world."&lt;br /&gt;"Mudah saja,Indonesia paru2 dunia.Tebang saja hutan di kalimantan,dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia!&lt;br /&gt;Singapura is nothing,we can't be rich without Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami,&lt;br /&gt;apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia,ga peduli harga selangit, laku keras.&lt;br /&gt;Lihatlah RS kami,org Indonesia semua yg berobat.Trus,kalian tau bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk?&lt;br /&gt;Ya,bener2 panik. Sangat terasa, we are nothing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras.Termasuk di Singapura dan Malaysia?&lt;br /&gt;Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras. Liatlah negara kalian, air bersih di mana2,&lt;br /&gt;liatlah negara kami,air bersih pun kami beli dari Malaysia.&lt;br /&gt;Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya mengandung permata.&lt;br /&gt;Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3rb/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30rb/ kg.&lt;br /&gt;Saya liat ini sbg peluang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia!&lt;br /&gt;Ya,karena negara kalian memiliki segalanya.Mereka takut kalau kalian mnjadi mandiri,makanya&lt;br /&gt;tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG- EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI.&lt;br /&gt;Belilah pangan dr petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dr pabrik2 sendiri.&lt;br /&gt;Tak perlu impor klo bs produk sendiri. Jika kalian bs mandiri,bisa MENG- EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!&lt;br /&gt;Plis share ya biar sampe ke seluruh bangsa Indonesia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;thank u ^.^"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-2409311320993225964?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/2409311320993225964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2011/11/cerita-nyata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/2409311320993225964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/2409311320993225964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2011/11/cerita-nyata.html' title='cerita nyata'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-6954448710942939388</id><published>2009-01-26T16:12:00.008+07:00</published><updated>2009-01-26T16:30:34.336+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM HASAN AONI'/><title type='text'>METAMORFOSA PLTN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SX2ByqS-kUI/AAAAAAAAAFk/0NHrnorl53Y/s1600-h/redhand.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SX2ByqS-kUI/AAAAAAAAAFk/0NHrnorl53Y/s200/redhand.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295531444204900674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Hasan Aoni Aziz US&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketua Masyarakat Reksa Bumi (MAREM)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENOLAKAN berbagai elemen masyarakat Jepara, Kudus, dan Pati terhadap bantuan alat laboratorium nuklir Batan untuk SMA Islam Jepara menghiasi halaman koran lokal di Jawa Tengah pertengahan Desember lalu. Isu ini kembali menghubungkan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).&lt;br /&gt;Bantuan alat laboratorium ini dinilai sebagai cara baru Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) memromosikan PLTN fissi Muria.&lt;br /&gt;Sepanjang 2008, Batan rajin melakukan program diseminasi (penyemaian) iptek nuklir. Diseminasi dilakukan dalam bentuk bantuan laboratorium dan benih tanaman hasil radiasi nuklir.&lt;br /&gt;Adakah hubungan bantuan-bantuan itu dengan PLTN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nuklir dan PLTN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nuklir telah lama berperan dalam dunia kesehatan, industri, geologi, juga pertanian. Sebagai badan nasional yang menangani nuklir, Batan melakukan berbagai riset iradiasi isotop dan menyokong dunia kesehatan dan farmasi Indonesia. Di bidang pertanian ditemukan benih padi Mira dan kedelai Muria, Meratus, Mitani, dan Rajabasa mutan hasil radiasi.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, orang yang paham teknologi akan memahami bahwa risiko teknologi selalu tertanam dalam rancangannya. Dunia kedokteran menyarankan, penyinaran ronsen sebaiknya dilakukan enam bulan sekali. Lebih dari itu berisiko mematikan sel-sel tubuh lebih besar. Sedang, konsumsi biji hasil pemuliaan benih radiasi masih menjadi kontroversi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan masyarakat Muria agaknya tidak dalam kapasitas itu. Masyarakat menolak, karena dalam bantuan itu tertanam promosi pembangunan PLTN.&lt;br /&gt;PLTN adalah pembangkit berbahan bakar uranium. Memiliki risiko radiasi mematikan saat terjadi kecelakaan, baik oleh kegagalan, kelalaian operasi maupun bencana alam. Kasus kebocoran PLTN Chernobyl Ukraina, bekas negara Uni Soviet (1986), Three Mile Island Amerika (1979), serta PLTN Kashiwazaki Jepang akibat gempa (2007) menjadi sindroma kuat yang tertanam di benak masyarakat Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari head on ke hidden&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pilihan diseminasi nuklir melalui lembaga pendidikan dan pertanian adalah metamorfosa promosi PLTN Batan hasil belajar tahun 2007. Komunikasi langsung (head on) sepanjang 2007 telah menuai tentangan. Batan merubah model komunikasi itu melalui diseminasi nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu komunikasi pendekatan ini disebut hidden communicate (menyampaikan secara terselubung). Ada dua sasaran model ini. Pertama, di ranah kognitif masyarakat akan memahami nuklir dan PLTN sebagai iptek yang positif. Untuk mendukung ini, Kementerian Riset dan Teknologi mengeluarkan buku suplemen untuk siswa SMP berjudul “PLTN, Manfaat dan Potensi Bahayanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi bersama Marem, Percik dan Listhia akhir Nopember lalu disimpulkan bahwa buku ini menyesatkan. Terdapat bias antara nuklir dan PLTN serta menyederhanakan aspek kebahayaan. Mengingatkan kita pada pelajaran sejarah di sekolah tentang G-30 S-PKI serta film-film tentangnya di era Orde Baru yang sangat distortif terhadap sejarah.&lt;br /&gt;Sebuah kuesioner Batan atas pengetahuan 60 guru fisika, kimia dan biologi di Demak, serta poll tingkat pengetahuan PLTN mahasiswa Semarang tahun 2008 mendorong Batan melakukan diseminasi (www.infonuklir.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa siswa SMP dan mahasiswa menjadi sasaran? Tampaknya Batan sangat paham apa arti “cohort”. Cohort adalah segmen usia tertentu yang pada kurun selanjutnya berpotensi menjadi pembela apa yang diedukasi sekarang. Mereka bagai kepompong yang dinanti menjadi kupu-kupu. Dunia internet telah menuai pasar cohort netter mulai 2000-an setelah pada dekade 90-an dihujani beribu informasi tentang dunia maya.&lt;br /&gt;Kedua, bantuan laboratorium bisa menerbitkan bond of merit (rasa utang budi). Makin banyak penerima bantuan, makin banyak pula dukungan. Pencapaian sasaran akan melampaui tidak saja pemahaman (kognitif), tetapi juga sikap setuju (afektif) dan keputusan menerima (psikomotorik) PLTN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Jepang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jepang adalah negara yang lebih dari 30 persen total kebutuhan listriknya dipasok PLTN. Sebagai negara yang sepi sumber energi dan sulit keluar dari kebutuhan PLTN karena industrialisasi yang pesat, pemerintah Jepang juga mendapat tentangan masyarakat lokal. Sebagai promosi, Jepang melakukan program diseminasi nuklir.&lt;br /&gt;Batan belajar dari Jepang dan membuat kerjasama dalam Memorandum of Cooperation on the Promotion on Nuclear Power Plant Development, 22 Nopember 2007. Bahkan Jepang melalui Jetro mengucurkan bantuan Rp. 2,5 M berpatungan dengan Kaico dari Korsel untuk kepentingan sosialisasi. Cara-cara pendekatan diseminasi yang dilakukan Jepang kini ditiru Batan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ultah ke-50 Batan, Menteri Ristek Kusmayanto Kadiman berkata, dari keempat program FEW+H atau food, energy, water, and health, bidang energi paling sulit diwujudkan. Isu PLTN masih berkubang di ranah sosiopolitik. Maka, Batan perlu melakukan pembelajaran publik (Kompas, 5/12/08).&lt;br /&gt;Tapi, gerakan masyarakat lokal di Jepang berbeda dengan masyarakat di sekitar Muria. Di Jepang masyakarat terhimpun ke dalam struktur sosial monolitik, yang penentangannya lebih mencirikan perjuangan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SX2CIapE3VI/AAAAAAAAAFs/LPEhCVTbp4g/s1600-h/zona+no+nuklir.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SX2CIapE3VI/AAAAAAAAAFs/LPEhCVTbp4g/s200/zona+no+nuklir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295531817959742802" /&gt;&lt;/a&gt; Sedang, masyarakat Muria berbaur bersama, terdiri atas petani, nelayan, pekerja, kaum agamawan, mahasiswa, juga pengusaha. “Sebuah gerakan civil society yang unik,” kata Richard Tanter, peneliti RMIT University Australia.&lt;br /&gt;Batan suatu saat mungkin kembali memilih model head on, karena Pemerintah atas nama kepentingan publik dapat memaksa PLTN. Dalam persepektif ke-Amdal-an, penolakan masyarakat hanya diakomodir sebagai variabel pelengkap daripada pencegah. Pemerintah akan membangun alasan oleh apa yang di-fait a comply sebagai krisis sumber energi. Sesuatu yang ditentang kelompok anti-PLTN sebagai krisis managemen energi.&lt;br /&gt;Dalam ancaman krisis itu, Indonesia kelak akan memasuki zaman gelap, yang akan terang jika memilih PLTN. Sesuatu yang oleh kelompok anti-PLTN dinilai absurd, karena Indonesia amat kaya sumber energi terbarukan, seperti panas bumi, surya, gelombang laut, angin dan biofuel.&lt;br /&gt;Metamorfosa ke head on akan kembali dipilih hanya jika program diseminasi nukir berhasil menetaskan cohort-cohort PLTN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-6954448710942939388?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/6954448710942939388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/metamorfosa-pltn.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/6954448710942939388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/6954448710942939388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/metamorfosa-pltn.html' title='METAMORFOSA PLTN'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SX2ByqS-kUI/AAAAAAAAAFk/0NHrnorl53Y/s72-c/redhand.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-1958959963645022669</id><published>2009-01-26T16:09:00.002+07:00</published><updated>2009-01-26T16:12:04.662+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>MUI Diminta Tidak Keluarkan Fatwa Haram Rokok</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Press release DPRD Kudus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Soal Isu Fatwa Haram Rokok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudus, 20 Januari 2009– Majelis Ulama Indonesia (MUI) diminta tidak mengeluarkan fatwa haram rokok. Permintaan itu disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Kudus Drs. H Asyrofi saat audiensi dengan pengurus MUI di Jakarta kemarin (20/01/09). Dalam pertemuan itu, Asyrofi didampingi ketua MUI Cabang Kudus, pengurus Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), pengurus Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK), Ketua SPSI Kudus, Asisten II Bupati Kudus, dan ISES Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagaimana diketahui, MUI pada 24-25 Januari 2009 berencana mengadakan ijtimaul ‘ulama (kesepatakan ulama) tentang rokok di Padang Panjang. Selain rokok, perkawinan dini juga akan dibahas di pertemuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Asyrofi, pembahasan agenda rokok MUI perlu disikapi secara kritis. Putusan haram rokok, katanya, dapat memicu regulasi ikutan, baik oleh departemen di pemerintahan maupun oleh pemerintah daerah. Jika ini terjadi, kata Asyrofi, fatwa haram rokok merupakan lonceng kematian bagi industri rokok.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai daerah berbasis industri rokok, masyarakat Kudus amat menggantungkan perekonomiannya dari bisnis rokok. Berdasarkan data Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK), saat ini tercatat ada  95 ribu karyawan dari 15 pabrik yang tergabung dalam PPRK. Jika ditambah dengan 115 pabrik yang tergabung dalam Forum Perusahaan Rokok Kudus (FPRK), serta puluhan pabrik lain yang tak berasosiasi, total jumlah karyawan rokok mencapai 120-an ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jangka panjang, sambung Asyrofi, fatwa haram rokok berpotensi mengurangi konsumsi rokok. Pengurangan konsumsi akan mengakibatkan lesunya produksi rokok. Sebagai perusahaan padat karya, khususnya untuk jenis sigaret kretek tangan (SKT), pabrikan rokok pun tidak bisa mengelak dari keputusan mem-PHK karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Eksekutif Institute for Social and Economic Studies (ISES) Indonesia Hasan Aoni Aziz US mengatakan, MUI sejauh ini terkesan memihak kelompok anti-tembakau. Pendapat-pendapat MUI mengesankan seolah-olah fatwa haram telah diputuskan. Dalam memandang dampak sosial rokok, Hasan mengatakan, buruh rokok harus ditempatkan dalam perspektif korban. “Buruh adalah kelompok yang sangat rawan terhadap kebijakan pembatasan rokok,” tuturnya. Karena itu, selain memerhatikan kepentingan anak dan ibu hamil, nasib buruh juga perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta Jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rancangan peta jalan (road map) industri rokok, orientasi industri rokok dirancang dalam tiga konsentrasi. Untuk periode 2007-2010 terkonsentrasi untuk kepentingan pendapatan (pro income), 2010-2015 untuk tenaga kerja (pro job), dan 2015-2020 untuk kepentingan kesehatan (pro health).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam implementasi pro income, Kudus berdasarkan data PPRK sejak 2005-2008 telah menyumbang cukai rokok rata-rata 26,12% dari total pendapatan cukai rokok nasional. Pada 2008, setoran cukai Kudus mencapai Rp. 11 triliun atau 20 persen lebih dari penerimaan negara atas rokok yang mencapai Rp. 50 trilyun. Pendapatan cukai nasional itu setara 5 persen dari APBN 2008 yang mencapai Rp. 1000 triliun. Dari setoran sebesar itu, sebagian dikembalikan kepada daerah penghasil cukai rokok dalam bentuk Dana Bagi Hasil (DBH). DBH tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan, salah satunya mempersiapkan industri rokok dan masyarakat menghadapi deindustrialisasi rokok. Jika fatwa haram jadi diputuskan, maka MUI telah melakukan percepatan melampaui peta jalan industri rokok yang dirancang pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudharat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa haram rokok dalam implementasinya juga bisa menimbulkan hukum ikutan. Yaitu memandang bahwa segala yang berkaitan dengan proses produksi dan penjualan rokok menjadi haram. Ketentuan ini bisa mendorong kelompok organisasi keagamaan tertentu untuk melakukan razia terhadap rokok. Sebagaimana tindakan razia kelompok ini terhadap minuman keras, hal sama dapat mereka lakukan terhadap rokok, karena merasa mendapat legitimasi hukum agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai alasan tersebut, DPRD Kudus telah menjaring pandangan dari berbagai elemen masyarakat di Kudus. Hasil pandangan itu dituangkan dalam “Pokok-pokok Pikiran soal Fatwa Haram Rokok” yang diserahkan kepada MUI. Dalam pmandangan itu, Asyrofi meminta agar MUI menurunkan proposal pembahasan fatwa haram rokok dari agenda bahasan. “Sebaiknya  MUI mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah agar mengeluarkan regulasi pembatasan merokok melengkapi aturan yang sudah ada. Pengaturan rokok cukup melalui hukum positif saja,” kata Asyrofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ketua MUI Cabang Kudus KH Syafiq Nashan, mengatakan, dia akan menggalang kesatuan dengan MUI dari daerah basis industri rokok untuk mendorong MUI pusat agar tidak mengeluarkan fatwa haram. “Hukum makruh (perbuatan yang tercela) sudah cukup menghukumi perbuatan merokok,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudus, 20 Januari 2009 (HA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-1958959963645022669?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/1958959963645022669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/mui-diminta-tidak-keluarkan-fatwa-haram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/1958959963645022669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/1958959963645022669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/mui-diminta-tidak-keluarkan-fatwa-haram.html' title='MUI Diminta Tidak Keluarkan Fatwa Haram Rokok'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-262018231200216266</id><published>2009-01-26T14:52:00.005+07:00</published><updated>2009-01-26T15:08:48.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Bahtsul Masail tentang Hukum Merokok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SX1tmsf57LI/AAAAAAAAAFc/E-4gFu9nySY/s1600-h/11_49_51-smoking-cigarette_web.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SX1tmsf57LI/AAAAAAAAAFc/E-4gFu9nySY/s200/11_49_51-smoking-cigarette_web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295509248405007538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;23/01/2009&lt;br /&gt;Sejak awal abad XI Hijriyah atau sekitar empat ratus tahun yang lalu, rokok dikenal dan membudaya di berbagai belahan dunia Islam. Sejak itulah sampai sekarang hukum rokok gencar dibahas oleh para ulama di berbagai negeri, baik secara kolektif maupun pribadi. Perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hukum rokok tidak dapat dihindari dan berakhir kontroversi. Itulah keragaman pendapat yang merupakan fatwa-fatwa yang selama ini telah banyak terbukukan. Sebagian di antara mereka menfatwakan mubah alias boleh, sebagian berfatwa makruh, sedangkan sebagian lainnya lebih cenderung menfatwakan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dan di negeri ini yang masih dilanda krisis ekonomi, pembicaraan hukum rokok mencuat dan menghangat kembali. Pendapat yang bermunculan selama ini tidak jauh berbeda dengan apa yang telah terjadi, yakni tetap menjadi kontroversi.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kontroversi Hukum Merokok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya muncul fatwa, bahwa korupsi itu hukumnya haram berat karena termasuk tindak sariqah (pencurian), maka semua orang akan sependapat termasuk koruptor itu sendiri. Akan tetapi persoalannya akan lain ketika merokok itu dihukumi haram. Akan muncul pro dari pihak tertentu dan muncul pula kontra serta penolakan dari pihak-pihak yang tidak sepaham. Dalam tinjauan fiqh terdapat beberapa kemungkinan pendapat dengan berbagai argumen yang bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya terdapat nash bersifat umum yang menjadi patokan hukum, yakni larangan melakukan segala sesuatu yang dapat membawa kerusakan, kemudaratan atau kemafsadatan sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur'an :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. البقرة: 195&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al-Baqarah: 195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sunnah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ. رواه ابن ماجه, الرقم: 2331&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu 'Abbas ra, ia berkata ; Rasulullah SAW. bersabda: Tidak boleh berbuat kemudaratan (pada diri sendiri), dan tidak boleh berbuat kemudaratan (pada diri orang lain). (HR. Ibnu Majah, No.2331)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari dua nash di atas, ulama' sepakat mengenai segala sesuatu yang membawa mudarat adalah haram. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah merokok itu membawa mudarat ataukah tidak, dan terdapat pula manfaat ataukah tidak. Dalam hal ini tercetus persepsi yang berbeda dalam meneliti dan mencermati substansi rokok dari aspek kemaslahatan dan kemafsadatan. Perbedaan persepsi ini merupakan babak baru munculnya beberapa pendapat mengenai hukum merokok dengan berbagai argumennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya semua sepakat, bahwa merokok tidak membawa mudarat atau membawa mudarat tetapi relatif kecil, maka semua akan sepakat dengan hukum mubah atau makruh. Demikian pula seandainya semuanya sepakat, bahwa merokok membawa mudarat besar, maka akan sepakat pula dengan hukum haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pendapat itu serta argumennya dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama ; hukum merokok adalah mubah atau boleh karena rokok dipandang tidak membawa mudarat. Secara tegas dapat dinyatakan, bahwa hakikat rokok bukanlah benda yang memabukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua ; hukum merokok adalah makruh karena rokok membawa mudarat relatif kecil yang tidak signifikan untuk dijadikan dasar hukum haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; hukum merokok adalah haram karena rokok secara mutlak dipandang membawa banyak mudarat. Berdasarkan informasi mengenai hasil penelitian medis, bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dalam, seperti kanker, paru-paru, jantung dan lainnya setelah sekian lama membiasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga pendapat di atas dapat berlaku secara general, dalam arti mubah, makruh dan haram itu bagi siapa pun orangnya. Namun bisa jadi tiga macam hukum tersebut berlaku secara personal, dengan pengertian setiap person akan terkena hukum yang berbeda sesuai dengan apa yang diakibatkannya, baik terkait kondisi personnya atau kwantitas yang dikonsumsinya. Tiga tingkatan hukum merokok tersebut, baik bersifat general maupun personal terangkum dalam paparan panjang 'Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Husain ibn 'Umar Ba'alawiy di dalam Bughyatul Mustarsyidin (hal.260) yang sepotong teksnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف، ....... والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada hadits mengenai tembakau dan tidak ada atsar (ucapan dan tindakan) dari seorang pun di antara para shahabat Nabi SAW. … Jelasnya, jika terdapat unsur-unsur yang membawa mudarat bagi seseorang pada akal atau badannya, maka hukumnya adalah haram sebagaimana madu itu haram bagi orang yang sedang sakit demam, dan lumpur itu haram bila membawa mudarat bagi seseorang. Namun kadangkala terdapat unsur-unsur yang mubah tetapi berubah menjadi sunnah sebagaimana bila sesuatu yang mubah itu dimaksudkan untuk pengobatan berdasarkan keterangan terpercaya atau pengalaman dirinya bahwa sesuatu itu dapat menjadi obat untuk penyakit yang diderita sebagaimana berobat dengan benda najis selain khamr. Sekiranya terbebas dari unsur-unsur haram dan mubah, maka hukumnya makruh karena bila terdapat unsur-unsur yang bertolak belakang dengan unsur-unsur haram itu dapat difahami makruh hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan sepotong paparan di atas, apa yang telah diuraikan oleh Mahmud Syaltut di dalam Al-Fatawa (hal.383-384) dengan sepenggal teks sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن التبغ ..... فحكم بعضهم بحله نظرا إلى أنه ليس مسكرا ولا من شأنه أن يسكر ونظرا إلى أنه ليس ضارا لكل من يتناوله, والأصل في مثله أن يكون حلالا ولكن تطرأ فيه الحرمة بالنسبة فقط لمن يضره ويتأثر به. .... وحكم بعض أخر بحرمته أوكراهته نظرا إلى ما عرف عنه من أنه يحدث ضعفا فى صحة شاربه يفقده شهوة الطعام ويعرض أجهزته الحيوية أو أكثرها للخلل والإضطراب.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang tembakau … sebagian ulama menghukumi halal karena memandang bahwasanya tembakau tidaklah memabukkan, dan hakikatnya bukanlah benda yang memabukkan, disamping itu juga tidak membawa mudarat bagi setiap orang yang mengkonsumsi. ...Pada dasarnya semisal tembakau adalah halal, tetapi bisa jadi haram bagi orang yang memungkinkan terkena mudarat dan dampak negatifnya. Sedangkan sebagian ulama' lainnya menghukumi haram atau makruh karena memandang tembakau dapat mengurangi kesehatan, nafsu makan, dan menyebabkan organ-organ penting terjadi infeksi serta kurang stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula apa yang telah dijelaskan oleh Prof Dr Wahbah Az-Zuhailiy di dalam Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh (Cet. III, Jilid 6, hal. 166-167) dengan sepotong teks, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;القهوة والدخان: سئل صاحب العباب الشافعي عن القهوة، فأجاب: للوسائل حكم المقاصد فإن قصدت للإعانة على قربة كانت قربة أو مباح فمباحة أو مكروه فمكروهة أو حرام فمحرمة وأيده بعض الحنابلة على هذا التفضيل. وقال الشيخ مرعي بن يوسف الحنبلي صاحب غاية المنتهى: ويتجه حل شرب الدخان والقهوة والأولى لكل ذي مروءة تركهما&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kopi dan rokok; penyusun kitab Al-'Ubab dari madzhab Asy-Syafi'i ditanya mengenai kopi, lalu ia menjawab: (Kopi itu sarana) hukum, setiap sarana itu sesuai dengan tujuannnya. Jika sarana itu dimaksudkan untuk ibadah maka menjadi ibadah, untuk yang mubah maka menjadi mubah, untuk yang makruh maka menjadi makruh, atau haram maka menjadi haram. Hal ini dikuatkan oleh sebagian ulama' dari madzhab Hanbaliy terkait penetapan tingkatan hukum ini. Syaikh Mar'i ibn Yusuf dari madzhab Hanbaliy, penyusun kitab Ghayah al-Muntaha mengatakan : Jawaban tersebut mengarah pada rokok dan kopi itu hukumnya mubah, tetapi bagi orang yang santun lebih utama meninggalkan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulasan 'Illah (reason of law)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat menarik bila tiga tingkatan hukum merokok sebagaimana di atas ditelusuri lebih cermat. Kiranya ada benang ruwet dan rumit yang dapat diurai dalam perbedaan pendapat yang terasa semakin sengit mengenai hukum merokok. Benang ruwet dan rumit itu adalah beberapa pandangan kontradiktif dalam menetapkan 'illah atau alasan hukum yang di antaranya akan diulas dalam beberapa bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; sebagian besar ulama' terdahulu berpandangan, bahwa merokok itu mubah atau makruh. Mereka pada masa itu lebih bertendensi pada bukti, bahwa merokok tidak membawa mudarat, atau membawa mudarat tetapi relatif kecil. Barangkali dalam gambaran kita sekarang, bahwa kemudaratan merokok dapat pula dinyaakan tidak lebih besar dari kemudaratan durian yang jelas berkadar kolesterol tinggi. Betapa tidak, sepuluh tahun lebih seseorang merokok dalam setiap hari merokok belum tentu menderita penyakit akibat merokok. Sedangkan selama tiga bulan saja seseorang dalam setiap hari makan durian, kemungkinan besar dia akan terjangkit penyakit berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; berbeda dengan pandangan sebagian besar ulama' terdahulu, pandangan sebagian ulama sekarang yang cenderung mengharamkan merokok karena lebih bertendensi pada informasi (bukan bukti) mengenai hasil penelitian medis yang sangat detail dalam menemukan sekecil apa pun kemudaratan yang kemudian terkesan menjadi lebih besar. Apabila karakter penelitian medis semacam ini kurang dicermati, kemudaratan merokok akan cenderung dipahami jauh lebih besar dari apa yang sebenarnya. Selanjutnya, kemudaratan yang sebenarnya kecil dan terkesan jauh lebih besar itu (hanya dalam bayangan) dijadikan dasar untuk menetapkan hukum haram. Padahal, kemudaratan yang relatif kecil itu seharusnya dijadikan dasar untuk menetapkan hukum makruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti ini kemungkinan dapat terjadi khususnya dalam membahas dan menetapkan hukum merokok. Tidakkah banyak pula makanan dan minuman yang dinyatakan halal, ternyata secara medis dipandang tidak steril untuk dikonsumsi. Mungkinkah setiap makanan dan minuman yang dinyatakan tidak steril itu kemudian dihukumi haram, ataukah harus dicermati seberapa besar kemudaratannya, kemudian ditentukan mubah, makruh ataukah haram hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; hukum merokok itu bisa jadi bersifat relatif dan seimbang dengan apa yang diakibatkannya mengingat hukum itu berporos pada 'illah yang mendasarinya. Dengan demikian, pada satu sisi dapat dipahami bahwa merokok itu haram bagi orang tertentu yang dimungkinkan dapat terkena mudaratnya. Akan tetapi merokok itu mubah atau makruh bagi orang tertentu yang tidak terkena mudaratnya atau terkena mudaratnya tetapi kadarnya kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat; kalaulah merokok itu membawa mudarat relatif kecil dengan hukum makruh, kemudian di balik kemudaratan itu terdapat kemaslahatan yang lebih besar, maka hukum makruh itu dapat berubah menjadi mubah. Adapun bentuk kemaslahatan itu seperti membangkitkan semangat berpikir dan bekerja sebagaimana biasa dirasakan oleh para perokok. Hal ini selama tidak berlebihan yang dapat membawa mudarat cukup besar. Apa pun yang dikonsumsi secara berlebihan dan jika membawa mudarat cukup besar, maka haram hukumnya. Berbeda dengan benda yang secara jelas memabukkan, hukumnya tetap haram meskipun terdapat manfaat apa pun bentuknya karena kemudaratannya tentu lebih besar dari manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Arwani Faishal&lt;br /&gt;Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disarikan dari &lt;a href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=15997" target="new"&gt;Klik Disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-262018231200216266?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/262018231200216266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/bahtsul-masail-tentang-hukum-merokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/262018231200216266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/262018231200216266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/bahtsul-masail-tentang-hukum-merokok.html' title='Bahtsul Masail tentang Hukum Merokok'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SX1tmsf57LI/AAAAAAAAAFc/E-4gFu9nySY/s72-c/11_49_51-smoking-cigarette_web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-4140619416454384159</id><published>2009-01-20T16:47:00.002+07:00</published><updated>2009-01-20T16:50:27.312+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini Publik'/><title type='text'>Lain Dulu dengan Sekarang</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;- Duka Buruh PR Jambu Bol (2-Habis)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LUKISAN yang tergantung di dinding salah satu kantor PR Jambu Bol menjadi salah satu bukti kejayaan pabrik tersebut. Lukisan dengan aneka warna cerah itu menggambarkan suasana di sekitar pabrik yang berada di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae. Ada sebuah truk kotak yang mengangkut bungkusan rokok, ada pula mobil yang sedang melaju.&lt;br /&gt;Sementara itu, beberapa buruh dengan muka ceria juga terlihat sedang berjalan di sekitar pabrik itu. Di sekitarnya, beberapa pedagang pasar tiban juga terlihat menggelar dagangan. Suasana yang riuh dari sebuah pabrik yang hidup tertangkap dari lukisan itu.&lt;br /&gt;Entah siapa yang melukisnya. Yang pasti, gambaran dari lukisan itu jauh dari kondisi sekarang yang sepi dan hampir tak ada kegiatan sama sekali. Tak ada lagi, wajah buruh yang ceria.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masa kejayaan itu sendiri dikisahkan berlangsung di tahun 80-90 an. Bahkan, hingga 2000 awal, masa itu masih sempat menghinggapi pabrik tersebut. Pemasaran terbesar dari rokok yang dihasilkan pabrik itu konon berada di Pulau Sumatera. Salah seorang kolega di sebuah pabrik rokok menggambarkan jika dulu, sementara pabrik rokok lain masih mengirim komoditinya dengan menggunakan mobil, maka Jambu Bol telah mengirim rokok menggunakan puluhan truk besar.&lt;br /&gt;Masa kejayaan itu juga diingat dalam benak para buruh. Seorang buruh perempuan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo mengatakan, saat itu menjadi buruh di PR Jambu Bol menjadi idaman hampir setiap remaja di kalangan menengah ke bawah.&lt;br /&gt;"Zaman dulu para remaja belum begitu mementingkan sekolah. Kami yang sebagian besar lulusan SD setelah lulus hanya ingin menjadi buruh Jambu Bol. Ada kebanggaan tersendiri bila kerja di sana," ujarnya.&lt;br /&gt;Sementara buruh lain yang berasal dari Desa Bae, Kecamatan Bae mengatakan dulu satu orang buruh bisa mendapat pekerjaan membuat rokok hingga 9.000 batang per hari. Bahkan, jika ada yang memapu melakukannya dalam satu bulan penuh, maka akan diberi bonus.&lt;br /&gt;"Saya sendiri pernah dapat bonus itu tiga kali berturut-turut. Lumayan juga jumlahnya," kenang perempuan yang mampu menyekolahkan anaknya hingga mendapat gelar sarjana dari mata pencahariaan itu.&lt;br /&gt;Namun, kondisi tersebut jauh berbalik dengan sekarang. Saat masih diminta bekerja beberapa waktu lalu, dirinya mengaku hanya diminta membuat seribu batang rokok saja. Tentu saja, pendapatan yang diraihnya jauh berkurang.&lt;br /&gt;Ya, hidup memang bagai roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Tapi semestinya, kehidupan itu harus dijalani tanpa harus mengorbankan orang lain. (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selesai&lt;/span&gt;- &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adhitia Armitrianto&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-4140619416454384159?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/4140619416454384159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/lain-dulu-dengan-sekarang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/4140619416454384159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/4140619416454384159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/lain-dulu-dengan-sekarang.html' title='Lain Dulu dengan Sekarang'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-5831675048953186497</id><published>2009-01-20T16:42:00.003+07:00</published><updated>2009-01-20T16:46:32.377+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini Publik'/><title type='text'>Harta Benda Dijual untuk Hidup</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;- Duka Buruh PR Jambu Bol (1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunnya produksi PR Jambu Bol membawa dampak pada ribuan buruh mereka. Para buruh yang menggantungkan penghasilan dari pabrik itu selama bertahun-tahun kini menjadi merana. Berikut, gambaran nasib para buruh tersebut dalam dua tulisan. Nama-nama mereka terpaksa tak disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG pria tampak duduk di depan Aula Gedung DPRD. Wajahnya menengadah, matanya menatap kosong. Raut mukanya menunjukkan ekspresi kelelahan. Sementara, hujan di luar masih tampak mengguyur deras.&lt;br /&gt;Lelaki itu termasuk sekitar 500 buruh PR Jambu Bol yang mendatangi Gedung DPRD Rabu (15/1). Mereka datang dengan tekad menduduki gedung wakil rakyat tersebut hingga ada kejelasan nasib. Lelaki usia 50 an tersebut, termasuk buruh pabrik rokok itu yang lama tak bekerja tapi tak juga dipecat. Mereka juga tak pernah diberi uang tunggu sebagai kompensasi atas kebijakan tak dipekerjakan itu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kula bingung Mas. Nasib kula pripun (Saya bingung. Nasib saya bagaimana)," ujarnya setelah didekati.&lt;br /&gt;Mendengar ceritanya kemudian, kita menjadi maklum. Dia bercerita, istrinya juga merupakan buruh di pabrik rokok tersebut. Mereka telah bekerja sejak awal 80-an. Jika dulu masa bahagia mereka rengkuh, kini hanya kebingungan yang muncul.&lt;br /&gt;Apalagi, dia dan sang istri masih menanggung empat anak yang sebagian harus sekolah.&lt;br /&gt;"Untuk kebutuhan sehari-hari, saya sudah jual beberapa harta benda yang ada. Motor, televisi, dan lainnya," ujar lelaki tersebut.&lt;br /&gt;Lain lagi dengan perempuan yang mengaku bekerja di PR Jambu Bol sejak 1977 ini. Sejak tenaganya tak lagi digunakan untuk nglinting rokok, dia harus susah payah mencari kerjaan lain.&lt;br /&gt;"Pekerjaan apa saja saya terima asal halal. Kadang mencuci, kadang juga memasak," ujar ibu empat anak yang tinggal di Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo.&lt;br /&gt;Dia tak lagi bisa bergantung pada pabrik rokok yang selama ini bisa dianggap sudah menjadi urat nadinya. Kenangan puluhan tahun harus segera dihapus demi kehidupan keluarga.&lt;br /&gt;Pabrik Jambu Bol sendiri didirikan pada 1937 oleh H Ma'ruf Rusdi. Pabrik itu berpusat di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae. Selain itu mereka juga memiliki gudang produksi di Desa Bae dan Desa Janggalan, Kecamatan Kota. Pabrik itu mengalami kejayaan di era 80-90 an. (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersambung&lt;/span&gt;- &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adhitia Armitrianto&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-5831675048953186497?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/5831675048953186497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/harta-benda-dijual-untuk-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/5831675048953186497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/5831675048953186497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/harta-benda-dijual-untuk-hidup.html' title='Harta Benda Dijual untuk Hidup'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-6495415685315254496</id><published>2009-01-15T14:03:00.000+07:00</published><updated>2009-01-15T14:22:31.571+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik Lokal'/><title type='text'>Perjalanan Per-kawan-an Bawah Tanah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SW7kJhqAP-I/AAAAAAAAAFM/ZfyuOoLYzrc/s1600-h/1_696002164l.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SW7kJhqAP-I/AAAAAAAAAFM/ZfyuOoLYzrc/s200/1_696002164l.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291417464511414242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;satu lagi komunitas musik kudus, mencoba mengadakan event musik perkawanan di kota Kudus. sebagai kelompok minoritas mereka mencoba menunjukan eksistensi mereka ke publik. Dan juga mencoba mengabarkan bahwa keberadaan mereka sangatlah penuh dengan perkawanan yang erat. klaim yang diberikan bahwa musik underground sebagai musik kekerasan mencoba mereka hapus dengan menggelar event yang penuh pelukan persahabatan. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;ini mereka coba buktikan dengan mendatangkan sesama musik underground dari luar negeri. Kedatangan kelompok musik dari swiss, jepang, malaysia adalah sebagai bukti bahwa keterikatan komunitas musik underground ini sangat kuat. Dengan mencoba mengusung tema " Embrace The Emotion : From East To Southeast Friendship Journey " Komunitas musik kudus yang tergabung dalam Kudus Movement akan memberikan suguhan menarik bagi pecinta musik keras. &lt;br /&gt;Suguhan ini akan terasa atraktif karena tidak hanya menampilkan musik dari manca negara, tapi juga menampilkan musisi-musisi lokal. AtasBawah yang merupakan gembong para pecinta musik metal juga akan menampilkan taringnya didepan tamu-tamu manca.&lt;br /&gt;Tentu ini adalah kehausan para pecinta musik-musik beraliran BawahTanah, untuk bisa berkumpul dan ber-hadbang ria dengan sesama komunitas. Bukan hanya sekedar menampilkan musik kelompok BawahTanah ini juga sangat mementingkan perkumpulan dan komunikasi antar sesama penyuka musik beraliran BawahTanah. (red)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-6495415685315254496?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/6495415685315254496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/perjalanan-per-kawan-bawah-tanah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/6495415685315254496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/6495415685315254496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/perjalanan-per-kawan-bawah-tanah.html' title='Perjalanan Per-kawan-an Bawah Tanah'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SW7kJhqAP-I/AAAAAAAAAFM/ZfyuOoLYzrc/s72-c/1_696002164l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-4819102354810210649</id><published>2009-01-12T16:35:00.000+07:00</published><updated>2009-01-12T16:49:49.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Sediakan Daging 9 Kerbau dan 67 Kambing</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWsSKp8HUqI/AAAAAAAAAFE/r3MP5IZHvNg/s1600-h/kolid1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWsSKp8HUqI/AAAAAAAAAFE/r3MP5IZHvNg/s200/kolid1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290342161542763170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-weight:bold;"&gt; * Buka Luwur Sunan Kudus Hari Ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&amp;id_beritacetak=46210" target="new"&gt;klik di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI ANTARA nuansa religiositas pada prosesi Buka Luwur di Makam Sunan Kudus Jakfar Sodiq, selalu terselip hal-hal menarik sekaligus ngangeni. Salah satunya, soal menu wajib yang akan dibagikan kepada segenap hadirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Soal menu, kami berusaha untuk mempertahankan dari tahun ke tahun,” kata Ketua Pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Drs H Em Nadjib Hasan, yang ditemui saat mempersiapkan prosesi Buka Luwur, siang kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan dia, untuk tahun ini pihaknya memperkirakan akan membagikan 20 ribu - 25 ribu nasi bungkus. Sedangkan yang dikemas dalam bentuk keranjang, baik ukuran besar maupun kecil jumlahnya mencapai 1.900 buah.&lt;br /&gt;”Semua itu akan kami bagikan pada puncak acara yakni Rabu (hari ini),” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada dua pakem yang tidak dapat ditinggalkan, yakni bagaimana mengolah makanan dari daging kerbau dan kambing tersebut. Pertama, dimasak dengan cara uyah asem atau tanpa kuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua dengan pengolahan model ”jangkrik goreng” atau dengan kuah. Mengapa dimasak dengan cara seperti itu? Menurut Nadjib karena daging-daging tersebut paling cocok diolah dengan cara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan makanan pun cukup melimpah. Hingga kemarin siang tercatat sembilan kerbau dan 67 kambing telah disembelih. Belum lagi, beberapa ton nasi berikut bumbu-bumbunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itu semua sumbangan masyarakat,” imbuhnya.&lt;br /&gt;Uniknya, lanjut Ketua Panitia H Wahyul Huda, bantuan masyarakat yang diberikan oleh masyarakat ini tidak hanya berasal dari masyarakat muslim saja tetapi ada juga dari agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memasaknya, setidaknya disiapkan tenaga sebanyak 66 orang. Begitu pula 300 ibu-ibu yang bertugas membungkus makanan ke dalam wadah yang ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau dihitung secara keseluruhan baik yang terlibat langsung maupun tidak, jumlahnya dapat mencapai seribu orang,” ujar Nadjib.&lt;br /&gt;Dengan banyaknya bahan makanan yang akan diolah, tentu membutuhkan peralatan khusus. Untuk itu, panitia menggunakan penanak nasi berdiameter hampir satu meter sebanyak 16 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dandang berisi 15 dunak (wadah dari anyaman bambu, red). Selanjutnya, satu dunak berisi lima batok kelapa beras. Sementara satu batok berisi sekitar 1,15 kilogram. ”Total dalam satu dandang berisi sekitar 86 kilogram, semua catatan itu kami bakukan,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mori untuk makam sang Sunan sendiri dibutuhkan setidaknya 1.511 meter. Belum lagi, kelambunya yang sebanyak 85 meter.&lt;br /&gt;”Sebagian mori kami bagikan kepada masyarakat di dalam berkatan,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tenaga yang dikeluarkan para juru masak tidak sebanding dengan upahnya, mereka dari tahun ke tahun tetap membantu. ”Di sini memang kerja sosial, saya hanya berharap berkah dari Kanjeng Sunan,” ucap Munadi (54), seorang juru masak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi tempat memasak dalam skala besar itu menggunakan kayu bakar. Akibatnya, kepulan asap yang merebak di hampir setiap sudut dapur sangat memedihkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah biasa, Mas. Jadi tidak kerasa, kalau tidak kuat ya dikuat-kuatkan,” ujar Slamet Yatin yang bola matanya tampak masih jernih. (Anton Wahyu Hartono, Sony Wibisono, Ruli Aditio-54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-4819102354810210649?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/4819102354810210649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/sediakan-daging-9-kerbau-dan-67-kambing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/4819102354810210649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/4819102354810210649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/sediakan-daging-9-kerbau-dan-67-kambing.html' title='Sediakan Daging 9 Kerbau dan 67 Kambing'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWsSKp8HUqI/AAAAAAAAAFE/r3MP5IZHvNg/s72-c/kolid1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-774449206527598356</id><published>2009-01-12T16:02:00.000+07:00</published><updated>2009-01-12T16:18:04.647+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini Publik'/><title type='text'>HARAPAN BAGI GAZA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWsKjyLdcFI/AAAAAAAAAE8/de5m7rBW8Qc/s1600-h/Israel-Palestine.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 182px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWsKjyLdcFI/AAAAAAAAAE8/de5m7rBW8Qc/s200/Israel-Palestine.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290333797158318162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;by:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rudolfus Antonius&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rohaniawan sekarang tinggal di Jogya untuk menuntut I&lt;/span&gt;lmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati nurani siapakah yang tidak terusik dengan serbuan militer Israel ke Jalur Gaza? Serangan yang dimulai di penghujung tahun baru dan terus berlanjut sampai saat  ini bukan hanya telah memporakporandakan Gaza, tetapi juga menelan ratusan korban jiwa dan mencederai ribuan orang. Delapan ratus lebih orang Palestina tewas, ribuan lainnya cedera. Mereka bukan hanya dari kalangan Hamas, faksi yang berkuasa di Gaza, tapi juga penduduk biasa. Bahkan, jumlah penduduk biasa yang jadi korban lebih banyak daripada mereka yang sudah terbiasa menyandang senjata. Sangat miris. Selama setengah tahun mereka sangat menderita karena blokade Israel pasca-perjanjian gencatan senjata Israel-Hamas, sekarang mereka benar-benar berjalan di lembah bayang-bayang maut di tanah tumpah darah mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Komunitas internasional bereaksi. Protes, kecaman, dan kutukan terhadap Israel membahana; baik dari berbagai Negara, maupun kelompok-kelompok masyarakat. Tak terkecuali, Indonesia. Bahkan beberapa kelompok fundamentalis Islam di negeri menyerukan jihad dan siap mengirimkan jihadis ke Jalur Gaza untuk membela kehormatan Islam, membela umat Islam (karena berlogika Palestina = Arab = Islam), dan membinasakan orang Yahudi. Dewan Keamanan PBB, minus AS yang nota bene merupakan sekutu terdekat Israel, sudah mengeluarkan resolusi: Israel harus menghentikan agresinya. Tapi Israel masih terus melanjutkan serangannya, baik dari udara, laut, maupun darat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Israel membenarkan serangan mereka terhadap Gaza dengan mengemukakan pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Hamas. Dari Gaza Hamas telah meluncurkan roket-roket ke wilayah Israel. Dua warga Israel tewas. Dengan dalih melindungi negeri dan warganya, Israel membalas – dengan serangan yang jauh lebih dahsyat dan jumlah korban yang jauh lebih besar. Israel pun menuntut Hamas untuk tidak meluncurkan roket-roket lagi ke wilayahnya. Jika tidak, serangan Israel akan terus berlanjut. Dalam pada itu, Israel juga menuduh Hamas berlindung di balik penduduk biasa Gaza dan dengan demikian bertanggungjawab atas korban sipil yang sedemikian banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pihak Hamas justru menyatakan bahwa Israel-lah yang sebenarnya telah melanggar gencatan senjata. Sebagaimana dikatakan Khalid Mish'al, seorang ketua Biro Politik Hamas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama enam bulan, kami Hamas menaati gencatan senjata. Israel melanggarnya berulang kali sejak dari awal. Israel diharuskan membuka perlintasan ke Gaza dan memperluas gencatan senjata ke Tepi Barat. Ia berlanjut dengan mengencangkan pengepungan mematikannya di Gaza, berulang kali memutus aliran listrik dan persediaan air. Hukuman kolektif ini tidak berhenti, melainkan semakin meningkat lajunya – begitu pun dengan pembunuhan dan pembantaian. Tiga puluh warga Gaza dibunuh oleh tembakan Israel dan ratusan pasien meninggal karena dampak langsung pengepungan selama apa yang disebut dengan gencatan senjata itu. Israel menikmati periode tenang. Rakyat saya tidak.”&lt;a href="http://www.nefos.org/?q=node/60" target="new"&gt;klik di sini&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana kita harus menilai dan menyikapinya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama perlu dikemukakan bahwa serangan Israel ke Gaza tidak dapat dipahami dan disikapi lepas dari konteks sosio-historis dan geopolitik yang lebih luas, baik secara diakronik maupun sinkronik. Tentu saja akan terlalu panjang untuk menjabarkan hal ini, bahkan sekadar  memperbincangkan Deklarasi Balfour dan berdirinya Negara Israel sekalipun. Untuk saat ini cukuplah kiranya bila kita mengatakan bahwa dalam analisis terakhir konflik Israel-Palestina berlangsung dalam bingkai imperialisme Barat di Timur Tengah di satu sisi, dan kegagalan nasionalisme Arab yang dikomandani klas burjuisnya serta kebangkrutan fundamentalisme Islam di pihak lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum imperialis Barat (Amerika Serikat dan Uni Eropa) terus berusaha memperkuat pengaruhnya di antara Negara-negara Arab guna kepentingan ekonomi dan politik mereka. Kaum imperialis berhasil menjinakkan klas burjuis nasional yang semula mengibarkan bendera nasionalisme serta memanfaatkan mereka untuk menegakkan pemerintahan yang “demokratis” dan untuk menghadapi elemen-elemen radikal yang membahayakan kepentingan kaum imperialis. Dalam kasus Palestina, tentulah faksi Fatah, dengan Mahmoud Abbas sebagai presiden Palestina. Dalam kasus lain, misalnya Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kaum imperialis dapat mengkooptasi kaum burjuis nasional? Dalam perjuangan merebut kemerdekaan nasional, kaum burjuis nasional sepertinya memainkan peran progresif. Lazimnya mereka tampil di depan guna memimpin pembebasan nasional. Dalam hal ini mereka memang berhadap-hadapan dengan kaum imperialis. Tapi pada satu titik mereka harus mempertimbangkan dua pihak, yang satu kaum imperialis (yang ingin terus menguasai negeri mereka), yang lain klas pekerja (yang menuntut pembebasan dan menginginkan Negara sosio-demokratik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah watak kelas akan sangat menentukan. Baik kaum burjuis nasional maupun kaum imperialis sama-sama  terhisab ke dalam klas burjuis. Sama-sama menghendaki kepemilikan, kontrol, dan akses terhadap alat-alat produksi massal, mereka sama-sama memiliki musuh bersama. Musuh mereka adalah klas pekerja, yang menghendaki agar alat-alat produksi massal tersebut dimiliki, dikontrol, dan diakses secara demokratis. Alih-alih “memaksakan” kemerdekaan nasional tapi harus menyerahkan kepemilikan, kontrol, dan akses itu kepada klas pekerja, kaum burjuis nasional memilih “berdamai” dengan kaum imperialis. Demikian juga sebaliknya. Kaum imperialis tidak rela bila negeri yang biasa atau bisa dieksploitasinya jatuh ke tangan klas pekerja. Karena itu mereka pun memilih “berdamai” dengan kaum burjuis nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu “perdamaian” ini ada harganya:  di satu pihak kaum imperialis memberikan “kemerdekaan” dan mendukung kekuasaan kaum burjuis nasional;  dan di pihak lain kaum burjuis nasional membuka negerinya bagi modal kaum imperialis, menjalankan kekuasaan menurut tatanan yang ditetapkan kaum imperialis, serta merepresi elemen-elemen radikal yang bisa membahayakan kepentingan kaum imperialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain hubungan antara kaum imperialis dengan kaum burjuis nasional, perlu juga diperhatikan kaum fundamentalis Islam. Para pemimpin fundamentalis Islam berasal dari klas feudal dan klas burjuis. Tentu mereka berbeda dengan kaum burjuis nasional. Sementara kaum burjuis nasional cenderung sekuler dan bersikap akomodatif terhadap kaum imperialis, para pemimpin fundamentalis adalah sebaliknya. Tapi seperti halnya kaum burjuis nasional, mereka juga ingin berkuasa. Kekuasaan mereka adalah kekuasaan yang berdasarkan agama. Karena itu Negara yang diidam-idamkan adalah Negara totaliter berbasiskan agama. Dalam Negara totaliter itu, klas feudal dan klas burjuis sama-sama mendapatkan pembenaran agama atas kekuasaan mereka. Dalam pada itu patut pula dikaji: bila kedua klas itu sama-sama berbagi kekuasaan di dalam sebuah Negara totaliter, apakah mereka bisa menjalani hidup bersama secara damai (peaceful coexistence)? Rasanya tidak, sebagai menurut watak kelasnya, kedua klas itu sebenarnya sangat bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungan kaum fundamentalis Islam dengan kaum burjuis nasional dan kaum imperialis? Karena  kaum imperialis dan kaum burjuis nasional mengetahui bahwa kaum  fundamentalis Islam menghasrati kekuasaan, maka kedua belah pihak itu ingin melumpuhkan mereka. Dalam hal ini kaum imperialis dan kaum burjuis nasional beroleh pembenaran dalam aksi-aksi terorisme individual yang dilakukan oleh orang-orang dari kalangan fundamentalis Islam. Tentu saja kaum fundamentalis Islam tidak tinggal diam menghadapi upaya kaum imperialis dan kaum burjuis nasional. Mereka mengadakan perlawanan. Mereka terus melancarkan gerakan untuk menyebarkan idea-idea tentang khilafah. Mereka juga “menunjukkan gigi” dengan melakukan aksi-aksi terror individual. Di Palestina, Hamas nampaknya menjadi sebuah kendaraan bagi kaum fundamentalis (meski kita tidak dapat mengatakan bahwa semua personil Hamas adalah muslim apalagi fundamentalis). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, melalui analisis klas terhadap konteks sosio-historis dan geopolitik konflik Israel-Palestina, agaknya kita dapat memahami mengapa konflik itu terus berlangsung dan mengapa perlawanan Palestina sekian lama tidak juga mendatangkan kemaslahatan bagi rakyatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi-aksi teror individual, yang pernah dilakukan puluhan tahun oleh PLO-nya Yasser Arafat, terbukti gagal mengalahkan Israel dan memerdekakan rakyat Palestina. Kenyataannya, teror-teror individual di satu sisi malah membuat solid klas penguasa Israel. Pasalnya, menjadi sasaran teror-teror itu, rakyat Israel semakin mendukung pemerintahnya. Demikian juga klas pekerja di sana. Di sisi lain,  teror-teror individual justru memperparah penderitaan rakyat Palestina. Pasalnya, karena teror-teror itu Israel merasa beroleh pembenaran untuk mengadakan pembalasan, “menghukum” rakyat Palestina. Bisa jadi Hamas lupa atau malah mengabaikan pelajaran-pelajaran pahit ini. Dengan teror-teror individual yang dilakukannya, termasuk meluncurkan roket-roket yang toh tidak melumpuhkan instalasi militer Israel tapi justru menambah sengsara kehidupan rakyat pekerja di sana, Hamas memperkuat posisi klas penguasa Israel dan memperparah kesengsaraan rakyat Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, perjuangan kaum burjuis nasional yang sudah sama sekali kehilangan élan progresifnya juga tidak lebih baik. Meja-meja perundingan kaum burjuis nasional dengan Israel dan kaum imperialis (yang berpretensi memperlihatkan jasa baik demi hak asasi, demokrasi, kapitalisme, dan perdamaian dunia), sesungguhnya merupakan kapitulasi. Kapitulasi itu secara hakiki (i) tidak memerdekakan rakyat Palestina; (ii) memberikan peluang seluas-luasnya kepada Israel untuk memanipulir perjanjian-perjanjian damai demi kepentingannya sendiri; (iii) menguntungkan kaum imperialis (karena memantapkan pengaruhnya atas pemerintahan boneka burjuis nasional); dan (iv) memberikan sepotong kekuasaan kepada birokrasi burjuis nasional atas negeri dan rakyat Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap bangsa-bangsa yang tergabung dalam Liga Arab dan Organisasi Negara-negara Islam Dunia pun tidak dapat diharapkan. Solidaritas mereka baru sampai pada tahap memprotes, mengecam, atau mengutuk Israel. Kata seorang analis, ngomong doang. Contoh yang paling mencolok adalah Mesir. Ketika pasukan Israel mengebom Gaza, Pemerintah Mesir malah menutup perbatasannya untuk mencegah eksodus rakyat Gaza yang ingin menyelamatkan dirinya dari serangan misil Israel. Menurut laporan BBC London,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ketika pesawat-pesawat jet yang membombardir Gaza Selatan, ratusan rakyat Gaza berlari menuju pagar perbatasan Gaza-Mesir, tetapi pasukan keamanan Mesir menembaki mereka untuk mencegah mereka masuk ke Mesir.” &lt;a href="http:////www.marxist.com/solusi-sosialis-untuk-masalah-israel-palestina.htm" target="new"&gt;klik di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-ihwalnya tak sukar diraba, rezim burjuis nasional atau penguasa feudal mereka sama-sama memiliki kepentingan-kepentingan ekonomiko-politik yang tak terpisahkan dari hegemoni kaum imperialis – baik Amerika Serikat maupun Uni Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lalu bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan pernah mengatakan bahwa dalam situasi seperti ini, Hamas mempunyai empat kemungkinan bertindak. Pertama, meneruskan cara berperang seperti sekarang, yakni terus-menerus melancarkan balasan dengan meluncurkan roket ke wilayah Israel dan melakukan perang kota dengan menjadikan warga sipil sebagai perisai. Dalam skenario ini, perang akan berlangsung lama – dan korban pun kian banyak. Kedua, menghadapi Israel secara terbuka tanpa melibatkan rakyat Gaza. Dalam skenario ini, kata  teman saya, Hamas bersikap ksatria. Perang pun akan berakhir dalam waktu singkat, dengan kekalahan total hampir pasti di pihak Hamas. Ketiga, Hamas menyerah. Tentu saja ini mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi, baik dari kalangan penduduk biasa maupun Hamas sendiri. Tapi ini menyangkut harga diri para pejuang militan itu. Keempat, Hamas (dengan bantuan Iran dan Syria) mempersenjatai segenap penduduk sipil untuk mengadakan “perang rakyat” melawan Israel. Skenario ini akan memperpanjang perang. Mungkin Israel akan gagal menaklukkan Hamas dan Gaza. Tapi ini akan menelan korban sangat besar, baik di pihak Gaza, juga Israel. Lagipula patut diragukan apakah rakyat sipil Gaza siap memanggul senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud menjadikan tragika rakyat Gaza obyek analisis semata, saya cenderung pada perlawanan klas pekerja. Perlawanan ini sama sekali bukan terorisme individual, tetapi aksi-massa revolusioner yang terorganisir di bawah kepemimpinan suatu vanguard party yang benar-benar berwatak klas pekerja. Aksi-massa ini bukan hanya melibatkan klas pekerja Palestina, tetapi juga klas pekerja Israel, Mesir, Libanon, Syria, dan Yordania (yang sama-sama sangat menderita karena krisis keuangan Amerika  Serikat yang telah bermetamorfosis menjadi krisis ekonomi global). Dalam solidaritas internasionalisme yang bercorak sosio-demokratik (bukan sosdem!), klas pekerja di Negara-negara  ini dapat mengadakan pemogokan yang akan melumpuhkan rezim-rezim reaksioner, mendirikan pemerintahan-pemerintahan sosio-demokratik, mengakhiri penjajahan Israel, dan membangun federasi  sosio-demokratik di kawasan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi di Timur-Tengah akan menjadi semakin revolusioner seiring dengan kebankrutan klas burjuis nasional dan fundamentalisme Islam, kian merajalelanya kaum imperialis, dan semakin parahnya penderitaan rakyat pekerja. Yang diperlukan adalah peran kepeloporan kaum sosio-demokratik untuk membangkitkan kesadaran pada rakyat pekerja, peasant (buruh tani dan tani gurem), dan kaum miskin kota sebagai subyek sejarah, serta mengorganisir dan memobilisir mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Kristen Indonesia yang berhaluan sosio-demokratik, saya menyerukan agar serikat-serikat buruh (yang sejati, bukan yang kuning) mengorganisir massa pekerja untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina. Saya menyerukan kepada kaum sosio-demokratik internasional, juga partai-partai sosio-demokratik yang benar-benar ber-garis massa di Palestina, Israel, Syria, Yordania, Lebanon, Mesir, bahkan Iran, untuk bergerak. Saya juga menyerukan agar gereja-gereja di Indonesia untuk menyatakan solidaritas kepada rakyat Palestina. Tentu, kita tidak mendukung kaum burjuis nasional dan/atau kaum fundamentalis yang nota bene telah menjerumuskan rakyat Palestina ke dalam penderitaan yang semakin parah – tapi rakyat Palestina, yang membutuhkan kepeloporan partai-partai yang konsekuen dengan komitmen pemerdekaan yang sejati demi tatanan sosio-demokratis sedunia! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Long live the Palestinians!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-774449206527598356?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/774449206527598356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/harapan-bagi-gaza.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/774449206527598356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/774449206527598356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/harapan-bagi-gaza.html' title='HARAPAN BAGI GAZA'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWsKjyLdcFI/AAAAAAAAAE8/de5m7rBW8Qc/s72-c/Israel-Palestine.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-3390261380825746785</id><published>2009-01-12T15:14:00.000+07:00</published><updated>2009-01-12T15:38:04.453+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik Lokal'/><title type='text'>Music Metal Sebagai Penyeimbang Otak Kiri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWsA17ap09I/AAAAAAAAAE0/RZiVmWeKE1k/s1600-h/CG37.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 175px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWsA17ap09I/AAAAAAAAAE0/RZiVmWeKE1k/s200/CG37.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290323113759331282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Taken from unbound zine volume 3/ Oktober 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Interview with Anto a.k.a Mbah Yo [guitar]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Band baru tapi ber-lineup orang-orang lama. Alumnus generasi awal underground Kudus (1996-1998) ini sepakat untuk membentuk ATASBAWAH setelah masingmasing personil tidak memiliki kesibukan ngeband dan berniat mambangun scene metal Kudus kembali signifikan. Terdiri dari Anto dan Hendra yang merupakan kakak beradik jebolan band cadas Cemetery, Affan dari band hardcore Oddity, Heru dari Rascal Soldier, dan Aziz dari Psycho Funk. Februari 2006 kemarin mereka masuk studio Strato, semarang untuk menyelesaikan debut demo mereka yang bertajuk ‘Vioce of Dissapoinment’. Demo ini terdiri dari lima lagu gahar termasuk ‘Burn in the Curtain of Truth’, ‘Rasa dan Asa’, ‘The End of Everything’, ‘ulse of Life’, dan ‘Awal Kehancuran’. Simak obrolan panjang dengan former member and gitaris, Anto a.k.a Mbah Yo ini untuk lebih mengenal ATASBAWAH, read on...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang membedakan AB dengan band metalcore lainnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara konsep musik mungkin kalianlah yang lebih tau, perbedaan bagi kami lebih pada proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang melatarbelakangi kalian membentuk AB? Ada visi &amp; misi mungkin? Or just having fun?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami memulai ATASBAWAH sebagai aktivitas untuk mengisi keseharian. Seperti kamu ketahui, sebelumnya tiap pribadi sempat bermain dengan band yang berbeda. Diawal terbentuk tidak ada visi dan misi, kami hanya ingin bersenang-senang, bahkan sampai sekarang tidak goal yang harus kami raih. Kami tidak ingin teralienasi!!!!.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Secara lirikal, kalian mengadopsi tema keterpurukan, suram, depresi dan semacamnya. Apakah hal ini sesuai dengan pengalaman hidup kalian, atau hanya imajinasi fiktif kalian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kami sampaikan pastilah sudah tertanam di otak kami, melalui persepsi serta bagaimana kami memandang dunia. Lirik dan gaya bermusik merupakan proyeksi dari sebuah pikiran dan kepribadian walaupun dalam tingkat paling rendah sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa memang tema ini yang kalian pilih sejak awal untuk lirik? Ada batasan-batasan sewaktu kalian bikin lirik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada batasan. Sekali kita membuat limit maka selesai sudah. Sudah sewajarnya kita bersikap homeostastis (mencari keseimbangan). Lagi pula alam pikiran manusia selalu berkembang dan dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalam penyampaian artikulasi lirik, tipe vokal Affan kan gak jelas/screaming, apakah menurutmu arti dari lirik yang kalian tulis akan tersampaikan kepada pendengar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, aku sendiri kesulitan untuk mendengar secara detail apa yang diucapkan oleh Affan. Tapi hal itu aku rasa bukan satu hal yang pokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bisa kalian jelaskan tentang proses kreatif dalam pembuatan lagu kalian? Seberapa pentingkah lirik yang kalian tulis dalam komposisi musik kalian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hendra, heru ataupun aku punya gambaran tentang bagaimana materi baru. Selanjutnya di Affan dan Aziz melangkapi, berlanjut dengan diskusi bagaimana kita harus membawa materi yang baru tersebut. Dalam posisiku di dalam sebuah band aku tidak begitu mementingkan isi lirik. Tapi akan lain jika kamu bertanya pada Affan, demikian juga jika kamu bertanya dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sebagai band metal, apakah hal ini mempengaruhi hidup kalian (lifestyle) atau hanya sebuah Fashion, trend mungkin? Apa makna musik metal bagi kalian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi kami bukan lifestyle atau trend. Seperti halnya jika kamu hidup dalam lingkungan yang serba baru, pasti terdapat penyesuaian-penyesuaian atau semacam adaptasi. Namun kami sangat tidak sepakat apabila metal hanya sebuah fashion, fashion hanya sebuah bagian. Terdapat hal-hal positif yang mempengaruhi kami dalam memandang sesuatu secara berbeda. Akan salah besar bagi kami jika memaknai metal hanya sekedar sound yang low, distortion, scream, double kick, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah image bagi band itu penting?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak terlalu memperdulikan image, kami melakukan apa yang harus kami kerjakan. Terkadang kita harus menghindar sebagai bentuk sikap penolakan atau ketidak setujuan atas sesuatu, namun di sisi yang lain mereka menganggap kita ‘Jaim’ atau apalah, itu terserah mereka. Bagi kami metal atau hardcore juga melingkupi bagaimana kita bersikap dan berperilaku serta pola pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenapa kalian memilih jenis musik cadas ini dalam bermusik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari segi musik pastilah kamu tau sendiri bagaimana komposisi musik cadas itu sendiri. Ada energi yang harus kami salurkan dan sublimasi adalah hal tepat dimana energi negatif diubah menjadi hal-hal yang positif. Selain itu itu sebagai penyeimbang otak kiri, wilayah metal merupakan media yang paling tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaiman menurutmu kondisi scene metal di kota Kudus saat ini dibandingkan 7-8 tahun yang lalu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sangat jauh banget, dulu audien sangat banyak pada setiap gigs. Sekarang sangatlah sepi, namun walau demikian justru saat ini kami menyadari bahwa apa yang kami lakukan dulu mengandung beberapa kekeliruan terlepas dari kebenaran yang kami yakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dan ngomongin scene rock secara umum di kudus sendiri gimana menurutmu? Apa kekurangan dari scene kita? Apa yg harus dilakukan buat anak-anak scene rock di kota kita ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Scene rock yang mana dulu? Kalau scene rock sebagai antitesis dari RnB, pop atau apalah saat ini sudah tampak dan mulai ada gejala perlawanan, walaupun dalam kadar minimal sekalipun. Akan tetapi jika bicara scene rock yang didalamnya terdiri dari elemen band, audien, fans serta gigs yang mengusung genre rock dalam arti sebenarnya, disini jelas ga ada sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tolong ceritakan, tentang proses pembuatan demo kalian, VOD? puas dengan hasil recording VoD?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ehhmm. Awal Februari kita masuk studio recording di STRATO Semarang, huh.. capek banget dua minggu bolak-balik Kudus-Semarang. Tapi ya senang juga, hehehe... Kalo soal hasil kami cukup puas karena memang ini lah hasil kreatifitas kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sudah berapa kopi demo kalian? Sampai mana aja? Bagaimana respon pendengar terhadap Demo itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah mengirimkan sekitar 100 copy CD Demo ke berbagai kota di Indonesia, kalo soal respon banyak yang bilang bagus seehh... walah.. heheheh... tapi banyak juga saran dan kritik juga sangat membantu perkembangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Singel mana yang kalian andalin dalam demo ini? Oh ya kalian kan turut serta dalam kompilasi ”Cadas Tanpa Batas”, bisa ceritain kompilasi ini dan band apa aja yang turut serta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada singel yang kami andalkan dalam demo ini, tapi ada beberapa lagu yang kami suka terutama The end of Everything. Lagu tersebut yang sering di puter di radio lokal kudus. Kalo soal ‘Cadas Tanpa Batas’ adalah kompilasi yang di produksi oleh DAPPROS, label rekaman dari Solo, disitu ATASBAWAH ikut serta meramaikan kompilasi bersama beberapa band yang berasal dari beberapa kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang mau kalian sampaikan lewat album ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ga ada yang khusus banget inilah hasil dari proses kreatif. Tapi pastinya kamu tau sendiri kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Iya sih aku tau, tapi buat yang lainnya yang nggak tahu gimana boss??.&lt;br /&gt;Dimana, pada situasi gimana untuk mendengarkan demo VoD?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siang hari saat udara begitu panas, pengap dan gerah serta sehabis kamu bertengkar dengan pacar. Atau di saat weekend di pagi hari maupun sore di waktu kamu benar-benar merindukan kekasihmu. Terserah kalian aja mau ngedengerin dimanapun dan kapanpun, tidak ada tips khusus dari kami, hehehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Band yang meng-influence AB?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Caliban, As I Lay Dying, Lamb of God, dan beberapa band metal dari beberapa genre yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa kendala AB saat ini dalam proses bereksistensi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terus terang kami sering kali ketinggalan info-info yang up to date dikarenakan tau sendiri lah scene di Kudus sepi... jadi kita dapat infonya ya dari internet terutama semarangonfire.com, makasih ya semarangonfire....bukannya sebagai rasionalisasi terus kita nyalahin scene disini, gedhe enggaknya scene itu juga tergantung dari seberapa besar kontribusi kita dan temanteman yang lain juga. Masing-masing dari kita sekarang ga bisa secara totalitas seperti dulu waktu kita masih sekolah. Justru sekarang ini masing-masing harus kerja dan menjalankan rutinitas buat ngidupin ATASBAWAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kapan kalian mengeluarkan full album? Bisa kasih bocoran materinya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Paling cepet awal 2007, molor-molornya semester ke dua!!!! saat ini sudah siap empat materi yang pastinya akan sangat berbeda dengan VoD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa pengaruhnya bagi band kalian sehubungan dengan kondisi ekonomi negara kita yang belum kondusif, tapi dilain sisi sangat kontradiktif dengan teknologi informasi yang masif, seperti keberadaan informasi internet dan perangkat elektronik yang selalu ter-up grade?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ekonomi negara kita tentunya sangat berpengaruh bagi kami, tapi kita tidak mau terpaku dengan kondisi tersebut, kita akan tetap survive!!! Dan jelasnya kami sangat tidak sepakat dengan kebijakan ekonomi yang diterapkan rezim sekarang, karena begitu jelasnya menghamba pada kapitalisme global. Kalo soal perkembangan teknologi kita tidak bisa menolak adanya perkembangan teknologi tersebut, dan internet sangat membantu kami dalam memperoleh pengetahuan yang baru. Dengan catatan perkembangan teknologi tidak membawa kerugian bagi manusia sendiri seperti penciptaan alien-alien baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Harus ada keseimbangan ya mbah, Teknologi dapat membantu kehidupan manusia tapi juga bersifat mengalienasi, mengisolasi, merusak sekaligus membodohi. Teknologi mampu mempersempit spirit manusia tapi juga dengan kekuatannya bisa mendekatkan kita akan esensi dari apa yang dilakukan teknologi terhadap kehidupan ...hhssssaaah!!.&lt;br /&gt;Pertanyaan selanjutnya, menurutmu apa yang menentukan sebuah band itu disebut band yang berkualitas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wah kalo itu tergantung setiap orang untuk menilainya, setiap orang tentunya punya alasan alasan dan sudut pandang sendiri dalam menilai sesuatu. Tapi menurut subjektivitas kami, kualitas ga hanya sekedar sound, teknik, performance dan rilisan yang berhasil pada tingkat audien. Akan tetapi lebih dari itu, kualitas suatu band juga ditentukan dengan pola pikir, eksistensi, cara pandang mereka dalam tataran sosial, serta sikap kritis serta perilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang harus dilakukan sebuah even organizer untuk mengundang kalian maen?&lt;br /&gt;Dimana best gig bagi kalian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami fleksibel bos.....seminimal mungkin transport PP dan akomodasi, dan yang utama kami harus dalam posisi off dari aktivitas keseharian. Kalo soal gigs yang paling berkesan di Ventura Semarang karena saat itu kami maen pas tengah malam, seperti uji nyali aja,, hehehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ngomongin soal politik nih, beberapa diri kalian kan aktif berpolitik praksis, apakah hal ini berpengaruh bagi band kalian?. Dari sisi mana hal-hal politis ini mempengaruhi band kalian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yup, hal itu sangat berpengaruh terhadap cara dan bagaimana kami mengambil sudut pandang terhadap suatu soalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa kalian kadang turut serta dalam demonstrasi politik, turun kejalan misalnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dari kami sering bahkan aktif dalam politik jalanan dengan catatan isu yang diangkat satu visi dengan kami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah band yang mengusung tema politis bisa cukup berperan bagi perubahan kondisi suatu masayarakat/negara misalnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau bandnya punya distribusi yang luas, mampu berpropaganda dan menembus media aku yakin bisa kok. Namun juga tidak tertutup kemungkinan bagi band indie untuk melakukan suatu perubahan lewat kritik sosial yang mereka sampaikan. Karena aku yakin justru pada band-band semacam inilah propaganda betul-betul mengena pada audien yang basicly sudah militan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana pendapatmu tentang konsep neoliberalisme ekonomi yang diadopsi pemerintah kita, apa yang harus kita lakukan terhadap globalisasi ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;TOLAK NEOLIBS !!!!!! FUCK ABOUT IT!!! Organisir diri dan lingkungan kalian!!!!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana menurutmu generasi muda di sekitarmu dilihat secara sosio politik?&lt;br /&gt;Apakah berpolitik praksis masih relevan bagi generasi saat ini? Why?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak akan menilai dengan parameter aku pribadi, karena kami bukanlah yang benar. Namun kamu sendiri sekarang bisa melihat sikap mereka terhadap sinetron dibanding dengan berita, minat terhadap bacaan, kepekaan terhadap isu sosial, tingkat konsumsi dan masih banyak lagi. Masih relevan kok, revolusi itu dimulai oleh kamu muda!!!! karena mereka yang tua pastilah konservatif, terbentur norma dan tatanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konsumtif, Shopaholik ha!!. Generasi yang mencari jati diri dengan mengedepankan pertimbangan emosional, seperti gengsi ha!. Menaikan status dengan apa yang mereka konsumsi dan pakai. Barang bermerek terkenal dan mahal menjadi salah satu ukuran, apalagi yang lagi ngetrend, uh!. Sedangkan sekelilingnya masih banyak kemiskinan &amp; kebodohan, dilema dunia ketiga, bos!!. Generasi yang menjadi tempat buangan sampah yang sangat prospektif untuk produk-produk bermerek internasional.&lt;br /&gt;Terus, mengenai RUU APP, Pro or Kontra? alasannya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;RUU APP auuuuoooh, Jelas kontra lah. Porno atau tidak itu pada tataran ide. Bagaimana orang mempersepsikan sesuatu itulah yang kan menentukan porno atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kembali ke AB, apakah band lama kamu Cemetery masih membayangimu? Karena bagaimanapun orang yang udah tau Cemetery pasti akan membandingkan dengan musik AB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasan kenapa ATASBAWAH terbentuk karena Cemetery saat itu sudah tidak mampu lagi menjadi kendaraan bagi semua dorongan dan kanalisasi kognitif, afektif serta konatif. Jadi jika ada kemiripan itu bukan suatu yang menakjubkan, karena arus yang sama namun determinasi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Next, Apa kalian akan menggantungkan hidup dari band ini? Optimis dengan masa depan AB?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak sama sekali. AtasBawah-lah yang harus kami hidupi!!!. Karena AtasBawah adalah bagian dari aktivitas kita, selain itu, band ini merupakan salah satu cara kami bersenang-senang. Beberapa dari kami sudah bekerja dengan uang yang cukup bagi orang seusia kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;OK, thank you so much for doing this answer, kasih komentar buat pembaca dan sukses terus buat AB, you rules!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yup, makasih buat Unbound, buat pembaca kami jangan bosan-bosan untuk memberi saran dan kritik karena akan sangat membantu perkembangan kami. Kunjungi situs kami di www.atasbawah.cjb.net dan untuk e-mail, friendster, atau myspace ke alamat atasbawah_metal@yahoo.com. Keep on Struggling .!!! \m/  ..Have a nice day.... !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-3390261380825746785?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/3390261380825746785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/music-review.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/3390261380825746785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/3390261380825746785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/music-review.html' title='Music Metal Sebagai Penyeimbang Otak Kiri'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWsA17ap09I/AAAAAAAAAE0/RZiVmWeKE1k/s72-c/CG37.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-3772982471650829256</id><published>2009-01-12T13:53:00.000+07:00</published><updated>2009-01-12T15:13:01.380+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik Lokal'/><title type='text'>Meramu musik berat ala metal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWr7LKiaqmI/AAAAAAAAAEs/q3jlk5U5Bsk/s1600-h/CG33.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 151px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWr7LKiaqmI/AAAAAAAAAEs/q3jlk5U5Bsk/s200/CG33.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290316881525910114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terbentuk awal Februari 2004, ATASBAWAH memposisikan diri sebagai band eklektik dalam hal ini meramu musik berat ala metal dengan nada-nada penuh semangat yang merupakan senyawa dari musik hardcore. Dibentuk oleh Affan (ex-Oddity) pada vokal, Heru (ex-rascal Soldier),  pada guitar, dan Duo bersaudara ex-member dari band Cemetery, anto (guitar) dan Hendra pada bass. Untuk formasi awal ini mereka masih memakai adisional drummer, Arifin.&lt;br /&gt;Nama ATASBAWAH dipilih berangkat dari refleksi pemaknaan hidup, pencarian jati diri, pemuasan ego dan relasi berkehidupan antar sesama yang kadarnya selalu mengalami fluktuasi naik turun, kadangkala memposisikan diri kita berada diatas, tidak bisa kita pingkiri ataupun kita tolak, kita juga harus jalani ketika kita terpuruk dibawah.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, ATASBAWAH harus menentukan pilihan untuk memiliki seorang drummer tetap sebagai faktor pendukung keseriusan dan progresi karir bermusik, maka pilihan jatuh pada Aziz yang sebelumnya sempat berada di band Psycho Funk. Segera setelah memiliki formasi komplit ATASBAWAH mulai mengumpulkan materi lagu sendiri. &lt;br /&gt;Februari 2006 ATASBAWAH berhasil merampungkan mini album (EP) berbertitel “voice of dissapontment” yang direkam di Strato studio. Rilisan ini ditujukan buat promosi dan demo sebagai tanda dimulainya eksistensi diri ATASBAWAH di scene musik.&lt;br /&gt;Mini album “voice of Dissapoinment” merupakan debut yang dipakai ATASBAWAH sebagai bahan intropeksi kadar musikalitas mereka untuk melangkah kedepannya. Disela-sela jadwal show dan kesibukan pribadi tiap-tiap personilnya mereka mengumpulkan materi untuk dikoleksi menjadi sebuah album penuh. Namun sayang beberapa bulan setelah merilis EP ini Heru keluar dari ATASBAWAH karena persoalan pribadi.&lt;br /&gt;Keluarnya Heru tidak membuat semangat ATASBAWAH tereduksi namun determinasi membuat album penuh tetap berjalan. Diantara jeda mengumpulkan materi untuk album penuh (LP), ATASBAWAH mengeluarkan single EP bertitel “hamparan jiwa”, dirilis bulan November 2007, direkam di unbound studio (sekarang Murvals studio) dan finch studio.&lt;br /&gt;Untuk memperkuat divisi sound guitar agar lebih intens, ATASBAWAH merekrut Iit a.k.a Berux (member dari Brooklyn dan Zero Parade) mengisi rhythm dan lead guitar.&lt;br /&gt;Untuk album penuh (LP) ATASBAWAH akan dirilis oleh Murvals Records yang rencananya akan siap beredar pada bulan Februari 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATASBAWAH line up:&lt;br /&gt;Affan  : vokal&lt;br /&gt;Anto   : guitar&lt;br /&gt;Hendra         : bass&lt;br /&gt;Iit Berux : Guitar&lt;br /&gt;Aziz  : drum &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskografi:&lt;br /&gt;- Voice Of Dissapoinment demo ’06 (self released)&lt;br /&gt;- Kompilasi “Cadas Tanpa Batas” (Dappros Production ’06)&lt;br /&gt;- Hamparan Jiwa EP’07 (self released)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Check atasbawah info&lt;br /&gt;www.myspace.com/atasbawah&lt;br /&gt;www.friensdster.com/atasbawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;link:&lt;br /&gt;www.myspace.com/murvalsrecords&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kontak booking:&lt;br /&gt;murvals@gmail.com&lt;br /&gt;telp: 085865701769 (Gunawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-3772982471650829256?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/3772982471650829256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/meramu-musik-berat-ala-metal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/3772982471650829256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/3772982471650829256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/meramu-musik-berat-ala-metal.html' title='Meramu musik berat ala metal'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWr7LKiaqmI/AAAAAAAAAEs/q3jlk5U5Bsk/s72-c/CG33.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-5305205098887161141</id><published>2009-01-08T12:48:00.000+07:00</published><updated>2009-01-16T16:07:56.261+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM HASAN AONI'/><title type='text'>SRIGALA-SRIGALA BISNIS ROKOK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWWUFoEzgYI/AAAAAAAAAEk/LfN4Rm6IZew/s1600-h/16lpltn+kds-H35.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWWUFoEzgYI/AAAAAAAAAEk/LfN4Rm6IZew/s200/16lpltn+kds-H35.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288796161794343298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Hasan Aoni Aziz US&lt;br /&gt;Pemerhati sosial dan energi, tinggal di Kudus&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM perlindungan terhadap bahaya rokok, masyarakat Indonesia diilustrasikan oleh Direktur International Legal Consorsium Tobacco Free Kids Patricia Lambert, sebagai seekor ayam dalam satu kandang dengan dua srigala. Srigala itu pemerintah dan pebisnis rokok (Koran Tempo, 20/11/08).&lt;br /&gt;Pemerintah, kata Lambert, harus menyelamatkan masyarakat dengan mengurung srigala dalam kandang sendiri. Tapi, siapa yang bisa mengurung jika pemerintah sendiri dianggap srigala?&lt;br /&gt;Pandangan Lambert adalah satu dari berbagai kelompok gerakan anti-rokok yang eksesif menekan pemerintah, terutama sejak WHO mengeluarkan konvensi perlindungan terhadap tembakau atau framework convention on tobacco control (FCTC) tahun 2004. Di dunia, gerakan ini telah berhasil menundukkan berbagai kepala pemerintahan untuk membatasi peredaran rokok.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kini sudah 168 negara meratifikasi FCTC. Indonesia satu-satunya negara di Asia-Pasifik yang belum meratifikasi. Kendati demikian, jika melihat perkembangan di dalam negeri dalam tiga tahun terakhir, pukulan terhadap pebisnis rokok mulai terasa.&lt;br /&gt;Di Indonesia, beberapa pemerintah daerah – dimulai DKI Jakarta – memberlakukan ruang kedap asap rokok dengan denda paling mahal di dunia. Lalu Bogor, Surabaya dan beberapa daerah lain menyusul. Terakhir MUI, atas permintaan Komisi Perlindungan Anak, berencana membahas fatwa haram rokok, Januari 2009.&lt;br /&gt;Perkembangan ini menguatirkan para pebisnis rokok. Dengam istilah sama, kelompok gerakan anti-rokok plus pemerintah melalui aturan pembatasan rokok dan pemberlakuan cukai tinggi, juga dapat menjelma menjadi pemangsa bisnis rokok. Mereka dapat menjadi ”srigala” atas srigala.&lt;br /&gt;Phillip Morris pada 1985 pernah berkata: ”of all the concerns, there is one – taxation– that alarms us the most”. Jika ia menyatakan sekarang, sangat mungkin gerakan ati-rokok menjadi faktor kedua paling merisaukan.&lt;br /&gt;Bagaimana memahami kondisi ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelarangan Merokok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arsip sejarah pelarangan rokok di dunia, seperti dicatat Jeremy Richards (www.smokersclubinc.com), telah datang dan pergi lebih dari 400 tahun. Dimulai tahun 1575 ketika pertama kali Gereja Katolik Roma melarang merokok di sepanjang tempat ibadah di seluruh jajahan Spanyol. Lalu Sri Paus ke-VIII pada 1600-an mengancam mengucilkan mereka yang merokok di tempat suci.&lt;br /&gt;Seperti gelombang tsunami, pelarangan rokok menyapu semua belahan dunia. Negeri China pada 1612 membuat keputusan menanam dan menggunakan tembakau adalah perbuatan jahat yang dapat dipenggal kepala. Kaisar Mongolia pada 1617 meneruskan memberlakukan hukuman mati bagi para pelanggar. Demikian juga Jepang pada 1620.&lt;br /&gt;Di Amerika, ketika Pemerintah Massachussets memperkenalkan larangan merokok di tempat umum tahun 1632, rokok telah ”dibunuh” di negeri asalnya. Suku Asli Amerika, Indian, adalah pencipta pertama kali rokok. Asap rokok bagi suku ini, seperti terdapat pada suku Jawa kuno, adalah media pemanggil dewa-dewa. Almarhum Adolf Hitler, pemimpin Nazi dan ekstrimis anti-rokok pernah berkata, ”rokok adalah kegusaran orang Indian Amerika melawan orang kulit putih”.&lt;br /&gt;Larangan merokok mulai surut pada abad ke-18 hingga akhir abad ke-19 sejak bisnis rokok menjadi sumber pendapatan pemerintah. Tapi, bersamaan dengan gerakan anti-minuman keras, gerakan anti-rokok kembali muncul akhir abad ke-19 ketika beberapa negara kembali memberlakukan larangan merokok.&lt;br /&gt;Dapatkah pemberlakuan batasan merokok yang kini menjadi tren hampir banyak negara akan kembali redup seperti arsip sejarah di masa lalu? Sejak pemberlakuan FCTC, agaknya aturan pembatasan merokok sulit kembali mengendur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Melarang dengan Solusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gerakan anti-rokok di dalam negeri mengusung dua agenda utama, yaitu perlindungan kesehatan bagi perokok pasif dan penyelamatan ekonomi perokok miskin. Dalam ruang debat antara gerakan anti-rokok dengan kalangan industri rokok, pergesekan pandangan seringkali terjadi.&lt;br /&gt;Kelompok anti-rokok mengatakan, ketaktegasan pemerintah terhadap aturan pembatasan merokok dapat mengakibatkan korban-korban pasif rokok, terutama ibu dan anak. Data-data korban paparan asap diungkapkan dengan meminjam laporan departemen kesehatan dan lembaga kedokteran Indonesia.&lt;br /&gt;Pebisnis rokok dan para pembelanya berkelit. Pelarangan rokok yang eksesif akan membuat ratusan ribu, bahkan jutaan buruh rokok dan petani tembakau gagal mempertahankan pekerjaannya. Dengan nada emosional pada suatu debat di televisi swasta, ketua sebuah serikat pekerja rokok bahkan harus mengatakan, kematian bisnis rokok akan membuat para buruh memilih menjadi wanita tuna susila.&lt;br /&gt;Singkatnya, bagi kelompok anti-rokok, asap rokok harus dibenci. Jika perlu diharamkan sekalian. Logika kalkulasinya, dampak buruk ekonomi akibat rokok lebih besar dibanding dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan akibat kematian bisnisnya. Jadi, mengapa harus dipertahankan?&lt;br /&gt;Pemikiran ini bisa benar secara kalkulatif. Tapi, membiarkan buruh dan petani tembakau kehilangan pekerjaan tanpa substitusi, juga bukan pemikiran arif. Ini hanya akan menjebak kelompok anti-rokok tidak perduli terhadap efek domino yang ditimbulkan.&lt;br /&gt;Tentu kita tidak ingin mendengar, ”Substitusi pekerjaan buruh bukan wilayah kami. Merekalah yang harus mengakhiri untuk apa yang mereka mulai.”&lt;br /&gt;Saya kira kita perlu mengembangkan sikap baru gerakan pembatasan rokok dengan menempatkan jutaan buruh dan petani tembakau dalam perspektif “korban”. Dalam setiap kebijakan, posisi mereka seringkali rentan terperosok menjadi korban.&lt;br /&gt;Penyusunan proposal substitusi kerja kepada pemerintah dan pebisnis rokok bagi buruh dan rokok penting dikembangkan. Berdasar pengalaman, pembatasan merokok di berbagai tempat di dunia telah mengerutkan pasar rokok dan membangkrutkan beberapa perusahaan.&lt;br /&gt;Rokok sigaret kretek tangan (SKT), misalnya, jika dikenakan prinsip “yang berkadar tinggi dikenai cukai tinggi”, dapat menggebug pasar rokok tanpa filter secara signifikan. Pebisnis rokok lalu mengganti tangan-tangan terampil buruh dengan mesin. &lt;br /&gt;Residu ketenagakerjaan akan terjadi. Mengingatkan kita pada deskripsi perih PH Fromberg tentang marginalisasi buruh dan petani tembakau di tengah survival pemerintah dan pebisnis rokok (James R. Rush, 2000).&lt;br /&gt;Proposal substitusi kiranya dapat mengisi ruang kosong program gerakan anti-rokok. Sehingga, kelak buruh dan petani tidak akan mengatakan bahwa “pemangsa” yang menghentikan makan kami adalah mereka yang dahulu melarang rokok.&lt;br /&gt;Kudus, 24-11-2008, diperbaharui 19-12-2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-5305205098887161141?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/5305205098887161141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/srigala-srigala-bisnis-rokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/5305205098887161141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/5305205098887161141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/srigala-srigala-bisnis-rokok.html' title='SRIGALA-SRIGALA BISNIS ROKOK'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWWUFoEzgYI/AAAAAAAAAEk/LfN4Rm6IZew/s72-c/16lpltn+kds-H35.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-4680614392542038964</id><published>2009-01-08T12:41:00.000+07:00</published><updated>2009-01-16T16:07:56.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM HASAN AONI'/><title type='text'>ZARAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWWTF7GJflI/AAAAAAAAAEc/AfGXQWDhNMg/s1600-h/16lpltn+kds-H35.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWWTF7GJflI/AAAAAAAAAEc/AfGXQWDhNMg/s200/16lpltn+kds-H35.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288795067388624466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Hasan Aoni Aziz US&lt;br /&gt;Pemerhati sosial dan energi, tinggal di Kudus&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (al-Zalzalah – Kegoncangan, Surat 99:8)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATAS nama butiran zarah, debu, atau atom-atom uranium yang bertubrukan dalam tabung reaksi – dalam skala raksasa kita kenal dengan pembangkit energi bertenaga nuklir, lingkungan kita telah dipertaruhkan untuk sebuah kecemasan bernama kelangkaan energi.&lt;br /&gt;Dalam bentuk dan definisi wadag zarah-zarah berubah nama menjadi semen atau pasir. Ketiganya, uranium, semen dan pasir, sepanjang 2008 menjadi isu lingkungan paling mengguncang masyarakat Jawa Tengah dan DIY.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keributan seolah tak bisa dihindari setiap keinginan membangun zarah, semen dan pasir itu di masyarakat. Penduduk di sekitar pantai selatan Kulonprogo Jogjakarta, demi mempertahankan ladang-ladang mereka, bersimbah darah melawan pemodal yang ingin menambang pasir besi.&lt;br /&gt;Di Pati, warga sedulur sikep melawan pemerintah lokal dan Semen Gresik yang akan menambang karst di dekat sawah mereka. Di hadapan Gubernur Jateng Bibit Waluyo, Mbah Tarno, tokoh sedulur sikep itu, mengatakan, ”aku ora ngekon, yo ora ngrawehi,” (saya tak menyuruh, juga tidak melarang). Mengingatkan perlawanan diam pemimpin mereka bernama Samin Santiko di zaman Belanda dulu.&lt;br /&gt;Amuk warga atas rencana penambangan pasir besi juga terjadi di Desa Balong Jepara. Warga yang selama ini gagah berani menolak pembangunan PLTN Fissi Muria di tapak desa itu, melawan pemerintah lokal dan pemodal.&lt;br /&gt;Setara PLTN, semen dan pasir akan mengubah wajah lingkungan menjadi muram. Kecuali kita tetap menjaganya dari kecurangan AMDAL dan pencurian alam.&lt;br /&gt;Mengapa harus menolak? Jawabannya dikatakan penganjur nuklir Alvin M. Weinberg. Kata Weinberg, menerima PLTN, sama membuat perjanjian dengan Iblis. Mengingatkan kita pada sebuah opera “Faust” karya Charles Gounod. &lt;br /&gt;Faust, filsuf renta yang tipis harapan hidupnya setelah buntu memecahkan masalah keilmuan, mendapati Marqeurite yang cantik di bawah jendela loteng tempat dia bersiaga bunuh diri. &lt;br /&gt;Ia terpesona kecantikan gadis itu lalu membuat perjanjian dengan Iblis Mephistopeles. Sang Iblis menjanjikan cinta Marqeurite untuk Faust, hanya jika Faust menyerahkan pengabdian sepanjang hidupnya untuk Mephistopeles.&lt;br /&gt;Seperti nama surat tentang dosa sebutir zarah itu, kerusakan lingkungan adalah al-zalzalah. Kejahatan terhadap alam akan dihitung sebanyak butiran zarah yang mereka ciptakan.&lt;br /&gt;Kudus, 07 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-4680614392542038964?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/4680614392542038964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/zarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/4680614392542038964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/4680614392542038964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/zarah.html' title='ZARAH'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SWWTF7GJflI/AAAAAAAAAEc/AfGXQWDhNMg/s72-c/16lpltn+kds-H35.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-3283679540281638221</id><published>2009-01-02T12:20:00.000+07:00</published><updated>2009-01-02T12:30:41.113+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>MEMAHAMI BUNG KARNO *</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SV2mQu3D35I/AAAAAAAAAEU/mEuxs2vmeGY/s1600-h/sukarno_1692a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 164px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SV2mQu3D35I/AAAAAAAAAEU/mEuxs2vmeGY/s200/sukarno_1692a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286564343989919634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PEMIKIR, PEMIMPIN DAN GURU BANGSA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adalah Mbah Tries namanya, dalam suatu jagong di warung makan milik istrinya banyak berceloteh tentang Sukarno (Bung Karno). “Tidak ada satu pemimpin pun di Indonesia sekarang ini yang bisa menandingi kehebatan Bung Karno. Dia adalah tokoh revolusioner sejati yang pernah ada di Indonesia”, Jelas pelaut yang lama tidak berlayar ini sambil memandang foto usang Sukarno yang terpaku di dinding warung kayu istrinya.&lt;br /&gt;Bagi mereka yang banyak membaca dan mempelajari sejarah berbagai bangsa di dunia akan bisa melihat bahwa keagungan sosok dan citra Bung Karno itu sejajar dengan keagungan sosok pemimpin-pemimpin besar lainnya seperti Sun Yatsen, Mao Tsetung, Chou Enlai, Ho Chiminh, Jawaharlal Nehru, Abdul Gamal Nasser, Joseph Bros Tito, Che Guevara, Ernest Mandela. &lt;br /&gt;Ir. Sukarno atau yang dikenal dengan nama Bung Karno dalam lembaran sejarah ketatanegaraan Indonesia tercatat sebagai presiden pertama Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang di bacakan bersama Bung Hatta kemudian juga menempatkannya sebagai Bapak Proklamator, dan juga sebagai Bapak Bangsa (Founding Fathers) karena semangatnya untuk menumbuhkan jati diri bangsa Indonesia yang sejati. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukarno yang lahir 6 Juni 1901 dari ayah, seorang priyayi jawa bernama Raden Sukemi Sosrodiharjo, sangat kental diwarnai sinkretisme ajaran Kejawen. Ayahnya menemukan jodoh di Bali, yakni Idayu Nyoman Rai, seorang wanita dari kasta Brahmana. Perkawinan itu tidak direstui oleh keluarga Idayu karena sang mempelai pria bukan dari keturunan Brahmana. Di Bali, Raden Sukemi yang mendapatkan sertifikat untuk mengajar sekolah pribumi, sempat menjadi asisten professor Van Der Tuuk, Sarjana Belanda ahli bahasa Indonesia, yang giat meneliti bahasa Bali. Kakak perempuan Sukarno, Soekarmini, lahir di Singaraja-Bali, sedangkan Sukarno sendiri lahir di Surabaya dengan nama Kusno Sosro Sukarno.&lt;br /&gt;Sukarno kecil sangat menyukai pertunjukan wayang kulit dengan kisah-kisah dari Ramayana maupun Mahabarata. Ia sangat terpengaruh oleh kisah-kisa tersebut. Sehingga Sukarno sangat menyerap ajaran-ajaran Kejawen yang diutarakan lewat wayang. Ia mendapatkan semua itu dari kakeknya, Raden Hardjodikromo di Tulungagung, dari ayahnya di Mojokerto dan juga dari Wagiman, seorang petani. Melalui ayahnya pula, Sukarno diperkenalkan pada ajaran-ajaran teosofinya Annie Besant, Madame Blavatsky dan WQ Judge. Kelak, ketika Sukarno telah menjadi presiden, ajaran-ajaran tersebut sangat berpengaruh dalam mewarnai kebijakan politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. &lt;br /&gt;Dalam proses berjalannya waktu Bung Karno yang berumur 25 tahun telah membuat tulisan (dalam tahun 1926) yang sangat panjang dan bagus sekali, yang berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Tulisan yang merupakan dokumen politik yang bersejarah ini, yang aslinya termuat dalam Suluh Indonesia Muda dalam tahun 1926, dan dapat di baca sekarang ini oleh siapa saja dalam buku Dibawah Bendera Revolusi Jilid Pertama. Dalam tulisan panjang yang  terdiri dari 23 halaman ini Bung Karno telah menuangkan prinsip-prinsip besar gagasannya mengenai persatuan bangsa. Dari tulisan yang dibuatnya dalam usia semuda itulah kita semua bisa melihat dengan jelas pendiriannya tentang pentingnya persatuan (atau kerjasama) antara nasionalisme, Islamisme dan Marxisme dalam perjuangan rakyat di Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme.&lt;br /&gt;Marhenisme &lt;br /&gt;Marhainisme di ambil dari nama sosok petani miskin yang ditemui oleh Bung Karno. Kondisi memprihatinkan dari petani miskin itu memberikan inspirasi bagi sukarno untuk mengadopsi gagasan tentang kaum proletas yang dari marxisme. Banyak yang menyatakan bahwa Marhainisme merupakan marxisme yang diterapkan di Indonesia. Sejak 1932, ideologi Marhaenisme telah mewarnai wacana politik di Indonesia. Dalam bukunya berjudul Indonesia Menggugat, Sukarno sangat menekankan pentingnya penggalangan massa untuk sebuah gerakan ideologis. Menurut penafsiran Sutan Syahrir, Marhaenisme sangat jelas menekankan pengumpulan massa dalam jumlah besar. &lt;br /&gt;Karena kegiatan politiknya pada tahun 1930 Bung Karno ditahan pemerintah kolonial dan kemudian dijatuhi hukuman selama 4 tahun. Pidato pembelaannya di Landraad Bandung yang diberi judul Indonesia Menggugat menggegerkan dunia internasional, sehingga pemerintah kolonial pada tanggal 31 Desember 1931 terpaksa membebaskan Bung Karno sebelum masa hukumannya selesai. Sekeluarnya dari penjara Sukamiskin ternyata kegiatan Bung Karno tidak berkurang. Bahkan beliau memutuskan masuk ke Partindo (Partai Indonesia), dan memimpin majalah partai yang radikal, Fikiran Ra'jat. Tahun 1934 Bung Karno diasingkan ke Ende (Flores), dan kemudian pada tahun 1938 dipindahkan ke Bengkulu.&lt;br /&gt;Dalam pergerakanya kemudian Bung Karno menegaskan bahwa seorang Marhaenisme haruslah menjadi seorang revolusioner social, bukan menjadi revolusioner borjuis. Ini yang yang kemudian menjadi penekanan dalam tiap gerak organisasi.&lt;br /&gt;Indonesia Merdeka&lt;br /&gt;Sejak di Ende Bung Karno mendirikan perkumpulan sandiwara yang diberi nama Kelimutu, dan sempat mementaskan cerita-cerita karangannya, seperti "Dr. Syetan" dan "1945". Kegiatan itu diteruskan di Bengkulu. Bahkan di tempat pengasingan yang baru itu Bung Karno aktif dalam kegiatan pendidikan lewat Muhammadiyah. Pada tanggal 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno menyampaikan gagasannya tentang Pancasila, sebagai dasar falsafah negara Indonesia Merdeka. Dalam akhir persidangan BPUPKI, sila-sila dalam Pancasila itu disahkan untuk dimasukkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.&lt;br /&gt;Setelah mengetahui bahwa Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu, pada tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia di halaman rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Sehari kemudian, dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia Bung Karno secara aklamasi dipilih menjadi presiden pertama Republik Indonesia. &lt;br /&gt;Itulah kenapa dikatakan bahwa bung Karno dan 17 agustus 1945 adalah satu. Bahwa setiap peringatan kemerdekaan Indonesia ini betapa besar peran Sukarno di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi Belum Selesai&lt;br /&gt;Sesudah kunjungannya ke China tahun 1965, Sukarno terlihat tampak sangat mengagumi sosok Mau Tse Tung, terutama Cao En Lai. Pada kurun ini juga terbangun aliansi Internasional. Poros Jakarta-Pyongyang-Peking yang di bangun saat Sukarno Berkuasa yang juga melahirkan Demokrasi Terpimpin, bisa memberi gambaran jelas bahwa perjuangan setelah merdeka dari penjajah masih harus dilakukan. Untuk kemudian bisa memerdekan juga kemerdekaan negara-negara terjajah yang lain dan berjuang melawan Kapitalisme yang semakin menguat di era itu. &lt;br /&gt;Berkat kepemimpinan Bung Karno akhirnya negara Republik Indonesia Serikat yang semula direncanakan Belanda gagal dan pada 1 Agustus 1950 Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan. Bung Karno akhirnya berhasil menyempurnakan Negara Kesatuan itu setelah Belanda bersedia menyerahkan Irian Barat ke Indonesia pada tahun 1962. Berkat gagasannya menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika pada bulan April 1955 di Bandung, sejumlah negara di Asia-Afrika berhasil memperoleh kemerdekaannya. Bung Karno tidak henti-hentinya berjuang untuk perdamaian dunia, seperti menggalang Konferensi Non-Blok bersama sejumlah tokoh dunia ketiga seperti Nehru, Nasser, Tito dan Nkrumah. Berkat perjuangannya itu Bung Karno juga mendapat gelar Pahlawan Islam Asia-Afrika. Dan Mingguan Time yang berpengaruh di dunia internasional memasukkan Bung Karno dalam tokoh Asia yang berpengaruh di abad ke-XX, sejajar dengan Nehru, Mao Zedong serta Nasser.&lt;br /&gt;Kehebatan dan kejeniusan seorang Sukarno bahkan dikatakan oleh banyak pengamat akan sangat sulit sekali menemukan sosok sekaliber Sukarno bahkan dalam kurun satu abad. &lt;br /&gt;Sambil terpekur duduk Mbah Tries yang tadinya merenung tiba-tiba bangkit sambil mengangkat tangan kirinya “ Revolusi Belum Usai..!!!”, kata mbah Tries lantang sambil memandang foto Bung Karno yang terpaku di dinding kayu warung istrinya. sambil tetap berdiri, Sukarnois ini mengingatkan kembali bahwa perjuangan luhur Bung Karno yang sejati adalah memerdekan rakyatnya dari segala bentuk penjajahan. Kita sekarang ini benar sudah terlepas dari penjajahan fisik. Tapi kita sekarang ini kembali terjerumus dalam penjajahan gaya baru (penjajahan ekonomi), inilah kenapa Sukarno yang juga terkenal dengan slogan Lawan Nekolim, menekankan tentang Revolusi ini belum selesai kalau masih ada rakyat miskin. Dan tugas kitalah sebagai generasi muda untuk melanjutkan pembebasan rakyat dari kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Tulisan ini dipersembahkan buat Majalah Suara Keadilan Yaphi, by Kholid Mawardi&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-3283679540281638221?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/3283679540281638221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/memahami-bung-karno.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/3283679540281638221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/3283679540281638221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/memahami-bung-karno.html' title='MEMAHAMI BUNG KARNO *'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Vu1Tba8aVw8/SV2mQu3D35I/AAAAAAAAAEU/mEuxs2vmeGY/s72-c/sukarno_1692a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-835677867657353010</id><published>2009-01-02T12:12:00.000+07:00</published><updated>2009-01-02T12:20:22.283+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Adegipun Mesjid Kudus</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini aslinya tersimpan dalam dokumen sejarah di Disparbud Kudus. Naskah ini diketik ulang tanpa merubah sedikitpun. (red)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;Wontenipun dusun krapyak&lt;br /&gt;Bareng, cendana, sendang bulusan&lt;br /&gt;Tuwin patilasan sanes-sanesipun ing wilayah kudus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cariyas Gancaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cariyos menika kedadosan ing abad sekawan welas, sak sampunipun negari majapahit pecah, nailiko tahun 1400. kraton samun kapindah ing negari demak bintara. Ingkang jumeneng narindra Kanjeng Sultan Akbar Al Fatah, yihbun ningrat panetep pranatagama kalifatalah ingkang kaping pepisan. (R. Patah).&lt;br /&gt;Cariyas menika dipun purwakani, wantanipun perampokan ing gedong pusaka Demak Bintara.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kacariyas ing Negari Demak Bintara, ing pinuju patunggaling latri, swasana Kita Demak Bintara ingkang sepi nanging tentrem, dumadakan, para kawulanipun rutin para abdi-abdi pungguk kemit dipun kagetaken dening swanten rame mawarahan, ingkang binarung ungeling kentong titir ingkang umyung rame banget swantenipun. Swanten rame wau, dipun tuwuhaken dening rampok, ingkang badi ngrampok gedong pusaka ing Demak Bintara. Rampok-rampok mau kadenangandening para abdi Tungguk kemnit, ngantos dados perag campuh, ayak-ayakan. Rame sanget, sangKing rampok-rampok waukakepung saha kapojok, dumadakan, tetungguling rampok wau namakaken pusakanipun ingkang arupi pecut, swantenipun jumedok anggegirisi, sesarengan kaliyan ungeling swanten swanten jumedok kala wau, rampok-rampok saged lolos saKing pakepungan lajeng musna tanpa lari. Raden Gondokesumo pinkang nalika demanten anindihi abdi-abdi tunggak kemit, gumun saha kagum dumateng kalimpadanipun rampok-rampok wau. Saha kagum dateng ampuhing pusakanipun rampok Gedong pusaka enggal-enggal dipun titi priksa. Rahayunipun rampok-rampok wau dereng saged mlebet ing gedong pusaka, saha saged nyidra pusaka-pusaka, sadoyo taksih pinanggih wetah, mboten wonten barag ingkang ical saha owah saKing papan panggenipun. Kedadosan wau tumunten dados lapukan dumateng ngarsa dalem kanjeng Sultan Akbar Alfatah.&lt;br /&gt;2. R. Gondokesumo sowan mirunggan dateng ngarsanipun Kanjeng Sultan Akbar Alfatah, wonten ing pidaleman Agung pingkang kalapaken kaliyan Ki Patih Wonosalam, sowanipun wau namung nglapuraken bab kedadosan perampokan ing gedong pusaka ing Demak Bintara ingkang nyolowadi. Sadoyo kadadosan dipun cariyosaken, wiwitan ngantos pungkasan. Kanjeng Sultan Akbar Alfatah sanget gumun saha tuwuh raos pitakenan ingkang menika warni-warni. Ki Patih Wonosalam ngunjukaken pamanggih ingkang wonten sesambunganipun kaliyan perampokan kala wau. Aturipun bilih rampok-rampok wau saKing negari Kudus, ingkang dipuntindaken dening Sunan Ja’far Sodiq (Sunan Kudus). Dasaripun pandakwa ingkang sepisan, pusakanipun tetungguling rampok ingkang arupi pecut wau, naminipun pusaka Cemeti Guntur Lawe, inggih pecut panglima, pusaka wau kagunganipun Sunan Kudus. Ki Patih Wonosalam mangertos kanti ceta awit nalika Sunan Kudus madeg Senopati ngribat nagari Mojopait, Ki Wonosalam nalika demanten dados prajurit andahanipun Sunan Kudus. Nalika pemanten Senopati Sunan Ja’far Sodiq ngagem pusaka katong gondil Ontokusumo, kagunganipun Sunan Kadilangu, saha ngasto pusaka Cemeti Guntur Lawe, ingkang kasebat pcut panglima. Dasar ingkang kalih, Sunan Kudus melikaken pusaka Mojopati arupi gongsa, nami Bende Sekar Alima. Cemetinipun kados makaten. Saksampunipun negari Mojopait pecah, sadoyo boyongan arupi menopokemawon, kedahipun dipun powanaken ing negari Demak Bintara, nanging Sunan Kudus melikaken pusaka Bende Sekar Dlima, mboten dipun sowanaken ing Demak Bintara malah dipun eleh naminipun bende Macan Guguk utawi bende Kyai Sima. Amrih mboten kadengan poro noro projo saKing Demak Bintara utawi kapriksan Kenjang Sultan Akbar Alfatah. Inggih kanti dasar-dasar menika Sunan Kudus kadakwa ingkang mandegani perampokan in gedong pusaka demak Bintara.&lt;br /&gt;Kejawi menika Sunan Said Kusumastuting Mukya ugi kengen dakwa ingkang dasaripun, Sunan Murya melikaken pusaka Mojopait ingkang nami Koluk Kanigara, kados dene Sunan Kudus. Kanjeng Sultan Akbar Alfatah lajeng utusan Ki Patih Wonosalam nyilidiKi Sunan Kudus. R. Gondokesumo ingkang dipun utus nylidiKi Sunan Murya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ing Dusun Gribig&lt;br /&gt;Ki Ageng Gribig kagungan putra dampit, ingkang dipun wastani putra dampit menika putra ingkang lahiripun pareng kembar, jaler kaliyan istri. Putra wau dipun namakaken Joko Cendono tuwin cendono.&lt;br /&gt;Ing pinuju satunggaling dinten Ki Ageng Gribig kedatengan tamu Ki Ageng Gulang kaliyan anaKipun jaler Joko Kemat utawi Joko Santri (pramilo katelah Joko Santri, awit karemanipun mondok dados santri ing pundi-pundi pondok pesantren). Datengipun Ki Ageng Gulang wau nglamar Cendani bade dipun daupaken kaliyan Joko Kemat. Ki Ageng Gribig setuju nanging penglamaripun wau dereng saged dipun tampi awit Ki Ageng Gribig nalika pemanteng taksih anggadahi jejibahan ingkang dereng saged dipun rampungaken. Jejibahanipun Ki Ageng Gribig wau nalika pemanten nembe dipun utus Sunan Kudus madosi Pusaka Kudus ingkang kacidra maling, pusaka wau nemi Cemeti Guntur Lawe. &lt;br /&gt;Ki Ageng Gulang sagoh tumut ngrencangi madosi. Pamanggihipun Ki Ageng Gulang bak manawi ingkang nyidra pusaka wau Sunan Murya, dasaripun, nalika pemanten Sunan Kudus nembe memengsahan kaliyan Sunan Murya. Pramilo menika Ki Ageng kekalihipun sami dateng kesunanan Murya pengadi suwito dados muri Murya, wondene Joko Kemat ing sakwatawis weksal katilar ing dusun Gribig.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ing saklebetipun joko Kemat ing dusun Gribig, joko kemat manggihi cendani, perlunipun joko kemat kepingin mirengaken piyambak dateng wangsulanipun candani anggenipun dipun lamar purun nopo mboten dados bojonipun. Wangsulanipun cendani kados ngendikanipun bapaKipun, mboten bade kawratan dados bojonipun joko kemat, kanti pusaka Kudus wau sampun pinanggih. Nembe eca-eca pepanggihan mekaten wau dumadakan kesaru datengipun kakangipun joko cendana.&lt;br /&gt;Joko cendana mboten remen sumerep adinipun pepanggihan kaliyan lare jaler. Joko kemat diwastani tumindak ingkang nerak ing angger ugering kasusilan. Nanging joko kemat wangsulanipun bilih bapaKipun pam pun nglamar dateng cendani. Joko cendana mboten purun nampi dateng ketranganipun kemat wau, malah kemat dipun ujar-ujari bebasan entek amek kurang golek.&lt;br /&gt;Dangu-dangu dados sulaya, ngantos gelutipun. Ingkang kawon joko kemat lajeng mlajeng sumusul bapaKipun dateng murya. Candani manggihi embaKipun, madulaken bab tumindaKipun cendana. EmbaKipun manggihi cendana, anaKipun dipu tuturi bilih bapaKipun pompun setuju dateng penglamaripun Ki Ageng gulang. Nanging cendana mboten ngrewes dateng tuturipun embahipun, malah aturipun bilih cendani bade dipun pendet bojo peyambak. Dasaripun manuting pangertosanipun bilih ecnadni menika sampun dipun jodohakenm dening gusti ingkang maha kuasa, wiwit wonten ing kandutan (ing wetengan). Cendani temtu kemawon mboten purun, lan embahipun ugi mboten marengaken. Cendana di wastani mboten lumrah. Awit menika adeKipun piyambak. Nanging cendana nekad, cendani di rodo peksa. Embahipun kapurih nayogyani ngantos dipun ajar lan embahipun dipun pejahi. Cendani mlajeng sumusul bapaKipun dateng murya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Wonten Kasunanan Murya&lt;br /&gt;Nalika pemanten Ki Ageng gribig tuwin ki ageng gulang, sampun nglamar dados siswo ing Murya. Perlu nylidiki menopo estu semahu murya ingkang nyidra pusaka Kudus ingkang ical. Nanging mboten pikantuk sisik melik. Dumadakan kesaru rawuhipun R. Gondokesumo ngandikanipun dateng Sunan Murya bilih Sunan murya kedah saged manggihaken sisik melik, bab wontenipun rampok ingkang kedadosan ing gedong pusaka Demak Bintara. Sadaya kedadosipun di cariyasaken sadoyo. R. Gondokesumo ugi mancing-mancing negndikaken bab dasar-dasar pandakwanipun ki patih wonosalam dateng sunan kudus. Nanging sunan murya mboten saged ngleaken dateng ki patih wonosalam, awit dasaripun mboten wonten buktinipun ingkang gumatok. Namung sunan murya nyagohi badi tumut madosi rampok-rampok wau. Dereng ngantos rampung anggenipun sami pengandikan dumadakan joko kemat dateng, wadul dateng bapakipun bab anngenipun kerengan kaliyan cendana. Mboten dangu cendani ugi dateng matur dateng bapakipun bilih embahipun pejah, dipun pejahi kakangipun cendana. Sadoyo ingkang kedadosan dipun aturaken. Ki ageng kekalih wau lajeng nyuwun pamit, bade manggehi cendana. R. Gondokesumo ugi nyuwun pamit, ngandikanipun bade tindak kadilangu sowan sunan Kalijogo, nyuwun tulung supados tumut ngrencangi pados sisik melik.&lt;br /&gt;Ing sarehning joko kemat rumiyen ugi sandtri kadilangu pramilo R. Gondokesumo mundut supados joko kemat purun nderekaken dateng kadilangu. Joko kemat ugi purun awet piyambakipun ugi badi nyuwun supados kaleksanan anggenipun bade mundut bojo cendani. Sumanten sami bidalan.&lt;br /&gt;6. Ing Dusun Bate Alit&lt;br /&gt;Kacariyos ing dusun batealit tumut wilayah Jepara wonten gerombolan rampok ingkang dipun sesepuhi benggol Singojoyo naminipun. Benggol Singojoyo menika pejato sipun nalika negari Mojopait taksih jaya, dereng pecah, benggol Singojoyo wau abdi dalem kraton Mojopait naminipun Ki Dalang Becak. Sak sampunipun negari Mojopait kabedah para ngulama saking Demak, sang prabu Brawijaya Kerta Bumi linggar saking negari. Ki dalang becak madosi sang prabu. Kejawi saking menika, ki dalang becak ugi kepingin males dateng para ngulama ngrungsan negari Demak Bintara.&lt;br /&gt;Ing sarehning dereng anggadahi kekiyatan, pramila lajeng damel grombolan rampok sesilih benggol Singojoyo, do dunung ing dusun Bate Alit. Sak derengipun kaleksanan sediyanipun ngrangsang negari Demak Bintara, benggol Singojoyo nyolongi pusaka-pusaka nipun para ngulama, ingkang dados kekiyatanipun negari Demak bintara kados to ing Kudus utawi ing Murya. Benggol Singojoyo sampun pasekuton kaliyan joko cendana, ingkang ngantos pampun saged nyolong pusaka Kudus, inggih pusaka Ceeti Guntur Lawe. Nalika semanten ugi sampun nate wanten ngrampok gedong pusaka Demak nanging gagal awit kademangan prajurit demak ingkang di pun tindihi R. Gondokesumo. Kados ingkang kacariyos ing ngajeng awit saking pusaka Cemeti Guntur Lawe, singojoyo luwin cendana sak konco rowangipun saged lolos saking kepunganipun prajurit demak, lajeng ingkang kadakwa saking negari Demak Sunan Kudus.&lt;br /&gt;Nalika semanten wancinipun dalu, joko cendana nembe pepanggihan kaliyan benggol singojoyo, ingkang dipun rembag bab anggenipun kepengen mendet bojo adinipun piyambakipun cendani. Benggol singojoyo sagah, saha tanggel jawab, bade budidaya sagedipun kaleksanan kanti janji cendana kedah manut miturut dateng prentahipun. Dumadakan wonten laporan bilih bate alit kadumugen tiyang ingkang nyalowadi lan sanget nyamaraken. Joko cendana mangertos bilih tiyang wau pejatosipun bapakipun piyambak. Pramilo lajeng enggal-enggal dipun panggehi. Sak sampunipun pinanggih, cendana kanti tanpa tedeng aling-aling walaka nyuwun supados cendani dipun parengaken. Temtu kemawon ki ageng kekalih wau mboten marengaken, temahan dados pasulayan, perang ngadu kekiyatan. Ki ageng kekalih wau karoban mengsah dipun kroyok lajeng keapikul deing benggol singojoyo, lajeng dipun bondo dipun ajar, dipun peksa supados purun nimangkanipun cendana. Ki ageng gribig ngendika bilih cendani sak menika sampun kasengkek kaliyan sunan murya. Mireng katrangan makaten wau cendana lajeng nglabrak sunan murya bade dipun pejahi menawi cendani mbiten dipun parengaken. Benggol singojoyo sumerep tindakipun cendana wau remen sanget, awit menwai kaleksanan cendana saged mejahi sunan murya, ateges saged ngirangi kekiyataning mengsahipun, pramila lajeng dipun dombani.&lt;br /&gt;Saestu joko cendana kaleksanan kanti dedemitan tanpa dipun sumerepi, murid-murid ing murya, saged mlebet ing papan patunggonipun sunan murya. Ing mriku pinanggih sunan murya nembe sare. Menggahipun joko cendana kaleres sanget, sunan murya bade dipun prajoyo. Nanging dereng kemawon kaleksanan sedyanipun dumdakan wonten gara-gara angin ribut. Joko cenana kesamber bledeg mencelat tebih. Sunan murya wungu anggenipun sare, lajeng opyaki bilih wonten maling. Murid-murid sami dateng, kalebet cendani ugi sowan. Sunan murya ngandika bilih wonten maling ing bae nyedra yuswanipun. Maling wau bekto pusaka arupa cemeti. Cendani mangertos, bilih malingipun wau kakangipun, pramila lajeng sumungkem dateng sunan murya. Matur bilih malingipun kakangipun cendani nyuwun pangapura dateng kalepatanipun kakngipun wau, lan sagah bade ngemutaken kakangipun. Aturipun melas asih dados sunan murya mboten paring pidana dateng kakangipun. Awit najanta kados pundi cendani mboten mentala menwai kakngipun manggih kasangsaran. Sunan murya bawanipun sunan ing ambek budi luhur, mangertos menapa ingkang dipun pikajengaken cendani, pramila ngandikanipun mboten bade midana dateg cendana, cendani lajeng nyuwun pamit bade sowan dateng kadilangu, perlu budidoyo dateng tumindak ingkang leres, sunan murya nijini cendani lajeng kesah.&lt;br /&gt;Kacariyos cendana ingkang mencelat tebeh, sebab kesamber aji gelap sayuto ajinipun sunan murya, dawah ing wongsak jawining kikisipun wilayah kasunanan murya. Joko cendana semaput. Rahayunipun benggol singojoyo sumerep lajeng enggal-enggal dipun upakara, ngantos wangsul emut malih joko cendana nyariyo saken sadayo ingkang dipun tindakaken wiwitan ngantos pungkasan. Benggol singojoyo ingkang sengojo bade migunaken joko cenana kanggo budidoyo dateng tujuanipun, pramila lajeng atur wawasan. Satunggal-satunggaling lampah joko cendana amrih saged ngasaraken sunan murya, kedah langkung rumiyin saged nyolong pusaka Kotang Gondil Ontokesumo, kagunganipun sunan kadilangu. Joko cendana ingkang watekipun kendel tu wi asor ing budi, lajeng sagah bade dados maling nyidro pusaka kadilangu.&lt;br /&gt;7. Wonten ing Kadilangu&lt;br /&gt;R. Gondokesmo tuwin joko kemat sampun sowan wontenipun kadilangu matur dumateng sunan kalijaga, bilih sowanipun dapur dados utusanipun kanjeng sultan akbar alfatah, pados sisik melik bab perampokan ing gedong pusaka demak bintara ingkang kados kacariyos ing ngajeng. Wondene joko kemat matur bab tujuanipun anggenipun kepingin mendet bojo cendani. Sadoyo lelampahanipun dipun cariyosaken dumateng sunan kalijogo. Nanging sunan kalijogo dereng saged wangsuli utawi minankani dateng panyuwunipun kemat tuwin R. Gondokesumo. Pangandikanipun bilih taksih wonten jejibahan ingkang bade dipun ayahi. Malah sunan kalijogo bade tindak nilaraken kasunanan kadilangu, R. Gondokesmo tuwin joko kemat dipun punduti tulung supados jagi ing kadilangu.&lt;br /&gt;Dumadakan ing pinuju satunggaling dalu ing kadilangu wonten maling. Ingkang dados malingipun joko cendana, bade nyolong pusaka Kotang Gondil Ontokesumo. Joko cendana sampun klampahan saged mlebet ing gedong pusaka, madosi ing pundi dumunung ing pusakakatong Gondil Ontokesumo. Dereng kemwaon saged manggihaken dumadakan wonten gara-gara, gater pater swantenipun gegirisi. Maling swanten wau kasusul jumedulipun naga ingkang ageng sanget ngrangsang cendana. Nanging cendana trengginas, kanti manah ingkang teteg lan mantep, madep naga wau dipun tandingi dados gelut. Cendana manahaken pusakanipun cemet, jumedor swantenipun naga wau ical sak nalika, malih dados geni ingkang mangalad-alad. Cendana ngetog sadoyo kekiyatanipun saha kasektenipun, pecutipun dipun seblak-seblak aken gemuruh swantenipun geni ical, malih udan dereng pindo pinusus anging lesus, tatit bledeg nyamber-nyamber. Ewo semanten cendana meksa nekad kanti tatag lan mantep nenggulangi jawoh wau, cemetinipun dipun seblak-seblak aken. Jawoh ical sak nalika, swasana malih padang jenggilang nanging swasana sepi nyenyet, lajeng wonteng trontong-trontong cahaya sumunar mencorong, katong Gondil Ontokesumo katingal gemandul nanging mboten cemantil. Joko cendana kanti ngatos atosnyembah saha nyaketi pusaka wau. Dumadakan wonten macan, gembong jumedul gereng-gereng nubruk cendana dados gelut. Sesarengipun kaliyan kedadosan makaten wau lajeng wonteng angin lesus, gara-gara geter pater lindu, geni ageng sanget mangalad-alad, bleeg nyamber-nyamber kados jebol-jebol aken bawana. Joko cendana bingung anggenipun badi nanggulangi.&lt;br /&gt;Dumadakan wonten swanten gumuruh jok cendana sempoyongan kados tiyang mendem. Sirahipun kraos mumet, joko cendana bengak-bengok lajeng ambruk, panoniun sumrepet, macan gembong nubruk cendana sesarengan kaliyan mekaten wau, swasana maleh peteng dedet lelimengan. Awalipun kemrasak kados wonten praha. Dangu-dangu saking pakedik swantenipun wau ical swana malih padang, cendana lan macan kotang gandil ugi mboten wonten. Sepi nyenyet mboten wonten sabawanipun walang ngalisik ing gedong pusaka mboten ketingal menopo-menopo ingkang katinal namun pusaka-pusaka pating slebar, blasak ing jaganipun mboten dangu joko kemat dateng sumerep kawontenan makaten wau, kaget sanget lajeng niti priksa gedong pusaka dipun teliti. Dereng kemawon pikantuk titikan menapa-menapa R. Gondokesumo rawuh pirsa kedadosan wau lajeng pitaken dateng jaka kemat wonten menapa ingkang kedadosan ing gedung pusaka. Joko kemat mboten saged wangsulan, R. Gondokesumo nitipriksa dumakdakan ngertos bilih katong gondil ontokesumo ical.&lt;br /&gt;Ing sarehaning ingkang wonteng ing gedong pusaka wau amung Joko Kemat, pramila joko kemat ingkang kenging dakwa. Dipun dakwa ingkang nyidra katong gondil. Joko kemat bingung anggenipun bade atur jawaban, patrapipun kadong tiyang bengong. R. Gondokesumo duka yayah sinipu, awit ajreh menawi mangke dipun prajaya. Rahayunipun joko kemat limpad saged ngacati mlajeng medal saking gedong pusaka.&lt;br /&gt;Kacariyos pun joko cendana menawi kala wau, dipun cariyosaken kagelut macan ingkang pesarenan kaliyan gara-gara ingkang gegiri ing mriki pinanggih jok cendono, sampun gumletak semaput iring lepen, nanging sampun ngangge katong gondil. &lt;br /&gt;Sunan kalijogo rawuh pirsa wonten lare semaput lajeng dipun usadani ngantos waluyo. Sak sampuniun joko cendana waluyo lan emut sumerep menawi sampun ngagem pusaka katong gondil, joko cendana bingah sanget, rumaos menawi kaleksanman sadiyanipun. Saking remenipun lajeng gumuyu ngakak. Pangudo rasanipun lan sesumbar-sesumbar bilih bade kaleksannan mrajaya sunan murya. Ujaripun angambra ambra, mboten mangertos bilih sunan kalijogo wonten ing sak wingkingipun. Sareng mangertos bilih wonten sunan kalijogo, cendana lajeng drodog badanipun awit saking kagetipun, awet mboten kanyana-nyana bilih padaya tumindakepun wau dipun mangertosi deneng sunan kalijogo.&lt;br /&gt;Joko cendana badanipun kraos lemes, kados dipun lolosi otot bayunipun, awit saking keprabawan sunan kalijogo. Ing sak lajengipun lajeng sumungkem, matur nyuwun pangsaksani dateng dosa kalepatanipun. Sunan kalijogo bawanipun wali ingkang wicaksana, saha berbudi bawa laksana, lajeng paring dawuh dumateng joko cendana supados katong gondil ontokesumo kawangsulaken maleh ing gedong pusaka, mboten ngetosi dawuh ing saklajengipun joko cendana lajeng sumungkem saha ngestokaken dawuhipun sunan kalijogo kesah saking papan wau.&lt;br /&gt;Sak kisahipun cendana, cendani dateng ngrungkepi ampeyanipun sunan kalijogo, kaliyan nangis amingseg mingseg, aturipun kenging menapa sunan kalijogo teka mboten kersa mundut pusaka katong gondil ontokesumo. Sunan kalijogo ngandika pramilo kotang gondil mboten kapundut, nanging cendana dipun dawuhi mangsulaken ing papan panggenanipun menika tuhunipun namung kagem panodi dateng bebudenipun cendana. Menwai saestu cendana sampun ngrumaosi lepat lan taksih kepingin rahayu, saha wangsul ing tumindak ingkang leres katong gondil temtu dipun wangsulaken ing gedong pusaka. Nanging cendani sumelang manahipun awit piyambakipun mangertos bilih watakipun kakangipun asar ing budi, culika lan mboten tepung ing kasaenan. Pramilo aturipun cendani nyuwun supados sunan kalijogo kersaa nututi kakangipun mundut wangsul katong gondil saking astanipun cenana. Kejawi menika cendani nyuwun dumateng sunan kalijogo kados pundi caranipun anggenipun bade ngleresaken tumundakipun kakangipun ingkang lepat wau, ngantos ngertos lan wangsul dateng tumindak ingkang leres, mangertos ing kautemen. Sunan kalijogo mangertos dateng pikajengipun cendani, pramilo cendani lajeng kakanti kondur dateng padepokan kadilangu.&lt;br /&gt;8. Wangsul ing bate alit, benggol singojoyo menggihi ki ageng gribig tuwin ki ageng gulang ingkang sampun dados tawananipun dumadakan kesaru datengipun cendana, mameraken menawi sampun pikantuk pusaka katong gondil. Nyata saestu petekanipun cendani menawi cendana watak wantunipun asor ing budi, mboten tepang ing kautamen, katitik najan ta ing ngarsanipun sunan kalijogo cendana, mendak-mendak nyuwun pangapuro dateng kalepataniun. Nanging tuhuniun aturipun wau namung lamis. Kasunyatanipun katong gondil mboten dipun wangsulaken malah kabekta dateng bate alit.&lt;br /&gt;Bapakipun dipun rodopeksa kapurih maringaken adinipun cendani. Nanging bapakipun puguh mboten marengaken. Cendana jengkel sanget, bapaipun dipun ajar. Sesumbaripun ngambra sadoyo ingkang mepalangi pikanjengipun bade dipun pejahi. Pangajaripun bapakipun dipun nemeni, malah bade dipun prajaya, nanging dereng kemawon kaleksanan dumadakan wonteng krikil nyamber tanganipun ngantos gaman ingkang bade kang mrajaya wau mencelat dawuh ing siti. Cendana kaget sak naliko mangertos bilih wonteng tiyang ingkang tetulung. Jelela tiyang wau tiyang sakti, katitik dateng krikil kemawon saged nguwalake gamanaipun. Makaten wau cendana nesu sanget, tiyangipun dipun sumbari dipun bengoki, kapurih muncula, medal saking pandelikanipun, sampun kados patrapipun pengecut. Katah-katah panantangipun nanging tiyang wau meksa mboten purun ngatingal. Benggol singojoyo ingkang sampun katah pengalamanipun, pramilo lajeng mancing-mancing amrih tiyang wau purun medal. Patrapipun benggol singojoyo ngunus golokepun. Ki ageng gribig di ancam bade dipun prajaya. Saestu sareng golok bade dawuh ing gulunipun ki ageng gribig, sak naliko tiyang sakti wau katingal nyerang singojoyo, ngantos ki ageng gribig wilujeng mboten esto kataman golok. Tiyang sakti wau ngaku naminipun sunan kedu. Betahipun tetulung ki ageng kekalihan wau, alasanipun bade wonteng kabetahan ingkang wiga. Wicanten mekaten wau lajeng klebat oncat sakedep netra kemawon sampun musna kaliyan bekta ki ageng kekalih.&lt;br /&gt;Cendana ing saklebeting batinipun kageum dateng kasektenipun tiyang wau. Mboten dangu wonten datengipun andahanipun nglapuraken bilih ing dusun bate alit sampun kakepung ing mengsah. Saking sisih kidul wetan wonten barisanipun santri-santri kudus. Ingkang saking lor wetan barisanipun santri rahtawu ingkang tinindhihan sunan murya kaliyan R. Gondokesumo. Benggol singojyo lajeng andumi damel, sunan murya bade dipun tandangi piyambak. Sunan kudus dipun pasrahaken. benggol singojoyo tumunten sami sewang-sewangan.&lt;br /&gt;Kacariyos benggol singojoyo sampun adep-adepan kaliyan sunan kudus. Ing ngeku sunan kudus mboten mbtane pangling dateng mengsahipun lan naliko perang ing mojopait. Campuhing perang benggol singojoyo, ulahipun ulah mlayu. Patrapipun menawi kaseser, barisanipun dipun unduraken. Nanging munduripun wau nglimpe menawi wonteng lenanipun mengsahipun. Makaten wau barisanipun santri-santri kudus nemahi. Pangorbanan ingkang katah. Sunan kudus nesu sanget barisanipun dipun kiyati bujung benggol singojoyo ingkang olah mlayu. Benggol singojoyo ndelik ing pekarangan ingkang katah tetanduranipun wit suruh. Sunan kudus mboten ngertos, kanti mboten kanyana nyana, benggol singojoyo nyerang saking wingking barisanipun sunan kudus kocar kacir pateng blesar sami mlajeng. &lt;br /&gt;Ing papan mriku diun namakaken dusun pasuruhan (dununganipun ing kidul kudus kulon, pinggir kali gelis ingkang mili mangilen bade anjog ing kali serang). Wancinipun sampun dalu, sunan kudus ngempalaken santri-santri nipun malih lan nyipeng ngiras ngaso. Papan wau dados dusun Nenep (ing sak caketipun dusun damaran). Benggol singojoyo siasatipun menawi sak menika dipun wastani siasat gerilya. Ing saklebetipun barisanipun sunan kudus nembe ngaso, nginep wau dumadakan dipun perang malih dening benggol singo joyo ngantos mahani pecah belah. Sebagian mlajeng mangetan bebagiyan malih nderek sunan kudusa mengalek parugipun. Sak menika sumangga mangsuli lelampahanipun ki ageng gribig. Sak sampunipun ke ageng gribig tuwin ki ageng gulang tinulungan sunan kedu. Lajeng sami rerembagan ngawontenaken pepatangan. Sak derengipun sumonggo sami dipun kawungningani, sinten sejatosanipun sunan kedu wau.&lt;br /&gt;Sunan kedu menika sejatosipun bupati citra bangsa saking wonosobo. Menika salah satunggaling kawula ingkang petiya kaliyan negari Mojopait. Sedyanipun citra bangsa wau ugi kepingin mangsulaken kejayaanipun negari mojopait malih. Dateng ing negari kudus bade ngupadi sumber panguripan wontenipun dipun upadi, manuting kapitayanipun tiyang-tiyang katah. Bilih sumber penguripan menika toyanipun kenging kange gesangaken tiyang ingkang sampun pejah. Pramilo citra bangsa gandeng kaliyan tujuanipun wau sanget kepingin menggihaken dumunungrpun sumber penguripan, kanti nylamur lampah ngaken sunan kedu.&lt;br /&gt;Pepetanganiun kaliyan ki ageng gribig sak sampunipun dipun wilujengaken sunan kudus nyuwun supados di pun tedahaken ing pundu panggenanipun. Nanging ki ageng gribig mboten mangertos, awit sejatosipun sumber wau sanget dipun damel wadi dening sunan kudus mboten sako tiyang mangertosi dumuningipun. Kangge lirunipun ki ageng gribigh anggenipun mboten saged nedahaken sumber wau. Sunan kedu dipun aturi bumi dusun gribig sak sigar pemong (sepalihipun dusun). Ing sak lajengipun sunan kedu rehning ugi sampun mangertos bilih sunan kudus nembe kaseser juritipun, pramilo lajeng dipun upadi. Gampiling cariyos sunan kudus sampun pinanggih. Sunan kedu lajeng tetapangan kaliyan sunan kudus saha nyuwun dipun tedahaken ing pundi dumuningipun sumber penguripan. Alasanipun menawi kanggo usado, ngusadani para kawulanipun ingkang nembe ketamon pagebluk. Sunan kudus menika sunan ingkang pinter waskita saha wasis, pramilo najan ta sunan kedu wau datengipun ing kudus kagungan raos sujana. Awit kejawi nembe sak menika tepangipun saha nembe menika mireng menawi ing kedu wonten sunanipun. Pramilo saking menika sunan kudus lajeng ngandika, mboten bade kawratan minangkani pamundutipun sunan kedu, nanging menawi sunan kedu saged ngangket benggol singojoyo. Makaten wau dipun sugahi dening sunan kedu lajeng pamit melukaken benggol singojoyo.&lt;br /&gt;Gampiling cariyos sunan kedu sampun kapanggih kaliyan benggol singojoyo, ngaken bilih minta srayaniun sunan kudus siasat prangipun sunan kedu. Benggol sngojoyo dipun tantang perang senopati, perangipun perang tanding ijen sami ijen. Benggol singojoyo sagah lan sarujuk lajeng sami miwiti tanding adu kekyatan tuwin kesakten. Nembe sami tetandingan mekaten wau dumadakan ki ageng gribig tuwin ki ageng gulang ingkang sampun dipun wangsit saderengipun dening sunan kedu ngepung nggropyok benggol singojoyo sak kanca roewanipun. Awit mboten kanyana nyana babar pisan, benggol singojoyo gampil karingkus. Lajeng dipun krapyak (dipinukum dipun beteki dipun pageri kajagi murid-murid Kudus). Ing nriku dados dusun krapkay (ing sak ler ipun dusun jember sak menika).&lt;br /&gt;9. Wangsul Dateng Kasunanan Kadilangu&lt;br /&gt;Wonten nem-neman siswa kadilangu ngagem asmo joko sumar wekdal menika dipun cariyosaken joko sumar nembe gladen ulah bela diri piyambakan (pencak). Tandangipun katingal cukat tuwin trengginas, kados peksi alap-alap nyamber mangsanipun. Sakwatawis anggenipun gegladen lajeng gantos gladi dateng kasektenipun, nyobi dateng aji pamungkasipun wiridan sunan kalijogo. Patrapipun wonten selo agengipun pak endasing kebo dipun tempeleng kaliyan tanganipun ingkang sampun kalambakan aji pamungkasipun. Jumedok swantenipun sak nalika watunipun pecah sumjur dados sak walanng-walang. Joko sumar wau kalegan sanget manahipun. Dumadakan wonten tiyang nyaketi, saha ngalembana dateng joko sumar. Tiyang mboten sanes ki patih dawuh bilih sampun wonten patitahipun sunan kalijogo supados joko sumar puruna dados prajurit demak ingkang bade dipun lurugaken ing kudus. Joko sumar sagah lajeng nderek ki patih dados prajurit.&lt;br /&gt;Mangsuli nyariyosaken cendana, nalika benggal singojoyo perang kaliyan sunan kudus, cendana ugiperang kaliyan sunan murya. Perangipun joko cendana sejatosipun asor. Nanging sareng sunan murya abenm ajeng kaliyan joko cendana perang tanding ijen sami ijen. Dumadakan sunan murya kaget awit mangertos bilih joko cendana ngangge pusaka katong gondil. Sunan murya lajeng ngabani barisanipun sami mundur, ngidul wetan arahipun. Menapa sebabipun makaten awit sunan murya wonten tuwuh raosing pitakenan wonten pesambunganiun menapa cendana kaliyan sunan kalijogo, teko pusaka katong gondil di angge dening cendana. Menawi cendana menika tiyangipun sunan kalijogo, sunan murya bade laporan dateng demak bintara. Amrih ing sak lajengipun kanjeng sultan piyambak ing murba sunan kalijogo, pramilo sunan murya munduripun wau sedyanipu bade dateng kadilangu.&lt;br /&gt;10. Ganti Kudus&lt;br /&gt;Sak sampunipun sunan kedu saged minangkani pamundutuipun sunan kudus, mikut benggol singojoyo. Lajeng nagih janjinipun nyuwun dipuntedahaken sumber penguripan. Nanging sunan kudus ingkang sampun sujana dateng sunan kedu ngandikanipun bilih sumber penguripan menika ingkang nguwasani sultan akbar alfatah ing demak bintara. Pramila sunan kedu dipun aturi nyuwun patitahipun kanjeng sultan rumiyen. Makaten wau lajeng dados padudon rame sanget. Wusananipun kesaru, rawuhipun ki patih wonosalam.&lt;br /&gt;Rawuhipun wau pindaning sultan demak, mundut bandanipun sunan kudus, kadakwa ngrampok gedong pusaka demak bintara. Sunan kudus ingkang lugunipun mboten ngrumaois tumindak, pramila nangkis dateng pandakwan wau, ingkang temahan dados perang. Perangipun dumunung ing pinggiran kali serang ing sisih wetan. Dereng kemawon wonten ingkang kawon saha mimpang dumadakan wonten barisan malih ingkang nrambul perang nyerang barisanipun santri-santri kudus ngantos santri-santri wau keteteran juretipun. Sunan kudus lajeng paring pratanda supados peprangan dipun kendelaken rumiyin lan pitaken dateng barisan ingkang nembe dateng. Barisan wau barisanipun cendana, ingkang nyuwun luwaripun benggol singojoyo. Sunan kudus nyuwun lajeng bingung awit kedah nandingi mengsah kalih jurusan. Nanging reh ning sampun mboten wonten margi sanes, kang ngocati bab wau lajeng sunan kudus ngadani perang matuir nempuhaken mengsahipun. Perang campuh tigang golongan prajurit ing mriku dados dusun Tugu Telon. &lt;br /&gt;Barisanipun sunan kudus kapeped saha kakepung ing mungsahipun mboten saged lolos. Wancinipun dalu penyerangan mengsah, sangsaya ngangseg. Dumadakan wonten swantenipun asu baung. Mengsah-mengsahipun sunan kudus mireng swantenipun asu baung wau, dilalah sami miris, kekes manahipun. Rumaosipun miring swantenipun  macam nggero ingkang katah sanget. Pramila lajeng sam mlajeng mundur salang tunjang, kados dene patrapipun tiyang ingkang kamegelan ajrih kapregok ing bebaya. Sunan kudus piyambak gumun sumerep kedadosan makaten wau. Lajeng pitaken dateng poro santri-santrinipun, sinteng ingkang bekto asu. Joko kemat matur bilih asu ingkang bau wau asunipun, ulesipun belang yungyang (ules belang telon lanang). Sunan ngakenio bilih baunging asu waukramat, saged mitulungi mirisaken menahipun mengsahi ngantos sami mlajeng. Ing mriku dados Kramat (ilo-ilo menawi ing wanci bade wonten pagebluk, ing dusun kramat wontenasu baung ingkang sanget gegirisi, menika wau asu belang yungyang ingkang bau, paring sasmita). Ing sak lajengipun sunan kudus dawuh, supados kondur rumiyin perlu ngaso, tuwin siyasad kekiyatan, kangge ngadepi mengsah-mengsahipun. Awit nalika sewonten mengsah-mengsah wau dereng saged dipun wastani sampun kawon.&lt;br /&gt;11. Wonten ing Pidaleman Panti Kudus&lt;br /&gt;Sunan kudus menika kagungan boyongan putri naminipun Ratu Dwarawati. Kacariyos nalika sunan kudus dados senopati ing perang Mojopait, sunan kudus keparingan triman putri boyonganipun Ratu Dwarawati, rumiyin garwa prameswarinipun prabu brawijaya kertabumi, ingkang maringi kanjeng sultan akbar alfatah, ing demak bintara. Nalika semanten ratu Dwarawati nembe lelenggahan ing pidaleman, dipun adep embanipun nyai mlati ingkang asal usulipun ugi saking negari Mojopait. Tuhunipun ratu dwarawati mboten trisno, kaliyan sunan kudus. Pramila panggalihipun susah sanget. Ingkang dipun penggalihaken kados pundi, sagedipun ngoncati saking panti kudus. Ratu dwarawati lajeng utusan dateng nyai mlati supados ngrawuhaken sunan kedu, ingkang nalika semanten taksih cumondok ing panti kudus. Sak sampunipun sampun rawuh Ratu Dwarawati mundut tulung dateng sunan kedu, kados pundi supados saged oncat saking negari kudus. Sedyanipun ratu dwarawati bade tindak dateng dusun bakaran (sak menika ing wilayah Juwana). Awit ing mrika wonten abdi dalem ingkang saking mojopait ingkang naminipun Ni Ren Banowati, ingkang sampun manggen bebadra ing dusun bakaran, kanti nami singlon Nyai Sabirah (menika pedanyangan dusun bakaran). Sunan kedu sagah mitulungi ratu Dwarawati dasaripun pancen kasengaja pados adadakan angganipun bade pasulayan laliyan sunan kudus, ingkang sampun nyidrani janji. Nanging reh ning sunan kedu wau namung kaliyan ki ageng gribig tuwin kyai ageng gulang, pramila kangge nanggulangi sunan kudus, supados kiyat, lajeng singojoyo dipun luwari saking pekrapyakan, dipun ajak milujengaken ratu dwarawati. Temtu kemawon benggol singojoyo purun awit kejawi pancen mengsahipun suwan kudus. Ratu dwarawati menika sesembahanipun piyambak nalika taksih dados praweswarinipun sang prabu brawijaya. Medalipun saking panti kudus kanti dedemitan nglimpekaken ingkang sami tungguk kemit. Lampahipun mangetan. Caranipun ratu dwarawati saha nyai mlati tindakipun ngrumiyini saking katebihan sunan kedu, ingkang ngawat-ngawati jagi uingkang lajengipun.&lt;br /&gt;Sunan kudus sampun dumugi ing dalem panti kudus, wasana wonten lapuran bilih ratu dwarawatirangkad kaliyan sunan kedu. Sak nalika sunan kudus lajeng ngepyakaken santri-santrinipun nututi lan madosi ratu dwarawati. Sunan kedu waspada pepetanganipun maton amrih mboten kapregok kaliyan tiyang-tiyangipun sunan kudus. Ratu dwarawati dipun aturi sewang lampah nyidad margi, mangidul purugipun urat lepen. Sareng sunan kedu kepanggih kaliyan sunan kudus sampun mboten sesarengan kaliyan ratu dwarawati, pramila sunan kudus bingung bilih bade dakwa menawi sunan kedu rangkat kaliyan ratu dwarawati. Awit buktinipun mboten wonten. Nanging sunan kuus lajeng pitaken dateng sunan kedu menapa sebabipun singojoyo dipun luwari saking krapyakipun. Sunan kedu wangsulanipun, sebabipun dipun luwari awit sumber penguruipan mboten dipun tedahaken. Sunan kudus kawon mapan, padudosanipun, pramila lajeng genakaken panguwaosipun. Sunan kedu kedal saged ngunduraken ratu dwarawati dasaripun, awit sesarengan kaliyan sunan kedu kesah saking panti kudus. Ratu dwarawati ugi linggar saking panti kudus pramila sunan kedu rumaos bilih kerenda rendeng ing prakawis, lajeng ing mriku dados Ngrendeng (sak wetanipun pasar kliwon). Makaten wau lajeng dados perang nang pancen nyata sunan kudus menika dighdaya. Perangipun ingkang kawon sunan kedu, mlajeng wangsul mangilen. Sunan kedu dawuh dateng benggol singojoyo, ki ageng gribig tuwin ki ageng gulang supados madosana joko cendana, lan manunggala dados satunggal. Piyambakipun bade pados tiyang ingkang saged ngadili sunan kudus ingkang nyidrani janji, lajeng sami sewang-sewangan lampah. &lt;br /&gt;Gentas nyariyosaken tindakipun Ratu Dwarawati ingkang tindakipun namung kaderekaken nyai mlati, dumugi ing pinggiran kali wancinipun meh surup surya. Kanjeng kandel pediyanipun kepingin wisuh saha pasuryan (raup) ing lepen. Ing saregning wancinipun wanci candikala. Nyai mlati matur supados kanjeng ratu ngatos-atos anggenipun nyemplung dateng lepen. Kanjeng ratu ngandika : mlati, dok kira kali iki ana bebayani, kaline cetek lan iline ora santer. Sareng kanjeng ratu nembe bade nyemplung dumadakan kepleset kajegur ing lepen, lajeng klelep. Nyai mlati mboten wantun nulungii namung bengok-bengok nyuwun tulung dateng tiyang kampung.&lt;br /&gt;Tiyang-tiyang kampung sami dateng, nyai mlati kanti gupuh nyuwun tulung dateng tiyang wau, ngandikanipun : Gelis-gelis tulungana mengko dakopahi. Tiyang-tiyang wau lajeng sami rebutan nulungi awit pamrih dateng opah inglang bade dipun tampi. Ingkang saged nulungi rumiyin tiyang istri sampun sepuh naminipun nuyut Nyiah. Kanjeng ratu dipun upokoro kabekto ing griyanipun. Griyanipun nyai buyut nyiah wau wonten ing ngandapipun wit Ploso, ingkang ageng. Kanjeng ratu dereng emut, dereng waluyo taksih semaput, nyai mlati bingung sanget. Dumadakan sunan murya rawuh. Rawuhipun wau mboten dipun sengojo, namung dapur kaleresan sejatosipun sunan murya wau bade nunut mampir sembahyang maghrib. Sareng pirsa wonten kedadosan makaten wau, lajeng enggal-enggal atur pitulungan ngantor Ratu Dwarawati emut lan waluya. Kanjeng ratu nelakaken panarimah saha nyariyosaken sadoya lelampahanipun. Sapan ing mriku dipun namakaken dusun Ploso (griyanipun buyut nyiah ing ngandap wit ploso). buyut nyiah nagih janji nyuwun opah, awit piyambakipun ingkang gelis piyambak nulungi kanjeng ratu. Sak sampuniun dipun opahi kali wau dipun namakaken kali Geli (ngantos sapriki kali gelis mboten campahi diun sumbari sak bebayan).&lt;br /&gt;Kanjeng Ratu Dwarawati kaliyan sunan murya ing dalu wau dereng saged nglanjengaken lampahipun sami nyare ing ploso. dateng gryanipun nyai buyut nyiah. Ratu Dwarawati tuwin sunan murya menika ugi manungsa lumrah, kados dene lumrah-lumrahipun tiyang-tiyang katah menika. Pramila saklebetipun sedalu Ratu Dwarawati ingkang sampun dangu rumaos kasepen(kesepian bhs. Indonesia) lajeng tuwuh raos pepnginan andonsih kaliyan sunan murya (mengisi kesepian). Dasaripun pancen sunan murya menika pekiking warni, pideksa, gagah tur prakoso. Gagasanipun kanjeng ratu iba nikmatipun menawi sedyanipun saged kaleksanan. Pramila ingsak lebetipunsepining dalu kanjeng ratu tansah amikat-mikat sunan murya, supados kersa minangkani sedyanipun nampi sih katrisnanipun. Sunan murya piyambak inggih kados mekaten, penggalihipun wiwit naliko mitulung Ratu dwarawati penggalihipun sampun kraos goreh awit saking kaderenging napsu birahinipun. Pramila patrapipun Ratu dwarawati ingkang tansah amikat-amikat wau, lajeng dipun tanggapi, trus dadi (sami lah po, lah po istilah tiyang kudus). Sedalu menika kanjeng ratu rumaos marem sanget anggenipun nampi leladining asmoro, saking sunan murya. Kagem pratanda agenging panarimahipun kanjeng ratu ngaturaken pusakanipun ingkang arui ageman dumateng sunan murya, inggih menika pusaka Cinde dompyong, kroneng gembolo geni saha sabuk tali wangke (sadoyo menika wau agemanipun saking negari Mojopait).&lt;br /&gt;Dumadakan kesaru rawuhipun sunan kudus, gropyak ing papan panggonan wau. Sunan murya saged lolos ngoncati, nanging kanjeng ratu kapikat (ketangkep basah). Sunan kudus duka sanget dateng Ratu dwarawati. Sinteng tiyangipun mboten duka, Ratu dwarawati menika sampun dangu dipun sengkir, pepisan kemawon dereng nate atur leladi babar pisan, dumadakan wonten kedadosan ingkang makaten. Ingkang dipun dukani mboten namung Ratu dwarawati tuwin nyai mlati kemawon, nanging nyai buyut nyiah ugi tampi duka.&lt;br /&gt;Dipun ujar-ujari jatah-katah awit ingkang dados lelantaranipun. Sabdanipun sunan kudus, benjang ing dusun ploso katah tiyang tuna susila (nyatanipun ngantos sapriki ing ploso, katah tiyangipun tuna susila, ing ngajeng kuburan ploso), plajengipun sunan murya mengetan dipun bujung sunan kudus. Sunan murya kapapag barisanipun joko cendana, dados perang malih, joko cendana sampung manunggal kaliyan benggol singojoyo, ki ageng gribig tuwin ki ageng gulang. Perangipun ing ireng-irenging puntuk, sanggenipun sami perang menika dipun pirsani ki patih wonosalam, tuwin sunan kudus ugi pirsa saking katebihan. Ki patih wonosalam utawi sunan kudus sami anggadahi pananggih ingkang jumbuh, mboten age-age mrambul tumut perang nanging sami ngentosi pundi ing antawisipun ingkang kawon bade kapikat ingkang mumpung dipun tandangi. Pramila lajeng namung dipun tengga ngantos wonten kerampunganiun sunan murya tanding kaliyan joko cendana, benggol singojoyo kaliyan r. Gondokesumo silih ungkih, gebag ginebag, tendang tinendang, rame sanget. Wusananipun sunan murya saged katangkis dateng sunan murya, lajeng nrambul cendana. Benggol singojoyo sumerep kados makaten wau lajeng ugi nrambul mitulungi cendana, temahan dados gelut kuwel tiyang sekawan ruket. Joko sumar ingkang sampun dados prajurit demak sumurup makaten wau, lajeng sekawan-sekawanipun pisan di pun terjang wantun. Ingkang sami gelut ruket wau dados bubar bareng sami mlajeng mangilen. Joko sumar bujung cendana sunan murya tuwin R. Gondokesumo mboten katingal pesarengan plajengipun. Ing mriku dipun namekaken dusun Bareng (pikantuk dening, bubar bareng ing ereng-ereng). Sunan murya katelah buyut tingal (awitan mboten katingal sesarengan kaliyan r. Gondokesumo). Plajengipun cendana tuwin benggol singojoyo kaliyan ki ageng kekalihipun sampun tebih sadoyo wau sami kasatan, kraos kedah ngombe ing mangka mboten wonmten sumber, mboten wonten kali. Sak naliko dados sendang royanipun bening sanget. Dumadakan cendana sumerep bilih jaka sumar nututi, pramila lajeng mlajeng mangilen. Benggol singojoyo tuwin ki ageng kekalihipun sami umpetan. Anggenipun umpetan singojoyo ing nglebet sendang ing ngandaping wit gayam.&lt;br /&gt;Dumadakan sunan bonang langkung dipun derekaken sunan kedu, ingkang sedyanipun bade misah ingkang sami perang. Sunan bonang mireng wonten swanten klubak klubuk ing pendang. Lajeng dipun sapa, nanging wangsul. Wangsul panyapanipun sunan Bonang mboten wangsulanipun. Pramila lajeng kasabda dening sunan bonang = klubak klubuk ana ing banyu, kaya bulus = saknalika awit saking sabdanipun benggol singojoyo dados bulus, ing ngandapa wit gayam kagubil ayad “ ki ageng gribig tuwin ki ageng gulang sumerep kedadosan makaten wau lajeng medal saking pandelikanipun seumungkem ing ngarsanipun sunan bonang. Nyuwun pangaksami dateng kelepatanipun benggol singojoyo, nanging sampun kebacut, mboten saget malih dadfos manungso malih” namung sunan bonang lajeng ngilikaken toyanipun supados bulus wau mboten pejah kagubel ing oyod wit gayam. Lepen wau dinamakaken kali bulusan (ing wetan dusun ngembalrejo pendak ing sasi syawal dipun rame-rameaken).&lt;br /&gt;Nglajengaken cendana tuwin joko sumar anggenipun sami oyak-oyakan, mlajengipun cendana sipat kuping. Joko sumar mboten kiyat nututi, lajeng nyawataken pusakanipun arupi cis. Cendana kengen cis, sak nalika dawah tatunipun awrat sanget, sambat-sambat nyuwun tulung. Joko sumar sumerep mengsahipun makaten wau kaget sanget, lan katingal gela sanget rumaos getun lan kedewung, anggenipun ngantos namani cis dateng mengsahipun. Cendana lajeng dipun rangkul dipun tangisi, cendana gumun sanget dateng patrapipun mengsahipun wau. Pramila lajeng pitaken, menapa sebabipun kok mboten purun mejahi, malah nangisi. Joko sumar waulajeng nglukari destaripun, malih cendani. Kekalihipun lajeng sami rerangkulan tangis-tangisan. Ingkang dipun pikajengaken cendani pejatosipun mboten bade mrajaya kakangipun, namung bade ngemutaken, supados kakangipun emut, lan ngertos dateng kalepatanipun lajeng tumindak ingkang leres. Wasana katrucut ngantos kenging pusaka cis, pusakanipun sunan kalijogo dipun ampil kangge sipat piyandel anggenipun dados prajurit. Joko cendana sampun mboten saget tinulungan malih, ujaripun ingkang pungkasan “menawi piyambakipun lahiripun dampit, sareng kaliyan adinipun pramila kedah ugi pejahipun sareng”, adinipun dipun cakat gurungipun lajeng pejah sampyuh. Sadaya sami dateng ing mriku. Ki ageng gribig tuwin joko kemat lajeng nubruk dateng ingkang sampun pejah, ing mriku dados dusun cendana. Sunan kedu lajeng munduti pusaka-pusaka kados ta cemeti guntur lawe, kotang gondil, tuwin cis, lajeng kabekto mlayu. Ujaripun pusaka wau mboten bade dipun wangsulaken, bilih mboten dipun tedahaken panggenipun sumber panguripan. Sunan kudus lajengh nututi bujung, sadoyo sami sak biyantu ngoyak sunan kedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adegipun Mesjid Kudus : Bab II&lt;br /&gt;Wontenipun petilasan-petilasan dusun colo&lt;br /&gt;Barongan, ngantenan bunuk gong&lt;br /&gt;Lahiripun joko :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panti Kudus&lt;br /&gt;1) Nyai mlati nembe wonten ing patunggonipun piyambagan. Wancinipun sampun dalu, nanging nyai mlati dereng saged tilem najan ta sampun mapan tilem ing patilemanipun, nanging mripatipun dipun erem eremaken mboten purun merem. Hawanipun panasa, sumuk badanipun prungsang, manahipun mboten jenjem kados wonten alamat ingkang mboten sae. Mboten dangu dumadakan sunan ja’ffar sodiq rawuh, pramila lajeng enggal dipun acarani lenggah. Saha nyuwun pirsa, menapa ingkang bade dipun kersakaken. Sunan kudus semunipun awrat tur alot sanget anggenipun bade ngandika. Nanging dangu-dangu lajeng ngandika bilih kersanipun kepingin mundut selir nyai mlati. Dasaripun bilih mboten trisna kaliyan ratu dwarawati, awit sampun karumiyinan sunan murya, nalika wonten ini dusun ploso.&lt;br /&gt;Pinda sinamber gelap tuna, nyai mlati mireng pangandikanipun sunan kudus wau awit mboten kanyana nyata babar pisan. Kanti ajrih nyai mlati matur bilih mboten saged minangkani pamundutipun sunan kudus. Dasaripun ajrih kaliyan ratu dwarawati. Sunan kudus pambujukipun maneka warni pareng janji-janji ingkang muluk-muluk. Dipun ngangkrum, dipun gandrungi, meksa nyai mlati mboten purun. Lajeng dipun rodo peksa, nyai mlati bangga. Dumadakan sunan kudus mireng sabawanipun ratu dwarawati, bade dateng, pramila lajeng mlajeng medal. Saestu ratu dwarawati rawuh, nyai mlati ajrih sanget, kwantos bilih menawi kadangu. Lanjeng kados pundi anggenipun bade mujuk atur. Nanging ratu dwarawati menika putri ingkang ambeg budinipun luhur, pirsa glagat mekaten wau lajeng mboten mundut pirsa menapa-menapa. Namung dawuhaken pelekan, alasanipun bilih sari rani pun kraos sayah tuwin lungkrah. Nyai mlati namung sandika ing dawuh, lajeng nderekaken dateng pidaleman ageng.&lt;br /&gt;2) Taksih wonten ing panti Kudus, wonten ing patunggonipun joko kemat. Kacariyos joko kemat ingkang kapedotan trisna tinilar pejah dening cendani kekasihipun ingkang sanget dipun trisnani, penggalihipun pusak sanget. Mangan mboten ngraosaken eca, tilem mboten saged, dolan mboten jenak, tumandang damel mboten sabar, wontenipun namung kemutan dateng cendani. Nyai mlati dateng ing mriku, joko kemat gupuh anggenipun ngacarani, saha pitaken menapa ingkang dipun kersakaken teka dalu-dalu dateng ing panggenipun. Nyai mlati ngandika anggenipun ngandika wau, katingal sangat ngantos-nantos kwatir menawi aluripun mengke angembuh embuhi susahipun joko kemat. “kakang joko kemat, sak durungi aku njaluk pangapura yen tekaku iki ganggu marang kowe. Sejatini aku arep aweh pitulur marang kowe, nanging yen pituturku mengko kurang nuju prana ing atimu aku nyuwun pangapura”. Joko kemat sajakipun gumun sanget dateng nyai mlati, awit selaminipun mboten nate manggih piyambakipun ingkang mangsakaron makaten menika. Pramila wangsulanipun lajeng nyuwun enggal supados nyai mlati, blakakaken menapa ingkang dipun pekajengaken. Nyai mlati ngandika malih, “ kakang kemat aku ngerti yen dina iki kowe susah sanget awit katinggal mati dening kekasihipun, nanging najan tekak getunane, wong mati ora bakal bali urip maneh, temahan bakal ngrusak awakmu dewe. Mula aku dak kondo, yen wong kelingan banda kuduni ditambani kanti banda, semana ugi yen wong kelangan kekasih ya kudu di tambani kanti kekadih. Yen kekasihmu wis ora ana, supaya kowe ora tansah kelingan lan getun klawan sing mati. Kowe kudu enggala golek ganti kekasih”. Joko kemat ngleresaken menapa ingkang dipun ngandikaken nyai mlati wau. Nyai mlati nglajengaken ngandika, “ tekaku iki, aku arep mitulungi kowe, nanging aku uga njaluk tulung karo kowe “. Joko kemat boten mangertos ingkang dipun kersakaken nyai mlati wau, pramila lajeng pitaken menapa ingkang diun pakajengaken. Nyai mlati mangsuli, “supaya kowe ojo nganti tansah kelingan marang kekasihmu, aku sumadya dadi ganti kekasihmu. Anggonku nyuwun tulung marang kowe ngertio yen sunan kudus ngersakaken aku arep kapundut selir. Nanging aku ora bisa nglakoni awit iku garwani bendaraku. Mulane amrih, sunan kudus ora nerusakake kersani wau sarujuk ana karepku iki aku dadi bojomu”. Joko kemat gembrojos kringetipun medal sadoyo, awit nyai mlati najana namung abdi emban, nanging abdinipun ratu. Rumiyin putri kraton, dados menawi dados bojonipun kemat menika mboten tanding babatipun. Pramila joko kemat lajeng bingung. Bingungipun bade dipun tampi ajreh menawi wonten dukani sunan kudus, bade dipun tampik, nyai menika ayu sanget. Nyai mlati ngertos ingkang dipun kwatiraken joko kemat, pramila lajeng ngandika malih, “kakang kemat, yen aku wis dadi bojomu, sunan kudus ora bisa nglupatake marang kowe utawa aku. Awit wong jejodoan mono pepatokan kanti jambuhing katresnan, ing antarane lanang lan wadon. Upa aarep duka, nganggo migunakake panguwasane dak kira ora wani, sebab panjenengan wedi marang ratu dwarawati. Kanjeng ratu mesti ora arep kendel. Kejaba saka kuwi sunan kudus mesti kwatir yen nganti ratu dwarawati duka lan ora kersa atur leladi marang panjenengan sunan kudus”.&lt;br /&gt;Ngandikanipun nyai mlati wau mapan sanget lan maton, pramila joko kemat lajeng namung nderek sarujuk. Nyai mlati dipun tampi. Lajeng sami rembagan nemtokaken dinten bade dateng gulang, matur dateng bapakipun ki ageng gulang. Dumadakan dereng kemawon rampug anggenipun sami rerembagan, wonten murid ingkang dateng nyelatu dateng joko kemat. Ujaripun bilih kemat tuindak ingkang murang tata, awit wantun pepanggihan kaliyan nyai mlati ing papan ingkang sepen tur mangsa karon. Cekakipun joko kemat dianggep mlanggar. Mekaten wau dados pasulayan, dipun aturaken sunan kudus. Joko kemat lajeng dipun dukani katah-katah lajeng dipun usir. Nyai mlati ugi dipun dukani, lajeng dipun kebonaken, mboten kepareng derekaken ratu dwarawati, dipun dunungaken ngempal kaliyan para pasuwitan. Japanipun wau dados dusun Narawito (para nara pasuwitan). Joko kemat susah sanget lajeng wangsul dateng gulang, nanging ing margi kepanggih kaliyan sunan kedu. Joko kemat mangertos bilih sunan kedu menika wonten pesambungan ingkang raket kaliyan ratu dwarawati, pramila lajeng nyuwun tulung dateng sunan kedu, supados saged kaleksanan kliyan nyai mlati. Sunan kedu ngandika, “bab kuwi mungguhe aku gampang banget, awet nyai mlati kuwi abdine ratu dwarawati, dudu abdine sunan kudus. Kanti waton kanjeng ratu maringaken temtu sunan kudus mboten saged tumindak menapa-menapa. Aku saguh nyuwunaken nanging aku duwe bebana. Bebanaku aku mundut ganti pusaka bende kyai macan guguk” joko kemat mangertos bilih ingkang dipun pitaya ngreksa, sadaya pusaka lan kalangenanipun sunan kudus menika ki jenas, pramila lajeng nyagohi bade budidaya, manggihaken bende kyai macan guguk.&lt;br /&gt;3) Ing griyanipun Ki Janas&lt;br /&gt;Ki yanas menika abdi kinasihipun sunan kudus, ingkang dipun pitaya, ngriksa gamelan, pusaka, tuwin kalangenipun sunan kudus kados dene peksi tuwin sawung.&lt;br /&gt;Nalika semanten ki yanas nembe nglaras kempul (gong). Nanging sajakipun, rekaos sanget anggenipun nindakaken, sampun meh sepasar laminipun anggenipun nindakaken meksa dereng saged kaleresan. Ki yanas ngantos judeh sanget manahipun wongsal wangsul kempul wau, dipun tutuki di pun kikir, ngantos gembrobyos kringetepun dleweran, rainipun mangar-mangar meksa dereng saged kaleresan. Dumadakan joko kemat dateng, sumerep menawi ki yanas, makaten wau lajeng anggadahi pangenten enten bilih kempul wau temtu bende macan guguk, ingkang sengaja bade dipun owahi larasipun. Bende macan guguk menika bende sekar delima, pusaka mojopait. Kados kacariyosaken ing ngajeng bilih sunan kudus, sengaja kepingin melikaken pusaka wau. Amrih mboten kapirsan dening tiyang demak bintara, najan ta naminipun sampun di pamelik, nanging larasipun ugi bade dipun owahi, makaten gagasipun jaka kemat. Ki yanas, lajeng dipun caketi kanti ngantos-ngantos sanget, joko kemat matur dateng ki yanas bilih piyambakipun ugi saged nglaras gamelan, lan saguh tumut ngrincangi nglaras kempul wau. Aturipun menika warni, amrih dipun percados dening ki yanas, kepareng tumut ngrincangi nglaras kempul wau. Ki yanas ingkang pancen nyatanipun, nembe karepalan saestu, pramila aturipun kemawon wau dipun sarujuki lan enggal-enggal kapurih nandingi ing sak lajengiun joko kemat kangge nglimpekaken ki yunas, lajeng dok-dok anyuwun supados dipun padosaken blimbing wuluh, alasanipun blimbing wau kangge sarana nggampilaken anggenipun nglaras. Ki yanas tanpaka pikir panjang, lajeng kesah pados blimbing wuluh, kempalipun dipun pasrahaken joko kemat. Sak sampunipun sareng ki yanas danas kaliyan bekto blimbing wuluh, sepunten kagetipun sareng sumerep bilih joko kemat tuwin kempalipun mboten wonten. Awit saking ajrihipun dateng dukanipun sunan kudus, pramila lajeng madosi joko kemat.&lt;br /&gt;Jok kemat manggihi sunan kedu, kempul dipun wau dipun aturaken. Aturipun bilih kempul menika bende macan guguk. Sunan kedu ingkang dereng nate pirsa piyambak wujudipun bende macan guguk, pramila lajeng namung percados. Penggalihipun remen sanget, sunan kedu gumuyu ngakak. Dumadakan wonten gaib, wonten asep (pega utawi kebul), kemelun ngantos mahanani swasana ing literipun mriku peteng ndedet lelemengan. Sak icalipun asap wau, wonten cahaya mencorong ing sak wingkingipun cahya, ketingal jumedulipun sinuhun prabu brawijaya kertabumi, ngagem ageman keprbaon. Sunan kedu tuwin joko kemat sami ajrih lajeng sami sujud, semungkem ngaturaken pangabekti, saha nyadongi ing dedukanipun. &lt;br /&gt;Prabu brawijaya ngandika katingalipun birawa, “ Ki citra bangsa ojo kakbacutake niyatmu, arep ngrangsang negara demak bintara. Sebab durung titi wancini, manut marang sabdani kyai sabdo dalon lan noyo ginggon, supaya nunggu 500 tahun maneh (kapitung saking tahun adegipun negari demak bintara ing tahun 1478). Kajaba saka kuwi, bende iku dudu bende macan guguk, ya bende sekar dlima. Bende sekar dlima iku titikane yen di tabuh swarane ngengkung, kaya macan giro. Mulane di jenengake macan guguk dening sunan kudus. pusaka-pusaka kang kok simpen kaya pusaka kotang gondil, cis, lan cemeti guntur lawe coba kene dak simpene. Pusaka-pusaka kuwi ora kena kanggo sembarangan. Sisip tembire bakal nempuhake marag awakmu dewe”. Pusaka-pusaka wau lajeng sami dipun aturaken dumateng prabu brawijaya. Sesarengan kaliyan nampani pusaka wau sang prabu musna. Sunan kedu tuwin joko kemat sami domblong awit saking gumunipun. Sak lajengipun sunan kedu taksih dereng percados dateng bendenipun, bende dipun cobi, katabuh saestu swantenipun bunek, mboten ngungkun ngumandang. Tetela manawi saestu sanes bende skardlima, nanging bende lumrah. Sunan kedu jengkel sanget, bende wau dipun banteng ngantos amblesing bumi. Mboten antawis dangu buminipun wau lajeng mandukul kados puntuk alit, benunuk kados gong, pramila ing mriku dipun namekaken bunuk gong (ing dusun gribig keprem sisih kidul, wonten ngandap wit randuwono, utawi wingingking asrama militer). Sunan kedu lajeng tindak joko kemat dipun tilar tanpa dipun pamiti, lan ngandika menopo-menopo. Joko kemat bingung sanget, awit mboten estu pikantuk nyai mlati lan bingung anggenipun bade tumindak, upami wangsul dateng gulang ajrih menwai dipun padosi tiyang-tiyang sunan kudus. joko kemat lajeng kesah dateng murya bade suwito dateng sunan murya.&lt;br /&gt;4) Ing Panti Kudus&lt;br /&gt;Ki yanas lapuran dateng ngersanipun sunan kudus bab tumundakipun joko kemat lan ugi matur bilih joko kemat sampung ing kasunan murya. Rehning sunan kudus menika memengsahan kaliyan sunan murya, aturipun ki yanas wau, sunan kudus lajeng duka sanget mboten namung dateng joko kemat kemawon nanging ugi dumateng sunan murya. Pandakwanipun bilih joko kemat wonten tumindak makaten wau temtu sunan murya. Pramila menika sunan kudus lajeng kepengen damel dadakan supados saged aben ajeng kaliyan sunan murya. Kacariyos rumiyin sunan murya mati kawon adu ngelmu kaliyan sunan kudus, ingkang kawon notohaken banda. Bondo-bondo wau dereng dipun boyongi dening sunan kudus. sedyanipun bondo-bondo wau lajeng bade dipun boyongi. Nanging pamboyonganipun mboten bade atur cecalo rumiyin kaliyan sunan murya. Ing ngujup supados sunan murya wau nesu, menawi saestu sunan murya mboten narumakaken. Bade dipun tataki kanti adu kekiyatan lan kesakten, murid-muridipun lajeng sami irid dateng murya.&lt;br /&gt;5) Kasunan Murya&lt;br /&gt;Sunan murya nembe pepanggihan kaliyan R. Gondokesumo ingkang dipun rembag bab anggenipun kepengen rerukunan kaliyan sunan kudus. nanging angel sanget anggenipun minangkani. Awit sunan kudus tansah wonten-wonten kemawon anggenipun damel dadakan pasulayan. Mboten antawes dangu, joko kemat sowan matur bilih sunan kudus sampun mrentahaken murid-muridipun boyongi bondo-bondo murya, ingkang mboten atur cecolo langkung rumiyin. Sunan murya lajeng dedancangan tindak nakjenaken anggenipun mirsani saking nginggil puntuk. Saestu sunan murya sumerep bilih murid-murid kudus, sami boyongi bondo-bondo saking kasunan murya. Dusun mriku dipun namakaken Colo (pikantuk dening tanpa cecolo bondo-bondo murya dipun boyongi).&lt;br /&gt;Sunan murya mboten narimah, dateng pakartinipun sunan kudus makaten wau. Pramila lajeng prentah dateng muridipun ki wergu tuwin ki warga, nyidra ratu dwirawati, garwanipun sunan kudus supados kabayong dateng kasunanan murya. Pepetanganipun sunan murya menawi bondobondo murya dipun boyongi sunan kudus, kagem lintunipun kedah garwanipun sunan kudus dipun boyongi dateng murya, ingkang dipun utus lajeng bidal joko kemat ugi nderek awit piyambakipun ugi betah boyongi nyai mlati.&lt;br /&gt;R. Gondokesumo ngandika bilih patrapipun sunan murya wau mboten leres, awit menawi saestu klampahan ratu dwarawati kaboyongi dateng murya, bade tampi dukanipun sultan akbar alfatah. Sebabipun cumondokipun ratu dwarawati ing kudus wau saking kersanipun sultan akbar alfatah, ingkang dipun ganjeraken sunan kudus. sunan murya lajeng kedawung anggenipun prentah dateng siswanipun wau, nanging penggalihipun dereng narimah bilih bondo-bondonipun dipun boyongi dateng kudus. pramila lajeng dawuhaken sabda bilih bondo-bondo saking murya mboten saged dumugi ing psnti kudus. saestu mandi sabdanipun sunan murya. Murid-murid kudus anggenipun boyongi bondo-bondo sareng dumugi ing wetan kali gelis, lajeng sami mboten kiyat. Bondo-bondonipun wau dipun selehaken ngantos buminipun ledok, mandelong. Ing ngriku dados dusun ledok (pramilo ing mriku katah tiyang sugih). Kadadosan makaten wau sunan kudus mangertos, bilih saking sabdanipun sunan murya, pramilo penggalihipun panas sangat. Mboten antawes dangu wonten lapuran bilih ing panti kudus wonten maling, utusan saking murya, nyidra ratu dwarawti kaliyan nyai mlati. Sunan kudus lajeng gegoncangan bujung malingipun joko wergu utusanipun sunan murya kapregok, lajeng dipun pejahi, dados dusun wergu (sak caketipun setasiun sepoor). &lt;br /&gt;Ratu dwarawati kabekta mlajeng ki warga, ngidul ngilen purugipun. Nyai mlati mlajeng ngilen urut lepen gelas dening joko kemat. Joko ndelik ing lebeting barongan (rumpun bambu : greng), nanging konangan murid-murid kudus. dipun gropyok mlajeng malih mengidul. Ing mriku dados dusun Barongan (caket dusun kramat). Joko kemat tuwin nyai mlati sami pasrah dumateng ngarsanipun gusti ingkang maha kuasa, awit sampun saged lolos meleh saking pakepungan. Tiyang kekalih wau lajeng lenggah jajar kados temanten nyuwun kapejahan sareng, dening sunan kudus. nanging sunan kudus mboten kersa mejahi nyai mlati, ingkang dipun pejahi joko kemat. Nyai mlati kawong sulakaken ing narawita. Papan wau dipun namakaken dusun ngantenan (kidul dusun barongan). Kacariyos ki warga ingkang bekta mlajeng ratu dwarawati kakroyok ngantos pejah. Batangipun dipun cacah-cacah ajur sak walang-walang (dados pedayangan ki batang). (panggenipun ing sak caketipun asrama militer caked patung achmad yani ing dusun jati). Sunan murya duka sanget awit muridipun pejah ngantos dadi perang campuh kaliyan sunan kudus katah bebanten (banyak korban) akeh batang, rahayunipun peprangan wau mboten dangu saged sirep awit dipun sapih dipun pisah dening sunan bonang. Kanjeng ratu dipun wangsulaken ing panti kudus. Sunan kudus janji dateng sunan kudus bilih mboten bade ngajak pasulayan kaliyan sunan murya. Nanging sunan kudus dereng purun nampi prasetiyanipun sunan murya wau, ngandikanipun kedah nyuwun buktinipun lajeng kondur.&lt;br /&gt;Sunan murya ngaturi sunan bonan mampir dateng kasunanan murya, kangge tanda panarumahipun, sunan bonang bade dipun aturi pakurmatan pasegahan daharan ing kasunan murya. Sunan bonang ngandika, “Sunan murya aku gelem mampir ing kasunan murya nanging aku mundut pasugatan iwak seng dadi karemaku (kegemaranya)”. Sunan murya nyagohi lajeng sami sewang ing lampah sunan bonang dipun derekaken R. Gondokesumo tindak dateng murya. Sunan murya pados ulam ingkang dados keremanipun sunan bonang.&lt;br /&gt;6) Ing Kasunan Bonang&lt;br /&gt;Sunan murya dateng bonang awet pamanggihipun ingkang mangertosi karemanipun sunan bonang, temtu nyai bonang piyambak awet menika garwanipun.&lt;br /&gt;Saestu sunan murya manggihi nyai sunan bonang, ratu siyem asmanipun. Ing mriku sunan murya mundut pirsa, dateng ratu siyem ulam menapa ingkang dipun karemi sunan bonang. Ratu siyem tanggap lan mangertos ingkang dipun kersakaken sunan bonang. Ceritanipun sunan bonang mundut pasunggatan leladinipun lare estri (minta gadis murya). Pramilo nyai bonang dawuh kanti pasimon, menawi karemanipun sunan bonang ulam bandeng ingkang mawi anting-anting. Sunan murya ugi lajeng tanggap ing pasemon wau, pramila lajeng nyuwun dateng nyai suna bonang kersa dateng murya, bade dipun segahaken sunan bonang. Makaten punika kersanipun sunan murya kagem ngemutaken sunan bonang. Sareng sunan murya sampun pinanggih kaliyan sunan bonang, lajeng matur bilih sampung pikantuk ulam ingkang dados karemanipun, awujud ulam bandeng lan sampun kasedyakaken ing nglebetipun kantel (kamar). Tanpa kapanggalih langkung pnjang sunan bonang lajeng mlebet dateng kantil. Dumadakan ing mlebet kapanggih nyai sunan bonang, bojonipun piyambak. Kanjeng sunan bonang dipun ujar-ujari dening garwanipun ngantos kawirangan sanget. Sunan bonang lajeng gegancangan kondur tanpa pamit dateng sunan murya.&lt;br /&gt;Dereng ngantos tebih tindakipun sunan bonang, dumadakan pinanggih tiyang ngemis ingkang nyuwun sedekah. Tiyang ngemis wau lajeng dipun paringi arta, nanging anehipun tiyang ngemis waumboten purun. Tiyang ngemis aturipun nyuwun barang ingkang dados karemanipun. sunan bonang rumaos dipun semoni dening tiyang ngemis wau. Tiyangipun lajeng dipun dukani dipun tendang dipun cempalani. Dumadakan gamanipun tiyang ngemis wau mencelat dawoh. Gamanipun arupi keris. Sunan bonang pirsa, lajeng gama wau dipun pundut lan dipun titi pirsa. Sepinten kagetipun sunan bonang wau saking mangertos bilih gaman wau pusaka keris kyai sengkelat.  Pusaka agemipun prabu brawijaya ing mojopait. Tiyang ngemis wau lajeng dipun dangu, saking pundi pikantuk pan pusaka wau, malah tiyang ngemis wau kadakwa bilih kyai sengkelat wau anggenipun nyolong. Tiyang ngemis wau matur bilih gamanipun piyambak, tinggalanipun tiyang sepuhipun. Temtu kemawon sunan bonang mboten percados, nanging tiyang ngemis wau panggah aturipun bilih gamanipun piyambak. Sunan bonang jengkel, tiyang ngemis bade dipun tamani pusaka kyai sangkelat. Nanging dereng kemawon klampahan tanganipun sunan bonang ndredek, kraos lemes, kados dipun lolosi otot banyunipun kados kenging doyo gaib. Tiyang ngemis sak nalika malih prabu brawijaya, kaliyan ngacungaken tanganipun nedahaken ing drijinepun wonten tanda, ageman sesape tanda keprabon. Ingkang sesocanipun mancorong, dumunar amblerengi. Sunan bonang lajeng sujud sumangkem nyuwun pangaksami. Sang prabu ngandika, sunan bonang dipun utus ngupadi bumi kang ganda arus, kangge anengkaraken wijining jambe jebug. Sunan bonang tanggap dateng paseponiun sang prabu. Ceritanipun wekdiwinpun pasemoni wau. Jambe jebug menika makananipun saleranipun sang prabu piyambak ingkang sampun sepuh. Bumi kang anggada arum menika sanepanipun prameswari ingkang asulestiya, kangge mancaraken wijinipun sang prabu. Sunan bonang lajeng tuwuh penggalihan bade males sunan murya, pramila sang prabu lajeng dipun derekaken tindak dateng murya.&lt;br /&gt;Sak sampun dumugi ing murya, kaleresan sunan murya mboten wonten. Ingkang pinanggih namun nyai sunan murya ingkang nembe gerah waja. Sunan bonang nawahaken tombo kagem tambanipun gerahipun nyai sunan murya. Tambanipun arupi jabe jebug : jambe dipun tampi dening nyai sunan, lan dipun dahar sak nalika waluyo gerahipun. &lt;br /&gt;Ceritanipun pasemonan wau makaten. Nyai sunan murya gerah waja, menika nyai sunan murya gerah panggalihipun runtel penggalihipun awit nampi lapuran bilih sunan murya nate andon asmara utawi karaonsih, remen kaliyan ratu dwarawati, nalika ing dusun ploso. Nyai sunan murya menika ugi putri boyongan saking mojopait. Rumiyin abdi ampilipun prabu brawijaya piyambak. Pramila sang prabu rawuh ing murya (jambe jebug dipun dahar), menika rawuhipun sang prabu lajeng dipun  caosi leladi ngantos sami maremipun (waluyo). Jambe jebug saged tukul ngrambaka ing bumi ingkang angganda arum, cetanipun nyai sunan murya garbini, sunan murya dangu-dangu pirsa, pramila lajeng dipun dangu. Sinten ingkang dados lelantaranipun garbini. Awit salamanipun ing murya nyai sunan dados boyongan dereng nate ngladosi sunan murya, jebul sak menika garbini. Nyai sunan wangsulanipun, ingkang dados lelantaranipun garbini tiyang ingkang kagungan pusaka kyai sengkulat. Makaten wau kaliyan ngaturaken pusakanipun, sunan murya mangertos bilih ingkang kagungan pusaka kyai sengkelat makaten wau mboten sanes namung prabu brawijaya. Pramila keris dipun pundut, nyai sunan dipun tundung, dipun dawuhi bilih tanpa gina cumondoking murya. Putri ingkang mboten setya ing kakung. Maneka warni ingkang dipun ngendikaken, Nyai sunan langgar saking murya, tindak sapurug purugipun, tanpa arah tujuan awit bade tindak dateng demak bintara ajrih menawi dipun dukani sultan akbar alfatah. Bade madosi sang prabu brawijaya mboten mangertos wonten pundi cumondokipun. Tindakipun namung kaderekan abdi emban.&lt;br /&gt;Keris kyai sengkelat wau dados kagunganipun sunan murya, amrih mboten konangan sultan akbar alfatah, pusaka wau dipun elik keris kyai rambut pinutung. &lt;br /&gt;Kacariyos tindakipun nyai sunan murya dumugi ing kudus, lajeng jumujug norowito ing papan panggenanipun nyai mlati. Kersanipun bade ngawontenaken pepetangan kaliyan ratu dwarawati. Nanging ratu dwarawati mboten kersa manggihi, aturipun nyai mlati bilih kanjeng ratu nembe semedi ing panepen, mboten kersa dipun panggihi dateng sinten tiyang. Nyai sunan murya ngentosi ing norowito. Selamanipun wonten mriku nyai sunan babaraken miyas kakung. Sunan kudus midanget lajeng nakjinaken dateng norowito. Iba muntaping napsunipun sareng mangertos bilih nyai sunan murya ing norowito ingkang tanpa nyuwun ppalilahipun malah nglahiraken putra. Putranipun lajeng dipun pundut karebat bade dipun prajaya. Awet menika putranipun mengsahipun, nyai sunan murya mboten kemawon nanggulangi sunan kudus, putra saged karebat, lajeng kabekta dening sunan kudus, nyai sunan nututi.&lt;br /&gt;Bayi wau kabekta dateng griyanipun ki yanas, abdi kinasihipun kapurih mejahi. Ki yanas ing sakawit mboten purun awit bayi wau dereng anggadahi dosa, nanging rening katindes ing penguwasa. Ki yanas kapeksa bade mejahi bayi wau, nanging dereng kemawon klampahan dumadakan sunan kalijogo rawuh, tetulung. Bayi kapundut saha mundut pirsa menapa sebabipun bayi dipundut prajoyo. Aturipun sunan kudus, kados ing ngajeng dupeh menika turunipun sunan murya mengsahipun. Sunan kali lajeng ngandika, bilih sagah tumut ngrencangi mejahi turun-turunipun sunan murya, saha dawuh bilih ing panti kudus ugi wonten turunipun sunan murya. Sunan kudus mboten mangertos ingkang dipun ngandekaken sunan kali wau. Pramila lajeng mundut pirsa ing pundi wonten turunipun sunan murya. Sunan kali lajeng ngajak sunan kondur ing panti kudus.&lt;br /&gt;7) Ing Patunggonipun ratu Dwarawati&lt;br /&gt;Ratu dwarawati anggenipun mboten kersa manggihi nyai sunan murya, alasanipun bilih nembe ulah semedi. Menika sejatosipun ratu dwarawati piyambak nalika semanten ugi garbini. Awit ajrih menawi kadenangan sunan kudus. pramila lajeng mempen ing patunggon mboten kersa dipun panggihi dateng sinten kemawon. Ratu dwarawati nimbali nyai buyut nyiah ing dusun ploso, dipun tempuhi kapurih madosaken srana. Supados bayi ingkang dipun kandut manika ical utawi gugur. Awet kanjeng ratu ajrih menawi kadenangan sunan kudus temtu nampi duka. Awit selaminipun ing kudus dereng ngladosi sunan kudus babar pisan. Buyut nyiah mboten saguh awit ajrih ing di dosa. Dumadakan sunan kali rawuh kaderekaken sunan kudus. Sunan kali ngandika bilih ratu dwarawati garbani, putra ingkang kakandut wau putranipun sunan mura, nalika wonten ing dusun plasa. Sunan kudus kadawuhan mrajaya putra ingkang taksih kakandut wau, temtu kemawon sunan kudus mboten kersa. Awet menika putranipun ratu dwarawati ingkang dipun tresnani, lajeng narimah kawon sunan kudus nyuwun kaliyan sunan kali supados bayinipun enggal lahir. Sunan kali paring sarana, dipun pundutaken krikilipun kali gelis, dipun ekum toya. Toya nipun diun unjukaken ratu dwarawati, makaten wau pikantuk berkahing gusti engkang maha kwasa, bayi lahir miyos kakung (ila ilanipun menawi wonten bayi engkang angel lahiripun saged dipun tulungi kaliyan kumkumanipun krikil kali gelis). Kanjeng ratu mundut supados bayinipun dipun paringi asma (tenger). Sunan kudus namung maringi asmaipun joko, bade nglajengaken joko menapa. Penggalihipun bingung awet sanes patrapipun. Pramila lajeng nyuwun tulung supados sunan kali kemawon engkang maringi asma. Sunan kalijogo maringi asma joko rachmad (awit pikantuk rchmading gusti ingkang maha agung bayi lahir kanti wilujeng). Sunan kudus matur dumateng sunan kali bilih mboten bade memengsahan kaliyan sunan murya. Ing sak lajengipun putranipun nyai sunan murya ingkang bade kaprajaya sunan kudus wau kapundut sunan kalijogo ka asto kondur dateng kadilangu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegipun Mesjid Kudus Bab III&lt;br /&gt;Wontenipun desa Pejaten Kerjasan&lt;br /&gt;Sumber panguripan tuwin menara Kudus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ing petajen (glangan pertandingan pencak ing sak caketipun griyo kapal jember).&lt;br /&gt;Ning... nong.... ning... ning gong... ning ... nong... ning gong. Dang dang gung 2x. Tung tung gung. Mangkono swarani gamelan agung kang rame banget. Swasana ing desa petajen ing dina iku rame banget. Bakul-bakul andir werna-werna kang pada di edol, sing akeh bakul jajanan, panganan, wedang dawet cendol, gempol pleret lan liya-liyane. Pendak-pendak ana mengkono kuwi ing pekaten lagi ana pertandingan pencak utawa istilahe ana encak encik. Najan ta ing petajen wis makaping kaping ana tontonan encak encik, nanging sunan ja’far sodiq, si joko nimbali pendekar-pendekar sakti soko ngendi-ngendi daerah, saperlu di adu kasektene utawa kapinterane ngenani bab ilmu pencak. Mulane ora langka yen ing dina wau ing petajen rame banget.&lt;br /&gt;Ramene wong-wong kang podo nonton, ramene para bakul-baukl kan pada mremo, ora keri para botoh-botoh kang seneng totohan. Keramen wau wis klakon patang dina lawase. Dina ini dina kang pungkasan. Jangkepe sepasar, sesuk wes ora ono meneh. Ing dina iki bakal nemtokake kemenangane pendekar-pendekar kang wingi-wingi wis entuk kemenangan. Cetone iki dina adon-adone pemenang lawan pemenang (semi final). Kang metoni petajen mung pendekar-pendekar kang sakti-sakti tok. Gamelane swarane sang saya suwe sang saya banter, rame ngungkung. Kendange muni kekablak, mratandakake ora suwe meneh bakal diwiwiti tandingan. Dumadakan keprungu nom-noman pawakane gagah prakasa, kereng, klambine abang potong gulon cina. Katoke ya abang komprangan, sarunge plekat kotak-kotak putih di bentengake singset, nganggo iket modang. Iketane cara madura. Pendekar wau saka desa wedari (sak lor kuta pati saiki). Pendekar mau seng kondange mawa gelar encuk ndari, kang tau tate wes tau ngalahake pendekar-pendekar sakti saka manca desa. Encik ndari wau kalebu pendekar lurugan. Nyatane pancen ya tenan, sak jrone patang dina kang wis klakon, encik ndari mau bisa ngalahake pendekar wolu cacahe.&lt;br /&gt;Sak wise uluk salam marang pendekar-pendekar kang pada lungguh kapeng ing pinggir petajen, lan para penonton. Encik ndari mau banjur miwiti pencake, pencak kembangan kang sengaja kanggo pameran. Mamerake menyang duwure ilmune. Ngantos apik temenan, mula ora aneh yen paguron pencak ndari kondang, mangonang onang kawentar marang encik ndari mau. Sak sawisi rampung bali uluk salam maneh. Binarungan surak rame mawarahan saka penonton kang kaya-kaya  atur wangsulan salam marang encik ndari mau. Kang wis mungkasi pamerane ilmu pencake. Ora antara suwe ing petajen duwur muncul pendekar jenenge karjasa. Pawakani cebol kepalang cendek ora duwur yo ora dempal dada bau. Sandangane iket wulung, kadok beneset, klambine lan katoke komprangan warnane ijo nyamber lilin. Sarunge sarung samarinda wawungu kang singset di bentengake. Pendekar karjasa iku kalebu pendekar tua ing kuto kudus kono (pendekar tuan rumah). Muride tanpa wilangan cacahe mulane ora aneh, surake wong-wong rame banget amboto rubuh, bareng podo weruh yen pendekar kerjasa kang meton ing petajen.&lt;br /&gt;Kaya patrape para pendekar-pendekar sak durunge menika mamerake pencak kembange, atur hormat disik marang wong-wong kang ana ing petajen. Nanging hormate pendekar karjasa beda banget karo hormate pendekar-pendekar liyane. Hormate pendekar karjasa katon susilo banget. Patrape anggone hormat sirahe dingkluk, awake di bungkukake tumungkul, kaya wong kang lagi ngromati priya gung luhur. Mangkono mau mratandake yen pendekar Karjasa wong kang luhur ing budi jangkep kasusilan. Pamerane pencak kembangan mung sak watara, kaya-kaya mung sak cukupe wae. Sak wese rampung banjur atur sasmita marang mungsuhe, ya iku encik ndari. Pendekar Karjasa biyen wes tau di kalahake dening encik ndari, naliko rong taun kang kapungkur ana ing petajen Demak bintara. Anggone ngleboni ing dina iki, karjasa sengaja kepengen males, nebus marang kekalahane. Encik ndari banjur mlebu in petajen, surake penonton rame banget kaya jebol-jebolake jaged. Ak wise pada salaman banjur podo miwiti pencake, aduk kawaspadan lan kaprayitan, sapa kang lena bakal nemoni papa. Kang sawiji ngantem, kang sawiji ngendani, trengginas, nyepak, jotos, mengkal ora gelem aweh papan marang mungsuhe kanggo males. Pendekar Karjasa pencake kaya macan kang lagi kerah. Patrapipun tansah ngendekake awake nanging prayitna lan waspada nanggulangi penyerange mungsuhe. Pendak-pendak ana penyerange mungsuh di endani nanging endane maumung sak cukupe wae, banjur nyusuli nyerang mungsuhe, kaya-kaya yen mungsuhe mau ora prayitna mesti kena di cakar dening Karjasa kang pinda cakare macan gembong. Tetandingane encik ndari lan pendekar karjasa ora perlu dak critakake dowo-dowo mung cukup dak pungkasi kang kalah encik ndari. Pendekar kerjasa kaleksanan bisa males ngalahake mungsuhe, saiki genti kang mlebu petajen. Si joko putrane sunan ja’ffar sodiq pawakane gee duwur, gagah prakasa, bagus rupane, dasar putrane sunan, sugih banda duwe panguwasa, sekti mandraguna.&lt;br /&gt;Watake si joko mau asoring budi, candala, angkuh, menang-menangan moh di asorake. Opo maneh menang, kalah wae emoh di arani kalah. Naliko semono si joko wis rampung kang metone ing petajen. Pendekar-pendekar kang ana ing petajen ora marga wedi yen kalah karo si joko ora. Nanging anggone pakewuh marang sunan kudus. kadadeyan mengkono mau, si joko kang watake kang asor ing budi, di arani yen wong-wong mau podo ora wani karo dewekne. Pendekar-pendekar kang wedi getih, dudu wong lanang, nanging wong wadon kang kembenan aminting minting. Akeh-akeh sesumbare, dumadakan ana nom-noman kang mlebu ing petajen. Nom-noman mau joko mantingan saka paguron lemah gunung (caketipun dusun gribig). Joko mantingan rumangsa kanyonyok atine, krungu sesumbara si joko. Gampange critan, tandingan diwiwiti gamelan ngungkung rame banget, pendah keprungu surak rame sebab kang pada tetandingan ana kang kakenan. Luwih-luwih yen kang kakenan mau joko mantingan. Ramenepun ora jamak, awet akeh kang pada jagoni si joko, pancen uga sakti. Joko mantingan yo ora kalebu pendekar cilik-cilikan, dewekne uga kalebet pendekar manca desa. Malah nalika ing demak bintara, tau ngalahake prajurit demak. Mulani ing sak jrone tetandingan mau joko mantingan ora gampang dikalahake. Si joko kang jumbuh karo watake mau, bareng ngerti yen mengsahipun ora kena kanggo baen-baen, mula banjur ngetog kabisana kapinteran di tumplak kanggo ngalahake joko mantingan. Rame banget tetandingane. Tetandingane pendekar nom-noman kang podo-podo emoh dikalahake, lan jogo marang kuncarane paguron dewe-dewe. Pungkasane joko mantingan embuh kena opo ora ngerti, dumadakan mripate krasa pedes nganti ilang ing kawaspadane, nganti kena di antepi dening si joko, nganti glangsaran tumiba ing pinggir petajen. Wong-wong podo saorak rame banget. Si joko bedodog atine rumaos yen unggul jurite. Jumbuh karo watake si joko, weruh mungsuhe koyo mangkono mau banjur di teter di antemi, ora diwenehi papan kanggo ngendani. Joko mantingan kena di jungjung dening di joko di angkat arep di banteng diman pecah sirahe. Sengaja arep di pateni supaya wong-wong pada ngerti yen joko bisa mateni mungsuhe ing jrone petajen. Nanging durung wae kaleksanan dumadakan ana cina loro, tetulung joko mantingan. Si joko di terjang dening cina mau. Cina kang sawiji nyandah joko mantingan di gendong banjur mlumpat bareng metu saka petajen, trus minglar ora katon. Wong-wong kang ana ing petajen pada gumun banget, swarane rame banget pada takon tinakon. Sapa cina mau, saka ngendi lan apa sesambungane karo joko mantingan. Akeh-akeh kang podo di ucapake nanging siji wae ora kang bisa aweh wangsulan. Sapa sejatine cina mau. &lt;br /&gt;Joko banjur nimbali ki yanas kanggo anakoni, di dangu opo wis tau weruh marang cina loro wau. Ki yanas dewe uga ora mangerteni. Setajen wes rampung, wong kang podo nonton podo bali, swarane rame umjeg kang pada cinatur. Warno-warno kang pada di rembug, ana kang ngalembana si joko, nanging saweneh uga ana kang ngeloni joko mantingan. Nanging kang luwih rame bab anane cina loro kang nyala wadi mau. Warna-warna kandane, nganti ora ana enteke.&lt;br /&gt;Kacapa pendekar cina loro wau, bareng wes adoh saka petajen tekan ing papan kang sepi. Wancine bengi, kabener ing wanci wulan purnama. Rembulan padang jingglang kekencaran, madangi jagad sumunar cahyaning pinda mas dinangkling. Swasapa ing papan mau sepi, tentrem angine semilir, hawane kepenak banget, binarang swarane jangkrik ngerik, walang ngecek, sajake asri banget. Ana ing ngisor wit randu wono kang gede banget, cina loro wau ngupakoro joko mantingan kang lagi nandang papa. Bareng joko mantingan wes rada kapenah, banjur pitakon marang cina loro mau. Wangsulane kang sawiji arane she ling siang, kang sawiji maneh arane ge ling siang. Asali saka negara siyem. Nanging wes watara suwe dumung ing jepara, nderekake gurune pendekar tegowanu arane (pendekar Tegowanu iki pendekar cina, embuh sapa jeneng asline, penulis durung bisa nemukake). Pendekar cina loro mau ahli ukir, kang misuwur banget. Tekanipun ana ing petajen mau, pancen sengaja kepngen nonton para pendekare kang pada adu kasekten. Nanging bareng weruh joko mantingan meh tewas tuwuh rasa welase, banjur aweh pitulungan di gawa mlayu. Cina mau ugi nerangake yen sejatine manuting panalitine (pengamatan), joko mantingan ora gampang dilakahake dening si joko. Nanging jaka mantingan ing sak jrone ing tandingan ora ngerti yen joko ana kang ngrewangi, sarana namakake senajata rahasia saka jabane petajen, kang nganti mahani joko mantingan mripate krasa pedes lan terus kena di teter dening si joko. Joko mantingan banjur enggal-enggal bisa dakwa marang wong kang sak biyantu marang joko mau, ora liya ki yanas abdine kang kinaseh. Sak banjure joko mantingan nelakake panarimane marang cina loro mau. Cino loro mau ora bisa suwe nunggani joko mantingan pamitan arep nerusake lelakune. Mung meling supaya joko mantingan sing ati-ati lan waspada, mbok menawa isih ana wonge joko kang arep gawe panggawe ala marang dewekne. Joko mantingan gela atine cino loro mau enggal-enggal pamitan, nanging rehning adreng panjaluki cina loro mau, banjur pada pepisahan. Joko mantingan ora wani bali menyang paruron ing lemah gunung, kwatir yen di paido gurune. Ing bengi iku, joko mantingan prasetya ing jrone atine ora arep bali menyang lemah gunung, yen durung bisa ngalahake si joko. Sedyane arep golek paguron kang sakti. Sak banjure joko mantingan ninggalake randu wono mau lunga mlaku alon-alon kang tanpa arah, nangin ana tujuane.&lt;br /&gt;Arahe arep menyang endi-endi mbuh deweke durung bisa nemtokake, sebab durung entuk wawasan menyang edi panggonane paguron kang sakti, kang nakal bisa di suwitane. Nanging tujuane wis ana ya kuwi galeh paguron. Wancine meh bangung esuk, pratanda lintang panjer esuk wis katon. Nanging joko mantingan durung entuk gagasan kanggo nemtukake arahing lakune. Dumadakan ana macan gembong jumedul metu saka grumbul nyegati lakune. Joko mantingan wedi ora, nanging sumelang atine, awit kekuatane durung pulih, tatune isih krasa lara. Mula joko mantingan banjur ngunus cundrike, kangge ngadepi macan mau. Macan nubruk di endani, joko mantingan kapeksa tumendang, macan di gelut di tamani cundrike nanging joko mantingan kalah di gelut karo macan mau, di cakari awake pada tatu kabeh. Sisane kekuwatane di ketogake kanggo ambela marang nyawane, nanging tanpa guna, luwih kuwat macane katimbang joko mantingan. Ora antara suwe, embuh saka apa ora bisa di mangerteni, dumadakan macan mau ngeculake jaka mantingan. Awake di banting-banting dewe, gero-gero bekas-bekas kaya patrape macan kelalara. Kahanan kang mangkono mau banjur di pigunakake dening joko mantingan kanggo nylametake awake, banjur mlayu sipat kuping. Nanging ora suwe joko mantingan wis ambruk tiba glongsor depani lemah. Tantune arang kranjang, getihe gubrak ngebaki raine lan awake. Ewo samono dewekne isih kuwat lan eling yen durung sumingkir adoh saka bebaya. Mula banjur di kuwat-kuwatke ngadek arep mlayu, nanging ora kuwat, bola bali ambruk kaya-kaya balunge sikile putung. Joko mantingan susah banget atine, pangadarasane, sikile mesti putung upama besuk bisa mari (waras) mesti ora bisa kuwat koyo mau-maune lan temahan banjur wurung pejangkane angone arep golek paguron kanggo ngalahake si joko. Awit saka iku joko mantingan banjur arep suduk jiwa, tekade mantep. Cundrike di tamakake awake dewe, nanging durung wae kaleksanan sediyane mau dumadakan krungu sebawane manungsa ana burine. &lt;br /&gt;Joko mantingan murungake niyate banjur noleh mungguri golek prenahing sabawane manungsa mau. Ing kono ana wong tuwo, lagi ndodok koyo-koyo lagi tumandang, nandangi opo? Joko mantingan banjur pitakon marang wong mau, “He pak, kuwe lagi opo?” wangsulane alon-alon swarane ceta, “Aku lagi ngasah paku supaya dadi edon (jarum)”. Joko mantingan gumun banget, mula banjur bacutake pitakon. “Apa bapak klakon, paku kang semen gedene kok di asah, di dadekake dom kang cilik tus alus?”. Wong mau banjur wangulan, “Aku yakin musti bakal bisa klakon kanti waton aku ora bosen, ora ketang suwe mesti bakal bisa dadi dom paki iki. Awit sakabehing gegayuhan kudu kalambaran ati kang mantep, madep, sabar lan tlaten. Kanti iku yakin sakabehing gegayuhan lan panjongko mesti bakal kaleksanan. Tanpa kesabaran keantepan kang madep, gegayuh ora bisa bakal kelakon. Luwih-luwih yen manungsa, kang duwe panjongko durung kaleksanan wes bosen mandeg ing tengahing dedalan. Iku pratanda yen manungsa kang cupet budine, ora manteb tekade, nyulyani marang batine dewe. Yen ora mangkono, tetela yen manungsa mau wedi nadepi marang bebaya, utawa lumuh kangelan. Endi ana wong kepingin ngunduh marang gegayuhan kang ora sarana kangelan utawe ngadepi bebaya kang dadi pepalange”.&lt;br /&gt;Joko mantingan kagugah semangate krungu wangsulane wong tuwa mangkono mau. Rumangsa entuk pasinaon kang larang banget regane. Deweke eling yen duwe gegayuhan, kepingin ngalahake si joko, lan arep golek paguron. Joko mantingan banjur nemtokake yen wong mau wong kang pinter mula banjur sumungkem lan matur, “Duh kyai, tahu leres sedaya pangandika panjenengan. Panjenengan saged ngemutaken dumateng kawula. Pramila kyia menawi mboten keparengepun kawula bade suwita dumateng panjenengan. Kawula yakin kanti mantep mandep lan tekad ingkang gumolong. Benjang kulo bade dados tiyang ingkang sakti mandraguna, saged ngasaraken mengsah kawula”. Sakabehe lelakone di caritakake wiwit nganti pungkasan. Wong tuwa mau mesem lan banjur ngendika, “Ya – ya aku ngerti pabcen kuwe bodahkang lantip, aku uga ora arep nulak marang panjalukmu, nanging emane iki dina aku durung isih minangkani nompo kuwe dadi muridku, sebab aku isih ana jejibahan kang wigati kang kudus dak rampungake luwih disik. Becik kuwe saiki meluo aku, mengko kowe dak tuduhake guru kang patut kok guroni, mengko yen aku wes rampung ngrampungake jeibahanku mau kowe dak parani, lan dadi muridku”. Joko mantingan manut opo kang di karepake wong tuwo mau, najur melu tut burine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ana ing desa Karjasan (omahe pendekar Karjasa).&lt;br /&gt;Nalika semono ing omahe pendekar Karjasa lagi ono rame-rame sebab pendekar Karjasa lagi tetandingan karo pendekar Kemrisik. Pekarane podo rebutan murid, endi kang menang bakal duwe murid kang akeh. Mangkono mau pancen wes dadi kalumrahan para pendekar, mula ora aneh nalika semana pendekar Kemrisik nglurug menyang Kerjasan. Nanging Karjasa pendekar kang wes tuwa lan akeh pengalaman dadi yo ora gampang dikalahake. Semono uga pendekar kemrisik wis wani nglurug mau mesti uga pendekar kang duwe kasekten. Mula tetandingane pendekar loro-lorone mau rame banget. Murid-murid pada sorak-sorak keplok-keplok, ngeploki gurune dewe-dewe. Bareng nganti sore ora ana kang menang lan kang kalah. Jagoan loro-lorone mau banjur pada ngaso lan pada nganakake pepetungan. Karjasa ngajak tetandingan yen wanci awan tok, ingkang bengi ngajak ngaso. Nanging Kemrisik emoh di ajak ngaso, najan ta weingi njaluk diterusake nganti entuk kerampungan nemtokake seng kalah lan sing menang. Karjasa puguh emoh, dasare tetandingan ing wanci bengi iku ora jujur. Mangkono banjur dadi padu, rebutan bener. Dumadakan wong tuwa kang nulungi joko mantingan mau teko nyapih marang kang pada padudon. Pendekar loro-loro mau bareng weruh wong tuwa mau banjur pada sumungkem, ngaturake pangabekti nyuwun pangaksama. Ujari Karjasa, “Nyuwun sewu kanjeng sunan kalijogo bade kagungan kersa menapa panjenengan rawuh ing desa Karjasan”. Kemrisik uga matur, “Nyadung dedaka panjenengan kanjeng Sunan, kawula mboten mangertos bilih panjenengan rawuh”. Joko mantingan kang wiwit mau nderekake weruh lan krungu ujare wong loro mau domblong. Awit ora ngerti jebule sing di nderekake mau jebul sunan kalijogo, joko mantingan banjur melu sumungkem lan nyuwun pangapura marang tumindake kang kuran susila. Sunan kali dawuh marang pendekar-pendekar mau, supaya aja pada rebutan murid. Ing sak banjure joko mantingan di pasrahake marang pendekar-pendekar mau supaya dadi murid. Besuk yen wes rampung jejibahane sunan kalijogo arep marani joko mantingan, mangkono mau terus pamitan lan nerusake lakune.&lt;br /&gt;3. Sunan kedu lagi ngajar ki yanas, awit ki yanas ngapusi sunan kedu. Ki yanas saguh marang sunan kedu, nuduhake panggone sumber penguripan, lan jaluk opah kang akeh banget. Opahe wes ditampani nanging ora gelem nuduhake panggonane sumber penguripan. Mula banjur di ajar dening sunan kedu, malah arep di pateni. Rahayue si joko teka tetulung, lan pitakon marang sunan kedu, apa sebabe ki yanas arep di pateni. Sunan kedu nerangake sebab-sebabe. Joko kang selawase durung tau krungu bab sumber penguripan banjur pitakon, “Apa gunane sunan kedu mbutuhake sumber penguripan?”. Sunan kedu ngandika, “Ki joko sapa kang bisa entuk banyu sumber penguripan mau bakal dadi wong kang sakti tanpa meguru”. Joko pitakon maneh, “Yen nyata kaya mangkono, kena apa rama sunan ora dawuh karo aku, ing mangka aku kepengen dadi wong kang sakti”. Sunan kedu gumuyu krungu pitakone joko mau, “He joko, ramamu sunan emoh nuduhake sumber penguripan marang kowe, sebab ramamu sumelang yen nganti kowe dadi wong kang sakti. Awet sejatini kowe kuwi dudu anake dewe, nanging anake ungsuhe, ya kuwi sunan murya”. Si joko ora percaya marang ngendikane sunan kedu mau, sunan kedu mau banjur carito, nyaritakake nalika lelakone ratu dwarawati ana desa plasa. Joko banjur percaya. Ki yanas banjur dipeksa, di kongkon nuduhake sumber penguripan, ngendikane, “Ki yanas saiki kowe kudu nuduhake sumber penguripan kang butuhake dudu sunan kedu, nanging aku dewe. Awit aku kepengin adi wong kang sakti”. Ki yanas bade nolak mboten wonten mula banjur di tuduhake. Wong loro mau pada ngetutake ki yanas. Bareng wis pada bisa nemukake, atine pada cuwa, sebab sumur mau jero banget, ora bisa nyeduk banyune. Sunan kedu duwe panemu, ngandika, :Jaka bisane kowe nimba banyu penguripan saranane kuwe kudus wani nyuwun ngampil pusakane ibumu ratu dwarawati, kang aran cinde ompyong. Jaka sasaguh tumunten budal dalem ibune.&lt;br /&gt;4. Ing Panti Kudus&lt;br /&gt;Sunan ja’ffar sodiq lagi sapatemon karo ratu dwarawati kang di ngadikake, “Opo sebabe nganti seprene kanjeng ratu durung kersa atur leladi”. Wangsulane ratu dwarawati kersa ngladeni nanging mundut bebana, supaya di gawekake mesjid kang wewangunane lan ukir-ukirane kaya wewangunane gagrak mojopait. Sunan ja’ffar sodiq krungu wangsulane mengkono mau banjur nesu, ngandikane, ngambyang ambyang dakwa yen kanjeng ratu ora tresna. Werna-werna ngendikane nganti ngungkap-ngungkap tumindake ratu dwarawati nalika nyleweng wani andon asmoro karo sunan murya, nganti nurunake joko. Ratu dwarawati uga banjur emoh ngalah, ature menika warna najan ta ature mau ora mapan. Temahan dadi padudon. ora suwe kesaru tekane sunan puger. Sunan puger wau rayine ratu dwarawati, asal uga saka mojopait. Tekane ing kudus durung suwe, wiwit jaka lahir. Sowane sunan puger mau, lapuran yen meruhi ki yanas pasekton karo sunan kedu, kang nguras sumber penguripan. Cetane sumber penguripan kuwi sejatini ora kok banyu bisa kanggo ngurepake wong mati kuwi ora. Sumber penguripan kuwi simpenane banda donya brana biyen duwike wong-wong budha, kang di rampas dening sunan kudus. Sunan kudus banjur utusan nimbali ki yanas. Sakwise ki yanas ngadep di dukani, di ujar lan arep di pateni. Rahayune ki yanas bisa oncat, mlayu sipat kuping. Sunan kudus nunuti sunan puger uga melu nututi. Sak pungkure sunan kudus, jaka teka ngampil pusaka cinde dompyong. Sekabehe kang di tindakake pada di caritakake marang ibune. Ibune ya banjur ngendikake bab anane ki yanas kang lagi di ajar dening sunan kudus. Joko banjur benerake kandane sunan kedu, nyata yen sunan kudus ora lilo yen nganti dewekne dadi wong kang sakti, buktine ki yanas di ajar lan arep di pateni. Jaka banjur enggal-enggal nututi sedyane arep nulungi ki yanas. Ing sak banjure ki yanas playune katutan sunan kudus, di candak arep di pateni. Dumadakan joko teko. Sunan kudus di terjang terus di ajar. Sunan kudus bingung arep di lawan kwater yen ratu dwarawati nesu mula banjur mung narima ngalah. Ratu dwarawati teka weuh jaka mangkono mau banjur duka banget. Jaka di dukanesebab tumindake kebacut nganti wani ngajar sunan kudus. Joko asor budine, ibune dikatotake kesalahane sunan kudus, ujare menika warna, ibune uga di cempalani lan banjur di kunjara bebarengan karo sunan kudus.&lt;br /&gt;Ing pinuju sawijineng dina jaka lagi lungguhan ijen ana ing srambi. Joko gagas kepriye anggone arep nguras sumber penguripan, dumadakan ana wong ngemis njaluk sedekah kanda yen lagi lelaku, kasatan lan kaluwen. Joko banjur utusan abdi maringi sega, marang wong ngemis mau. Anehe wong ngemis mau bareng wis nampani sega peparinge, ora di pangan nanging di tangisi. Joko gumun mula banjur pitakon opo sebabe segane kok ditangisi. Wong ngemis mau matur, “Kawula kemutan bapak tuwin simbah ingkang sampun pejah, iba rumenipun bapak tuwin simbah lan simbah tumut mangan sekul ingkang eca menika. Oo bapak ya gene kowe mati disek, aku rumongsa kapotongan kang gede aku cilik kok gedekake, bodo kok pinterake lan aku bisa urip sebab pada rumeksamu. Oo simbah kuwe kang ngandut aku sangang wulan sepuluh dina kowe kang nglahirake aku, kowe perang sabil paribasane. Sepe sembire kowe bisa tewas anggonmu nalika nglahirake aku. Oo simbah-simbah ya gene kowe mati disiki aku durung bisa males apa-apa marang kowe simbah”. Akeh-akeh ature wong ngemis mau, jaka krungu seambate wong ngemis mau banjur kagugah atine, rumangsa luput kang di tindakake. Wani karo rama lan ibune. Jaka banjur utusan marang abdine ngluwari rama lan ibune saka pakunjaran. Bareng wes metu banjur di tangisi, di jaluki pangapura. &lt;br /&gt;Sunan kudus lan ratu dwarawati gumun banget weruh patrape jaka kaya ngono mau. Banjur pitakon marang jaka, ya gene teka nganeh anehi lan opo sebabe banjur nyuwun pangapura. Jaka matur yen rumangsa luput kang gee banget lan kanda yen mentas wau, di elingake marang wong ngemis. Dumadakan wong ngemmis mau malih. Malih sunan kalijogo, paring dawuh mareng joko, “Wis-wis jaka wis, ojo nangis aku matur nuwun marang kowe, kowe saiki wis eling, ngerti menyang kaluputanmu. Apa ta sebabe ramamu ora lilo yen sumber penguripan nganti di weruhi wong-wong sebabe sumber penguripan mono sisi donya brana, diyen donya branane wong-wong budha kang setiya marang negari mojopait. Mulane sunan kedu pengen meruhi sumber penguripan awit sedyane sunan kedu arep nguras banda-banda mau kanggo nyusun kekuwatan arep ngrangsang negara demak bintara lan numpes kabeh para ngulama”. Sak wise jaka ngerti mangkono banjur prasetya arep memungsuhi sunan kedu. Sunan kalijaga ngendika maneh, “jaka kowe saiki wis eling lan bali menyang dalan kang bener, najan ta kowe dudu turase ramamu sunan kudus, nanging wiwit cilik kowe di gulo wentah dening ramamu sunan. Mulae supaya kowe tansah eling jenengmu dak eleh dudu joko rachmad nanging joko sodiq”. Sunan banjur pamit kondur, sak pungkure sunan kali dawuh marang santri-santrine, sumber panguripan supaya di tableg. Tablege mung karo bata sak blebar wis bisa katableg. Supaya aja nganti kacidro dening sunan kedu, ing duwure tablegan mau di yayasani menara, besok kanggo menarane mesjid yen mesjide wis dadi.&lt;br /&gt;5. Ing Sanggar Dalem (sanggar kagem semedi) (ingsak derengipoun mesjid dados ingkang wonten sanggar papan wau kangge semedi).&lt;br /&gt;Sunan kudus dateng ing sanggar dalem kaderekaken ratu dwarawati, ingkang perlunipun bade minangkani panyuwuning ratu dwarawati kados wewangunan ing jaman Mojopait. Dawuhipun sunan kudus dumateng ratu dwarawati, “Ratu aku arep bisa gawe mesjid kang gagrak wewangunane lan ukir-ukirane kaya wewangunane ing jaman Mojopait. Tindaku mung sarono semedi, ojo nganti ono wong kang wani mlebu ing sanggar, mundak ganggu anggonku semedi”. Ratu dwarawati ngestokake dawuhipun sunan kudus. Mboten antawis dangu, si joko dateng mundur pirsa wonten pundi ramanipun, sunan kudus bade tindak dateng pundi.&lt;br /&gt;Ratu dwarawati ngandikaken menawi sunan kudus nembe tindak dateng mekah kanti ulah semedi. Mireng dawuh pangandikanipun ikang ibu makaten wau si joko sanget kepingin mangertos kados pundi patrapipun sunan kudus anggenipun semedi. Pramila aturipun dumateng ingkang ibu, bilih sagah jagi ramanipun anggenipun semedi ing sanggar dalem. Ratu dwarawati kondur ingkang jagi gantos si joko. Nanging sareng ingkang ibu sampun kondur, si joko lajeng kanti ngatos-ngatos mlebet ing lebetipun sanggar. Ing mriku si joko pirsa ingkang rama nembe olah semedi. Joko tumunten, tumut semedi ing sak wingkingipun ingkang rama. Dilalah kersaning gusti ingkang maha kuasa, sunan kudus saged musna sak raganipun. Si joko inggih katut musna ing sak lajengipun sunan kudus dumugi negari mojopait jumujug ing papan petilasan kraton mojopait. Kersanipun sunan kudus wau madosi pangubadahipun tiyang-tiyang Mojopait nalika semanten. Dumadakan tanpa sangkan paran, sunan kudus kaget awit tindakipun wau dipun adang kaliyan jineman ingkang jagi kraton wau. Jineman wau naminipun ki pancawati. Sunan kudus meksa bade mlebet kraton, ngantos dados pasulayan, sareng ki Pancawati dipun tempiling sirahipun gloyoran dawah. Lajeng dipun gelut, dangu Ki Pancawati kenging dipun tlikung mboten saged bonggo, narimah kalah. Sunan kudus ingkang mboten nyana babar pisan bilih joko ugi nderekaken, pramila lajeng takon ngendikanipun, “He jokokowe kok bisa teka ana ing kene iki mau kepriye?”. Joko matur bilih nderekake semedi wonten king sanggar dalem, kanti mboten dipun mangertosi, jebul saged katut musna nderekaken panjenengan dateng mriki. Ing sak lajengipun sunan kudus mundut pirsa dateng ki pancawati, ing pundi papan ngibadahipun tiyang-tiyang Mojopait. Ki pancawati matur bilih un sampun boten wonten awet nalika negari mojopait kawon prang kaliyan para ngualam, papan ngibadahipun dipun risaki. Sunan kudus cuwa sanget penggalihipun awet mboten saged minangkani panyuwunipun ratu dwarawati. Joko lajeng matur, “Rama menawi papan ngibadadipun mboten wonten prayoginipun gapuranipun kemawon kaboyong dateng kudus. Bok menawi kanti gapura menika kemawon ibu ratu sampun kersa saha rena ing penggalih”. Sunan Kudus lajeng ngandika, “Jaka beciki sing boyongi gapurane kowe, awit iku pamundute ibumu”. Joko tumunten wangsuli, “Rama menawi kulo mboten saged boyongi gapura ingkang semanten agengipun menika, nanging menawi rama sunan ingkang boyongi kawula yakin mesti saged”. Sunan kudus rumaos dipun ukur-ukur kasudyanipun dening joko, pramila sunan kudus lajeng ngandika, “He joko bener banget kandamu, mula tonton ya, gapura iki bakal dak boyongi menyangan kudus”. Sunan kudus lajeng ngedalaken serbet batik, gapura sapeturang Mojopait kalih-kalihipun dipun buntel serbet lajeng dipun cangkung. Jaka gumun sanget, ki pancawati lajeng matur, “kanjeng sunan menawi gapura menika dipun boyongi dateng kudus, kepareng kawula nderek dateng kudus, suwita dateng ngarso panjenengan awiting kawula ajrih, bilih ing sak wanci-wanci sinuwun brawijaya kerjabumi pirsa, bilih gapuranipun mboten wonten kawulo temtu dipun patrapi pidana pejah”. Sunan kudus melas dateng ki pancawati, ngandikanipun, “Ki pancawati kowe dak tampa dadi kawulaku lan bakal dok patah dadi jineman uga haga gapura iki lan mesjid kudus kang durung dadi, kanti waton kuwe bisa ngetutake lakuku”. Ngaten mau sunan kudus nyangking serbet saha gendong joko trus musna. Ki pancawati menika ugi sakti lajeng nututi kanti semedi lajeng musna.&lt;br /&gt;Gampiling cariyos gapura sampun dumugi ing kudus dipun papanake ing ngajengipun menara kudus. Ratu dwarawati dipun dawuhi niti priksa. Ratu dwarawati persa dumateng ki pancawati lajeng dipun dangu, “ki pancawati arep apa kowe kok teko ing kene?”. Ki pancawati matur bilih sampun wonten keparingipun sunan kudus sadoyo lelampahanipun diun aturaken. ‘Yen mengkono iki gapura Mojopait dudu gapura saka mekah?”&lt;br /&gt;“Nyuwun inggih mekaten kanjeng ratu”, aturipun ki pancawati&lt;br /&gt;Sunan kudus rumangsa kasenggal penggalihipun pramila lajeng sumalonong ngandika, “Ratu, gapura iki panyuwunane anakmu, si joko. Sebab jaka nderekake aku”. Ratu dwarawati banjur nglengana dateng kalepatanipun, anggenipun mboten ngestokaken jagi sanggar dalem. Pramila lajeng nyuwun pangaksami dumateng sunan kudus (ki pancawati menika ngantos sapriki dados juru kunci ing pesareyan ingkang wonten ing mesjid kudus. Nanging sampun dados badan alas. Pramila menawi nyekar ziarah ing makam, kedah nyuwun palelah utawi atur salam dateng ki pancawati). Mboten antawis dangu, joko mantingan sowan matur bilih dipun utus sunan murya ngaturaken pisungsung kanggi mangayu bagya adeipun gapura ing kudus, arupi sekul kaleh tempilang, lawuhipun pecelan ulam lele (tempelang menika wungkusan, dados kalih wungkus). Sunan kudus rumaos kanyonyak manahipun, awit nyumbang kok mung kalih tempelang. Joko mantingan, Sunan murya banget anggone ngina marang aku. Opo sunan kudus wis mlarat. Sega rong tempelang iki kanggo opo?. Joko mantingan ajrih sangat, wangsulanipun ngatos-atos sanget, “Kanjeng sunan kawulo namung sadermo dipun utus, ngendikaniun sunan murya, najan ta namung semanten nanging saged mura kabehi kangge wilujengan”. Sunan kudus sangsaya muntap nesunipun. Sekulipun wau lajeng dipun bucal sumebar, ulaminipun dawuh ing lepen gelis, pecelan ulam lele wau saged gesang meleh. Sekulipun di angge rebatan tiyang-tiyang ingkang sami wonten ing mriku. Sunan kudus dangu dateng tiyang-tiyang ingkang rebatan sekul, “He seo m,ung semono wae kok anggo rebutan, opo kuwe ora bisa golek pangan?”. Wangsulipun tiyang-tiyang wau, “Kanjeng sunan anggenipun tiyang-tiyang sami ngrebat sekul menika namung mamrih supados pikantok berka lan wilujeng. Awit dawuhipun kanjeng sunan murya kagem wilujengan (ngantos sapriki pendak-pendak sasi sura, kaleres buka luwur ing mesjid kudus, sami ngrebat sekul ingkang kangge wilujengan. Karakipun dipun simpen, manut ing kapitayanipun saged berkahi wilujeng) (Ngantos sapriki ulam lele ing lepen gelis, ulamipun eca-eca awet sampung mambu bumbunipun sunan murya}&lt;br /&gt;Jok ingkang wiwit naliko ing petajen sampun dados mengsahipun joko mantingan pramila lajeng muntap nesunipun. Joko mantingan dipun terjang, dipun tendang. Rahayunipun joko mantingan prayitno saged ngendani menawi mboten temtu nemani tewas. Joko mantingan rehning mboten pados sulaya pramila lajeng ngocati. Joko nututingoyak jaka mantingan. Sak pengkeripun joko murid sunan kudus ingkang nami ki al mochtar sowan, nyowanake tamu cino kaleh, nainipun the ling siang tuwin ge ling siang. Cina kekalih wau nyuwun dumateng sunan kudus supados dipun tampi ing kudus dados tukang ngukir. Ing sareh ning sunan kudus bade yasa mesjid, kagem minangkani pamundutipun ratu dwarawati parmila lajeng dipun cobi kesagedanipun ngukir mbok menawi saged nuju prana dateng penggalihipun ratu dwarawati. Ngandika sunan kudus, “sedulur cobo kowe gawe conto ukir apa candi, mbok menawa garwa ku rena penggalihe weruh ukiranmu”. Ge ling siang pitaken, “ingkang dipun kersakaken damel candi menapa?”. Sunan kudus wangsulanipun, “wis ta gawe singa-singa candi wong mung kanggo conto wae”. Ge ling siang tumunten damel candi singa sae sanget, sareng sampun dados dipun aturaken sunan kudus. Ratu dwarawati sareng mirsani candi singa wau, ajrih sanget awit pepetanipun kados singo saestu, awit saking ajrihipun ngantos jeleh-jeleh. sunan kudus pirsa makaten wau candinipun lajeng dipun bucal. Ge ling siang tumtunipun mboten narimah, lajeng pitaken saged dipun tampi menapa mboten contonipun wau.&lt;br /&gt;Sunan kudus duka sanget, ge ling siang dipun dukani dipun wastani sangaja damel ajrihipun ratu dawarawati. Ge ling siang ingkang niyatipun sae, mboten pados sulaya. Lajeng kesah nanging kesahipun wau mboten pamitan. Sunan kudus sang saya muntap dukanipun cina kekalih wau dipun sawat tekenipun. Cina wau sumerep yen dipun sawat teken lajeng mlajeng. Anehipun teken wau saged ngoyak cina kalih wau. Teken dawuh dados barongan pring ingkang ketel sanget erinipun nyocagi cina kekaleh. Ing mriku dados dusun pring sewu. Dawahing candi ingkang dipun bucal wau dados dusun singa candi. Cina kekalih wau lajeng budidaya medal saking barongan pring wau. Awakipun tatu arang kranjang kengingeri. Lampahipun cina kekalih wau sempoyongan, awit badanipun kraos sakit. Ambeganipun krenggosan meh mboten kuwat glawat. Dumadakan sumerep wonten sumur, cina kekalih wau lajeng nyaketi sumur ingujup bade ngumbe. Nanging rehning saketipun sang saya nemen, awit saking mboten kiyatipun lajeng semaput. Rahayunipun jaka sumerep lajeng dipun tulungi dipun umbeni toyo sumur. Dangu-dangu emut lan waras, badanipun kiyat maleh. Sumur wau dipun wastani sumur tulak.&lt;br /&gt;Sak sampunipun joko mangertos bilih cina kekalih wau boten lepat, lajeng kairid malih dateng panti kudus. Joko dunungaken lenggahing prakawis tuhunipun ingkang lepat, ibu saha ramanipun sunan kudus. Pramila ge ling siang damel candi pepetan singa wau awit dawuhipun sunan kudus supados damela singa-singa candi ingkang dipun kersakaken sak-sake candi. Nanging pangertosanipun ge ling siang kapurih damel candi pepetanipun singa. Sunan kudus sak sampunipun dumunung dateng kalepatanipun lajeng dawuhipun dateng cina kekalih wau, “Iya wis sedulur kowe dak tanpa dadi tukangku”. Ratu dwarawati matur dumateng sunan kudus, “Nuwun sewu kanjeng sunan, ojo kesusu cina loro kuwi di tampa pasuwitane, aku bakal duwe pamundut, yen cina loro kuwi bisa gawe mesjid kang sewengi bisa dadi aku gelem nampa dadi tukanghku”. Sunan kudus semunipun melas dateng cina kekalih wau, pramila lajeng paring dawuh dateng muridipun ki al mochtar lan kancanipun supados tumut ngrencangi anggenipun damel mesjid.&lt;br /&gt;Cina kekalih wau prihatin sanget awit tuhunipun piyambakipun mboten saged damel mesjid supados dados. Ki almochtar lajeng wicantun, “sedulur ora kowe dewe sing prihatin, najan aku ya melu susah, awit sing diutus ora mung kowe, nanging aku  uga melu di utus ngrewangi kowe. Mulo ayo saiki podo di tandangi kanti nyenyuwun marang pangawane gusti kang maha agung”.&lt;br /&gt;Ratu dwarawati wau pirsa patrapipun ki almochtar tuwin cina kekaih wau, sumelang manahipun menawi panyuwunipun sami diun kabulaken dateng gusti kang maha kwasa. Pramila lajeng utusan dumateng nyai mlati supados dawuh dumateng tiyang kampung, ganggu dateng ingkang sami muja semedi. Tiyang-tiyang kampung keparih kotekan nyapu latar ngeculaken satu ewenipun nyumedi damar, kados patrapipun tiyang-tiyang makarya, menawi sampun bingung raine. Saestu sareng mesjid kapuja meh dados dumadakan ingkang semedi sami jugar awit mireng tiyang-tiyang sami kotekan. Ingkang sami semedi lajeng nesu sanget dateng tiyang-tiyang kampung wau. Tiyang-tiyang wau sami dipun balangi sela lan umpaking mesjid, ngantos mesjid ingkang meh dadfos wau bubar mboten dados mesjid. Dipun namakaken mesjid bubar.&lt;br /&gt;Sunan kudus rawuh pirsa kedadosan makaten wau tumut cuwa manahaipun, pramila lajeng paring upata dateng tiyang-tiyang kampung, ngandikanipun, “He bocah-bocah wadon, kowe ora pati-pati payu omah yen durung podo dadi prawan tuwa” (ngantos sapriki, ing kudus kulon katah prawanipun tua). Kampung ingkang dipun semedi damar pating klencar dados dusun damaran. Awit anggenipun ganggu tiyang-tiyang kampung kabecek, dening ingkang sami semedi dados dusun belekan.&lt;br /&gt;Ing sak lajengipun wonten rawuhipun sunan bonang ingkang diun derekaken sunan murya kaliyan joko mantingan ingkang bekto kajeng jati ingkang agembol putih. Ngandikanipun sunan bonang dumateng sunan kudus, sak sampunipun bagi binagi, saha dipun acarani lenggah, “sunan kudus aku krungu yen kowe arep yasa mesjid kanggo minangkani panyuwuni ratu dwarawati”. Wangsulanipun sunan kudus, “inggih kanjeng sunan, nanging panyuwunipun menika angel sanget”. Sadoyo panyuwunipun kanjeng ratu dipun aturaken dumateng sunan bonang. Lajeng sunan bonang ngandika malih, “sunan kudus, sejatine ora ana barang kang angel yen ta kok tandangi kanti bebarengan sak kanca rewangmu, kanti dasar gotong royong guyup lan rerukunan. Iki sunan murya lan muride joko mantingan saguh arep melu sak biyantu marang kabutuhanmu. Malah wis gawa pisungsung kayu jati kang mawa gembol putih. Kayu mau, kanggo anelakoke yen sunan murya tuhune kanti di kang resik lan suci arep sak biyantu marang kowe. Ceritane kayu jati iku maknane sehatine sunan murya gembol putih iku tegese gemebalane penggalihe suci. Ora kepengen ngajak pasulayan, temen-temen arip ngajak bedani karo kowe, mula becike saiki rukuna, ayo mesjid di tandangi bebarengan”.&lt;br /&gt;Sunan bonang lajeng pitaken dateng cina kekalih, “lha iki sapa lan ana keperluan apa?”. The ling siang, maturbilih pendamelanipun tukang ukir lan kepengen tumut ngrencangi anggenipu sunan kudus bade yasa mesjid. Sunan bonang tumunten dawuh dateng the ling siang, “sadulur coba sira gaweo ukir-ukiran, iki ana kendi, coba kendi ikir ukiren”. The ling siang lajeng wiwiti ngukir kendi, ingkang dipun ukir ingkang dipun tatah menika jawining kendi, ingkang wonten ukir-ukirananipun lebeting kendi. Jawinipun mboten wonten tabetipun menopo-menopo. Sadoyo sami kagum lan gumun dateng kasagedanipun the ling siang wau. Gagrag ukiranipun ukiran sakig negari siyem, pramila kendi wau dipun namakaken kendi siyem. (kasiyatanipun kendi siyem wau toyanipun kejawi eca seger, toyanipun kenging kangge nyumpahi tiyang, upaminipun wonten tiyang nyolong boten ngaku dipun wenehi toyaniun kendi siyem lajeng busung, sak menika kendi wau dumunung ing klenteng demak). Ing sak lajengipun lajeng sami rembagan nemtokaken rancangan anggenipun sami damel mesjid. Ingkang dipun patah damel gambar polanipun mesjid sunan murya. Tukangipun kayu kapasrahaken ki almochtar ingkang dipun tandangi kaliyan kanca-kancanipun tukang-tukang (tukang Rojomolo). Tukang wau dipun papanaken ing ngandaping wit bendo, dipun namakaken dusun bendo tukang. The ling siang tuwin ge ling siang ingkang damel ukir-ukiranipun.&lt;br /&gt;6. Gampiling cariyos mesjid sampun dados mapanipun ing sisi kidul wetanipun menara. Ratu dwarawati dipun dawuhi niti priksa mesjidipun wau. Saestu saged nuju prana ing penggalihipun. Sunan bonang ngandika, “mesjid iki kok memper mesjid murya”. Sunan murya matur, “ingging awit kawulo ingkang damel polanipun, pramila dadosipun mesjid kados mesjid ing kasunan murya”. The ling siang, ge ling siang sami matur, “menahi mboten kawulo ingkang damel ukir-ukiranipun mboten saged dados mesjid lan mboten saged junu prana penggalihipun kanjeng ratu”.&lt;br /&gt;Ki almochtar sumalonang nyambung, “najan ta bade wonten polanipun, ukir-ukiranipun mboten saged rampung, mesjid menika menawi mboten dipun tandangi tukang-tukang kulo”. Makaten wau sami dados padudon, rebutan sami-sami wonten lelabuhanipun. Rahayunipun sunan bonang lajeng enggal-enggal saged nyapih ingkang sami padudon. sadoyo saged kareksa, ngantos sirep ingkang sami paduson. Mesjid wau dipun namakaken mesjid padureksa. Inggih dipu wastani mesjid tuwa, mesjid ingkang sepisanan wonten ing kudus.&lt;br /&gt;Sak sampunipun lajeng sami medal saking mesjid, dumadakan sunan-sunan saha para ngulama sami kaget lan gumun. Awit sunan murya bingung madosi gamparanipun awit ing mriku wonten gamparan tigang pasang, kembar wangunipun saha ciri-cirinipun tuwin ukiranipun. Gamparan-gamparan wau kagunganipun sunan murya, sunan bonang, saha sunan kudus. Sunan tetiganipun sami bingung nitik gamparanipun piyambak-piyambak. Wusana sunan kudus lajeng ngeningaken cipta sak watawes lajeng gamparan tetigang pasang wau kapundut sadoyo. Sepanag dipun paringake sunan murya, sepasang dipun aturaken sunan bonang, ingkang sepasang dipun agem piyambak. Makaten wau saged trep mboten klitu pamilihipun. Dumadakan ge ling siang lajeng sungkem dateng sunan kudus, aturipun, “kanjeng sunan nyadong deduka panjenengan, kulo ingkang ngowahi ciri saha wangenipun gamparan, kulo owahi supados sami rupinipun kembar mboten wonten bedanipun. Ewo semana samanten panjenengan saged nilik kanti trep lan mboten klintu, pramilo tuhu, sekti saha waskita sanget panjenengan. Keparengo kulo kepengin dados murid panjenengan”. “yo yo ge ling siang lan kowe the ling siang wiwit dina iki kowe dadi siswaku”, mekaten ngandikanipun sunan kudus. The ling siang pitaken bab gamparan teka wangunipun kados paran saking negari cina. Sunan bonang ingkang magsuli, “weruh anika, pancen bener gamparan iku asale saka saudagar Dampu Awang naliko pada sarasehan ana ing mesjid demak bintara. Sunan-sunan mau agemane cripu. Dampu awang kanda jare kuwi kurang sampurna lan ora suci. Awit cripu mono kang di gawe saka walung lange kewan. Ing naliko uripe kewan-kewan mau podo dialap gawene dening manungsa. Malah iwake ya di pangan dening manungsa, teka nganti mati walulange isih podo di gunakake. Ora sucine walulang kuwi yen kena banyu bisa angganda. Mangkono panemu dampo awang. Sunan-sunan banjur podo diwenehi gamparan, mulane gamparan mau ciri lan wangune kaya gamparan cina”.&lt;br /&gt;Boten dangu wonten sowanipun sunan puger, matur bilih ing ngandapipun menara wonten swanten ingkang nyalawadi, kados dene swantenipun tiyang ingkang nembe ngayahi pendamelan ingkang awrat. Joko ingkang ugi wonten ing mriku lajeng sumalonang matur, “Rama sunan ing ngandaping menara menika wonten sumber penguripan, kula kwatos menawi tiyang ingkang sengaja bade nyidra bondo-bondo ingkang wonten ing mriku.”. sunan kudus lajeng utusan dateng jaka niti preksa ing menara. Jaka tumunten nyuwun pamit lajeng kesah, sadayanipun lajeng sami bibaran.&lt;br /&gt;7. Saestu jaka sampun priksa menara, kados ingkang dipun aturaken sunan puger, wonten swanten ingkang nyalawadi. Pramila lajeng tuwin raos sujana dateng sunan kedu, ingkang wiwit rumiyen tansah kepengen nguras banda-banda ingkang wonten sak lebeting sumber penguripan. Joko lajeng nylidiki dateng gribig, joko sumerep wonten lare-lare estri sami ngangsu ing sendang. Joko lajeng nyaketi pitaken, “he bocah-bocah wadon apa ora ana sumur, lilo kowe pada ngangsu banyu sendang”. Wangsulanipun lare-lare istri, bilih wonten sumur, nanging toyanipun mboten eca ambunipun banger, pramila sami remen ngangsu toya sendang. Joko kepengen buktekaken sumur ingkang toyanipun banger wau, pramila sak sampunipun dipun tedahaken panggenanipun lajeng gegancangan murugi papanipun sumur. Wancinipun sampun surup surya, joko sumerep bilih sumur wau wonten ingkang jagi, pramila jaka lajeng ngatos-ngatos sanget. Piyambakipun lajeng umpetan nanging tansah maspadakaken sumur ingkang dipun anggep nyalawadi. Saestu ing wanci dalunipun sumur wau kedatengan tiyang katah-katah. Tiyang-tiyang wau sami jegur ing sumur mboten antawis dangu tiyang wau sami jumedul kaliyan ngusungi peti lan buntelan katah sanget. Jaka lajeng wangsul dateng panti kudus, ing sak lajengipun ngerigaken para siswa, gropyok sumur wau. Tiyang-tiyang wau, tiyang-tiyangipun sunan kedu, sami ngusungi benda-benda sumber penguripan ingkang dipun lan dak dipun guwa nrobos saking sumur wau. Temahan dados perang ingkang kawon sunan kedu. Sumur wau lajeng dipun bendung kajagi siswa-siswa kudus. Sumur wau dipun wastani sumur bendung.&lt;br /&gt;8. Ing Demak Bintara &lt;br /&gt;Sunan kedu sowan dateng kepatihan demak bintara manggihi ki patih wonosalam. Ing mriku sunan kedu matur dumateng patih wonosalam, bilih sunan kudus bade ngrangsang negari demak bintara. Dasaripun sepisan nglempakaken benda-benda ingkang sipun dumunungaken ing sumber penguripan. Kaping kalihipun sampun nggalang kekiyatan, datengaken senopati asal usulipin saking Mojopait. Naminipun sunan puger, kejawi menika ratu dwarawati nyuwun bebana, purun ngladosi sunan kudus menawi sunan kudus saged dados narendra. Aturipun sunan kedu wau, ki patih wonosalam percados awet dasaripun sampun sujana kaliyan sunan kudus wiwit nalika wonten perampogan ing gedong pusaka demak bintara kala rumiyin menika. Pramila sak rampungipun sunan kedu nyuwun pamit manahipun remen sanget, awit ing kudus temtu bade tuwuh peperangan kaliyan prajurit demak.&lt;br /&gt;9. Gantos nyariyosake ing panti kudus. Sunan kudus nglempakaken tiyang-tiyang kados ta ki almochtar, ki yanas, the ling siang, ge ling siang, ki pancawati, sunan puger tuwin joko mboten kantun, perlunipun sami rembagan kados pundi anggenipun bade mengsahi sunan kedu. Ki yanas matur, kagem dadakan ing kudus dipun wontenaken kerameyan adona-adon sawung. Pepetanganipun ki yanas sunan kedu bade tumut medali, mangke menawi saestu makaten, sunan kedu dipun tantang adu jago. Mawi totohan bondo-bondo ing gribig kaliyan kudus. Ki yanas saguh dados botohipun saha nemtokaket saged mimpang. Aturipun ki yanas wau saged parujuki pramila lajeng dipun tindakaken.&lt;br /&gt;Alasanipun kangge mengeti adegipun mesjid padureksa ing kados dipun wontenaken kerameyan saha andon-andon sawung. Kalanganipun dumunung ing ara-ara sak kidulipun dusun gribig. (sak menika ing dusun prambatan, kidul pasar kudus ingkang wonten kilen jember utawi bekas pabrik rokok cap gunung, ing ngandap wit ploso).&lt;br /&gt;10. Adon-adon sawung sampung dipun wiwiti katah para botoh-botoh ingkang sami dateng. Sawung saking bakaran (juwana), saking demak ugi wonten. Cekakipun katah sawung-sawung saking pundi-pundi dusun. Sawung-sawung wau ingkang paling dipun ajrihi namung sawung saking dusun mayong. Sawungipun sae tur prakoso, botohipun pinter-pinter. Katah sawung-sawung ingkang sami di kawonaken dening sawung yamong. Saestu sunan kedu ugi medali ing kalangan, lajeng dipun tantang kaliyan jaka. Totohanipun banda, sunan kedu boten purun. Panjalukipun totohanipun panguwasa, menawi sawungipun joko kawon, sunan kudus kedah manungkul kaliyan piyambakipun. Makaten kosok wangsulanipun menawi sawungipun sunan kedu ingkang kawon saguh dados andahanipun sunan kudus, dipun menapa-menapakaken purun. Saestu dados lan klampahan jago sami dipun aben. Botohipun joko ki yanas piyambak. Remen mboten jamak, sorak sami mawarahan, botoh-borohipun sami iwut ngabotohaken. Rame sami nyoraki sawungipun. Pungkasanipun sawungipun jaka kejalu ngantos pejah, surak rame mawaruhan, kados hebol-jebolaken jagad. Joko kewirangan lajeng sujana kliyan ki yanas, awit ki yanas rumiyin nate pasekalon kaliyan sunan kedu, saged ugi sawunganipun dipun kiyanati piyambak dening ki yanas. Pramila ki yanas lajeng dipun ajar, ki yanas mlajeng dening ngantos dumugi ing bunuk gong, ki yanas di pun pejahi. (ing mriku wonten pesarenanipun ki yanas ing ngandap wit randuwono, dumunungipun isih kidul dusun gribig).&lt;br /&gt;Sunan kudus ngedah ing kalangan sawungipun dipun aben kaliyan sawungipun sunan kedu. Alasanipun totohanipun kangge nebusi kakalahanipun si jok. Saestu sawung sami tarung, tiyang sami kagem dateng tarunganipun sawung kaleh-kalehipun, sami saenipun sami kejalu, mboten wonten ingkang asor ugi mboten ingkang unggul. Srengenge sampun glewang mengilen, wancinipun meh sonten. Ewo samanten sawungipun dereng wonten ingkang purun kawon. Dumadakan sawungipun sunan kedu malih gamparan nladungi sawungipun sunan kudus. Dangu-dangu sawungipun sunan kudus lajeng maleh ganden, ganteni gamparan. Dados ingkang tarung maleh gamparan kaliyan ganden. Tiyang-tiyang sami gumun sanget semanten kasudebyanipun sunan kekalihipun. Dangu-dangu gamparanipun remuk dipun gandeni. Sunan kedu ingkang kawon lajeng mlajeng. Joko nututi, sunan kedu numpak tampah saged mabur ing gegana. Jaka lajeng menek menara tampahipun dipun tamani ceeti guntur lawe, kobong. Sunan kedu pirsa bilih tmapahipun kobong, lajeng anguk-anguk. Dawahipun tampah, dusunipun dipun namakaken dungun nganguk wali. Sunan kedu wilujeng boten menopo-menopo, lajeng mlajeng mangetan purugipun. Jaka wangsul manggihi ingkang rama. Dumadakan ing panti kudus wonten laporan biling ing wetan lepen kali gelis wonten kobongan. Sunan puger ingkang dipun utus nayemaken. Sunan puger sampun sumugi ing papan ingkang kobongan, dumadakan dados perang. Sunan puger awit mboten sumadyiyo ing peprangan pramila lajeng kateteran puritipun. Sunan puger dumadakan kasrimpet langinipun tanduran waluh ngantos dawah, lajeng kakrocok gamanipun mengsah pejah tatunipun arang kranjang (papan ingkang kangge ngepung sunan puger wau dipun namakaken dusun demakan awit papan pakuwonipun prajurit demak.&lt;br /&gt;Ratu dwarawati mireng bilih adinipun gugur, lajeng duka sanget. Lajeng pareng ipat-ipat selaminipun tiyang-tiyang ing demakan mboten pikantuk nenem wit waluh. Ing sak lajengipun ratu dwarawati gugat dateng demak bintara, nyuwun pangadilan dateng sultan akbar alfatah. Menapa sebabipun kudus dipun perangi dening prajurit-prajurit demak. Dumugi semanten rumiyen cariyas adegipun mesjid kudus dipun pungkasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garno &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aturipun penulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuwun sewu perlu kawula matur kengingi bab cariyos menika tuhunipun cariyos adeging mesjid kudus, menika penulis mboten kajarag, mboten kanyana nyana babar pisan pikantuk tuwin ngarang cariyos menika. Babonipun cariyos menika penulis dipun dongengi bapak R. Bunyamin Santoso, dalemipun ing dusun chajen, kecamatan margoyoso, kawedanan tayu kabupaten pati. Nalika tanggal kaping 10 wulan 12 tahun 1975, kaleres ketoprak siswao budaya main ing kuta kudus. Naliko semanten penulis dipun punduti cariyos daerah dening bapak Ki Siswondu Hs, sesepuhipun ketoprak siswa budaya, bade kapentasaken ing paguyubanipun. Penulis lajeng sowan dateng bapak R. Bunyamin santoso wau, pikantuk dedongengan saking panjenenganipun bapak R. Bunyamin santoso wau kagungan buku ingkang sampun sepuh. Irah-irahipun buku mboten ceto awet sampun risak cap-capanipun. Namung wonten seratanipun ingkang saged kawaos siswa sunan kali jogo ing kadilangu. Isinipun buku wau wonten dedongengan ingkang nyariyosaken adegipun mesjid kudus. Dongen wau lajeng dipun otak atik dening penulis dipun gotak gatukaken kagem menaken kaliyan dongengiun para sepuh ing kuta kudus. Ingkang nyariyosaken wontenipun mbok joko putra sunan kudus, menika pangenganipun bapak modin prambatan, duka asmanipun penulis kasupen awet nalika semanten mboten dipun catet.&lt;br /&gt;Pramila saking menika penulis nyuwun pangaksama bilih wonten klinta klintunipun awet penulis namung sagedipun kados makaten. Langkung-langkung ngengini ing pangraketing sastranipun penulis rumaos sanget kacingkrangan awit tuhunipun penulis sanes ahli kasusastran. Namung panyuwunipun penulis mugiyo dongen menika saged kengingage ancer-ancer kados makaten. Bebukanipun wontenipun cariyos adeging mesjid kudus.&lt;br /&gt;Wana namung semanten aturipun penulis&lt;br /&gt;Amien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katulis ing kuta blitar&lt;br /&gt;Nalika tanggal 20 mei 1977. dirampungaken &lt;br /&gt;ing tanggal 12 juni 1977 ing kota kalangbret tulung agung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R Koenardi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-835677867657353010?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/835677867657353010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/adegipun-mesjid-kudus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/835677867657353010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/835677867657353010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/adegipun-mesjid-kudus.html' title='Adegipun Mesjid Kudus'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-3010959407225376082</id><published>2009-01-01T17:21:00.000+07:00</published><updated>2009-01-01T17:28:31.859+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Industri'/><title type='text'>Industri Jenang</title><content type='html'>Jenang merupakan makanan tradisional yang bisa kita jumpai dibeberapa kota. di masing-masing kota makanan khas ini punya nama tersendiri. ada yang menamakan dodol dan macam-macam lainya. Kudus yang juga merupakan penghasil makanan semacam yang dinamakan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jenang&lt;/span&gt;. yang awalnya menjadi makanan tradisional sekarang telah mampu diekspor ke luar negeri. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;INDUSTRI JENANG&lt;br /&gt;Jenang merupakan makanan khas Kabupaten Kudus. Terbuat dari tepung beras ketan, gula, santan, mentega, vanili, dan aroma rasa buah-buahan lebih dikenal sebagai makanan oleh-oleh. Makanan Jenang dikemas dengan kemasan yang menarik dan ekslusif, makanan jenang juga tersedia dalam berbagai ukuran sesuai kebutuhan konsumen, tersedia juga berbagai macam pilihan rasa yang pasti nikmat dan lezat. Sentra Industri jenang terletak di desa Kaliputu Kecamatan Kota Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Nama Perusahaan Produksi dan Komoditi&lt;br /&gt;1. PT Mubarokfood Cipta Delicia&lt;br /&gt;   Jl. Sunan Muria 33 Kudus&lt;br /&gt;   Telp. ( 0291 ) 432606 ,432633&lt;br /&gt;   Jenang&lt;br /&gt;2. Asia Aminah&lt;br /&gt;   Jl.Masjid 27 Demaan Kudus&lt;br /&gt;   Telp. (0291 ) 432568&lt;br /&gt;   Jenang&lt;br /&gt;3. Karomah&lt;br /&gt;   Jl. Sosrokartono 263 Kudus&lt;br /&gt;   Jenang&lt;br /&gt;4. Menara&lt;br /&gt;   Jl. Sosrokartono 288 Kudus&lt;br /&gt;   Jenang&lt;br /&gt;5. Sinar Fadhil&lt;br /&gt;   Desa Kaliputu Gg. VII / RT I RW.I&lt;br /&gt;   Kec. Kota Kudus&lt;br /&gt;   Jenang&lt;br /&gt;6. Muncul&lt;br /&gt;   Jl. Lukmono hadi Kudus&lt;br /&gt;   Jenang&lt;br /&gt;7. Garuda&lt;br /&gt;   Desa Termulus Kec. Mejobo Kudus&lt;br /&gt;   Jenang&lt;br /&gt;8. Dua Keris&lt;br /&gt;   Jl. H. Agus Salim 234 Kudus&lt;br /&gt;   Jenang&lt;br /&gt;9. Al Husna&lt;br /&gt;   Desa Kaliputu RT II RW V Kec. Kota&lt;br /&gt;   Kudus&lt;br /&gt;   Jenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyaknya industri jenang ini bisa menjadi penghasilan dan mata pencaharian warga Kudus, selain hanya menjadi makanan tradisional. (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;red&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber lebih lanjut &lt;a href="http://www.kuduskab.go.id/pdf/industri/industri%20jenang.pdf" target="new"&gt;klik disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-3010959407225376082?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/3010959407225376082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/industri-jenang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/3010959407225376082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/3010959407225376082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/industri-jenang.html' title='Industri Jenang'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-1333612096248054373</id><published>2009-01-01T17:12:00.000+07:00</published><updated>2009-01-01T17:20:14.646+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Industri'/><title type='text'>Industri Kertas</title><content type='html'>Kudus selain dikenal sebagai kota Kretek, juga mempunyai beragam industri yang lain. banyaknya industri di kudus ini mungkin bisa lebih tepat untuk menjadi 'icon' untuk Kudus. keberadaan industri-industri ini juga menjadi pemasukan bagi warga Kudus sendiri. industri kertas seperti yang kita ketahui, ada Pura Barutama yang juga merupakan perusahaan internasional juga berproduksi dan beralamat dikudus. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;INDUSTRI KERTAS&lt;br /&gt;No. Nama Perusahaan Produksi dan Komoditi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. PT. ENGGAL MUMBUL KERTAS&lt;br /&gt;   Jl. Raya Kudus - Pati Kudus&lt;br /&gt;   Macam 2 kertas&lt;br /&gt;2. PT. Pura Nusa Persada&lt;br /&gt;   Jl. Raya Kudus - Pati KM.12 Kudus&lt;br /&gt;   Kertas Kraf, Medi- um linier,Paper board dan Kertas Sack&lt;br /&gt;3. PT. PURA BARUTAMA&lt;br /&gt;   Jl. R.Agil Kusumadya No.203 Kudus&lt;br /&gt;   Telp 0291 - 432223 ( 4 lines ),&lt;br /&gt;   432483 ( 4 lines )&lt;br /&gt;   Fax 0291 - 432586, 432220&lt;br /&gt;   www.pura-group.com&lt;br /&gt;   Kertas Security, Kertas Hologram, Kertas NCR&lt;br /&gt;4. PT. Mitra Kemas&lt;br /&gt;   Jl. Lingkar Kudus-Jepara KM. 4&lt;br /&gt;   Kemasan dari karton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diatas adalah daftar nama perusahaan kertas yang ada di Kudus.(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;red&lt;span style="font-style:italic;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;simber lebih lanjut &lt;a href="http://www.kuduskab.go.id/pdf/industri/industri%20kertas.pdf" targer="new"&gt;klik disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-1333612096248054373?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/1333612096248054373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/industri-kertas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/1333612096248054373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/1333612096248054373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/industri-kertas.html' title='Industri Kertas'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-704102602522351507</id><published>2009-01-01T16:58:00.000+07:00</published><updated>2009-01-01T17:11:12.497+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Industri'/><title type='text'>INDUSTRI ROKOK</title><content type='html'>Keberadaan Industri rokok tidak dapat dipisahkan dari Kabupaten Kudus yang disebut sebagai Kota Kretek. Industri rokok dimulai sekitar tahun 1909 oleh&lt;br /&gt;pengusaha rokok bernama Niti Semito yang memproduksi rokok merek "BAL TIGA". Terdapat&lt;br /&gt;beberapa perusahaan rokok yang cukup terkenal antara lain PR. Djarum, PR. Nojorono, PR. Sukun, PR. Jambu Bol dan masih banyak lagi perusahaan rokok yang&lt;br /&gt;berskala sedang dan kecil. No. Nama Perusahaan Produksi dan Komoditi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. PT Djarum Jl. Jendral A. Yani 28 Kudus&lt;br /&gt;   Telp. (0291) 431901 ,431691&lt;br /&gt;   Fax. ( 0291 ) 431809&lt;br /&gt;   Rokok SKT, SKM&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. PT Djarum&lt;br /&gt;   Ds. Jetak, Kaliwungu&lt;br /&gt;   Rokok Cerutu&lt;br /&gt;3. PT Nojorono Tobaco Internasional&lt;br /&gt;   Jl.Jend.Sudirman No. 86-B Kudus&lt;br /&gt;   Rokok&lt;br /&gt;4. PR Sukun&lt;br /&gt;   Ds.Gondosari ,Kec.Gebog .Kudus&lt;br /&gt;   Rokok SKT, SKM&lt;br /&gt;5. CV. Mulyo Raharjo&lt;br /&gt;   Jl. Sunan Muria, No. 63&lt;br /&gt;   Rokok SKT, SKM, SPM&lt;br /&gt;6. PT. Wikatama Indah Sigeret Indonesia&lt;br /&gt;   Ds. Tanjungkarang, Jati&lt;br /&gt;   Rokok SKT, SKM&lt;br /&gt;7. PT. Filasta Indonesia&lt;br /&gt;   Ds. Kaliwungu, Kaliwungu Kudus&lt;br /&gt;   Rokok SKT, SKM&lt;br /&gt;8. PT. Prima Tobacco Harum Industri&lt;br /&gt;   Jl. Kudus - Jepara, Ds. Jetak Kembang&lt;br /&gt;   Rokok SKT, SKM&lt;br /&gt;9. PT. Inter Tobacco Ultra Industri&lt;br /&gt;   Ds. Gundangmanis, Bae,&lt;br /&gt;   Rokok SKM&lt;br /&gt;10.PT. Stevania Ultra Tobacco&lt;br /&gt;   Ds. Gondangmanis, Bae,&lt;br /&gt;   Rokok SKT, SKM&lt;br /&gt;11.PT. Victory Supra Sigeret&lt;br /&gt;   Ds. Gribig, Gebog&lt;br /&gt;   Rokok SKT&lt;br /&gt;12.PT. Nojorono Tobacco&lt;br /&gt;   International&lt;br /&gt;   Rokok SKT, SKM&lt;br /&gt;13.PT. Nikorama Citra Tobacco Rokok SKT, SKM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sumber lebih lanjut &lt;a href="http://http://www.kuduskab.go.id/pdf/industri/industri%20rokok.pdf" target="new"&gt;klik di sini&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-704102602522351507?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/704102602522351507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/industri-rokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/704102602522351507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/704102602522351507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2009/01/industri-rokok.html' title='INDUSTRI ROKOK'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-8630597684042729659</id><published>2008-12-27T16:10:00.000+07:00</published><updated>2008-12-27T16:14:13.375+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Aliansi Buruh dan Rakyat Tolak SKB</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;LINTAS MURIA&lt;br /&gt;11 November 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bupati Fasilitasi Pengkajian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;KUDUS - Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Menggugat (Amar) menyatakan penolakannya terhadap surat keputusan bersama (SKB) empat menteri tentang pemeliharaan momentum pertumbuhan ekonomi nasional dalam mengantisipasi perkembangan perekonomian global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegasan tersebut dilakukan dalam aksi di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh yang diikuti puluhan aktivis, Senin (10/11) siang. Mereka yang berasal dari unsur INPRO, FSBDSI, PMII, BEM, STAIN, HMI, LMND, SPI, LPH YAPHI dan PRD, menggelar aksi dengan dikawal petugas dari Polres Kudus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aksi berlangsung selama beberapa saat, enam perwakilan Amar diterima Bupati Kudus H Musthofa Wardoyo, di ruang kerjanya. Salah seorang perwakilan Amar, Enny Mardiyanti, mengharapkan agar Pemkab mendukung penolakan terhadap SKB tersebut. Pasalnya, itu jelas sangat merugikan kalangan pekerja. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Pemkab diminta mengawasi pelaksanaan UMK. Berdasarkan pengamatannya tahun sebelumya, tidak ada perusahaan yang mengajukan keberatan untuk pembayaran upah dengan nominal seperti yang diharapkan. ”Kenyataannya, pelaksanaannya tidak seperti itu,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi itu, Bupati Musthofa akan memfasilitasi pertemuan dengan segenap elemen. Tujuannya, untuk merumuskan jalan terbaik terkait keberadaan SKB. ”Saya siap berdiskusi dengan rekan-rekan mengenai itu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, pihak mana pun yang dianggap mempunyai konsep atau pemikiran mengenai kondisi yang ada saat ini, diharapkan dapat memberikan sumbang sarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi, dia juga bersedia untuk memimpin diskusi tersebut. Simpulan pengkajian yang dilakukan akan diusulkan kepada gubernur. ”Kita akan memperjuangkan kepentingan pekerja dan juga pengusaha. Jadi, ada solusi terbaik bagi semua pihak,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Disnakertrans, Suyanto, yang hadir pada kesempatan tersebut menyatakan, untuk penetapan UMK 2009 terkait munculnya SKB empat menteri, sepenuhnya menjadi kewenangan gubernur untuk menentukannya. ”Untuk tahun 2009, usulan UMK Kudus yang sudah kami sampaikan Rp 750.000,” jelasnya. (H8-76)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-8630597684042729659?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/8630597684042729659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/aliansi-buruh-dan-rakyat-tolak-skb.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/8630597684042729659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/8630597684042729659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/aliansi-buruh-dan-rakyat-tolak-skb.html' title='Aliansi Buruh dan Rakyat Tolak SKB'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-8632744125807999138</id><published>2008-12-27T16:01:00.000+07:00</published><updated>2008-12-27T16:08:49.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Lomba Foto Seni Budaya Kudus</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;LINTAS MURIA&lt;br /&gt;24 November 2008&lt;br /&gt;Mencari Keabadian dari Mata Lensa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Sony Wibisono&lt;br /&gt;PENYIKAPAN yang arif terhadap karya fotografi adalah kebijaksanaan terhadap sejarah. &lt;br /&gt;Dengan pengabadian peristiwa melalui mata kamera, suatu momen yang mungkin hanya datang satu kali sepanjang sejarah dapat tersimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ini adalah bentuk penghargaan terhadap keniscayaan perubahan zaman. Namun apakah setiap orang dapat memperlakukan secara arif? Mungkin tidak semuanya, meski ada segelintir orang punya kepekaan ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu mungkin bisa menjadi sandaran pada usaha pendokumentasian sekaligus kompetisi yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kudus, saat menggelar lomba foto seni dan budaya Kudus. &lt;br /&gt;Sabtu, (22/11) di Taman Krida hasil jepretan dari puluhan peserta itu dinilai oleh dewan juri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan juri yang terdiri dari Prayitno (wartawan Suara Merdeka), Bahrul Ulum (fotografer muda) dan Agus Cemplik (perupa) akhirnya memberikan juara pertama pada foto rumah adat karya Iwan Setiyawan. &lt;br /&gt;Iwan sekaligus meriah juara harapan III pada karya foto tentang aktivitas giling rokok.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara kedua dan ketiga berturut-turut diraih Chusnul Murod dan Ahmad Rofiq.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sebelumnya juga digelar event fotografi dengan tema benda cagar budaya, lomba kali ini difokuskan pada foto rumah adat dan aktivitas menggiling rokok kretek. Peserta diwajibkan mengirimkan dua karya tentang rumah adat dan aktivitas giling rokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Kudus Musthofa, didampingi Kepala Disparbud, Brata Subagya, saat menghadiri acara berharap foto-foto tersebut menjadi amunisi untuk promosi pariwisata Kudus.&lt;br /&gt; “Bukan hanya fotonya yang dilihat, tapi ini bisa menjadi gambaran Kudus untuk membuka lebih lebar akses pariwisata,” kata Musthofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, lebih dari itu tentunya bukan sekedar foto sebagai promosi. Lebih lengkap dan arif jika karya tersebut mampu memberi sumbangan bagi sejarah perjalanan budaya Kudus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan foto aktivitas giling yang baru diambil sepekan lalu di PR Djanur Kuning itu, lima tahun lagi mungkin belum berubah banyak. Tapi ia layak disimpan dan dirawat, meski belum banyak berbicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin nanti, jika gilingan rokok sudah berubah bentuk, seragam pembatil berganti mode, atau bahkan pabrik gulung tikar, baru terasa jika foto menjadi sangat berarti. &lt;br /&gt;Dengan begitu kita tidak perlu cemburu pada Mark Hanusz yang menyusun buku kretek, ’’The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarette’’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Kudus juga punya dokumen foto kretek yang lebih kuno, karya foto dalam buku Hanusz sangat jeli menggambarkan proses budaya kretek.(79)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-8632744125807999138?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/8632744125807999138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/lomba-foto-seni-budaya-kudus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/8632744125807999138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/8632744125807999138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/lomba-foto-seni-budaya-kudus.html' title='Lomba Foto Seni Budaya Kudus'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-4238850848462802786</id><published>2008-12-27T15:53:00.000+07:00</published><updated>2009-01-16T16:07:56.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM HASAN AONI'/><title type='text'>Budaya (dilarang) Merokok</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh Hasan Aoni Aziz US&lt;br /&gt;Pemerhati sosial dan energi, tinggal di Kudus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merokok telah menjadi tradisi kebanyakan lelaki. Tetapi rokok apa yang diisap sangat dipengaruhi kebudayaan. Pasar rokok telah mendemonstrasikan dengan menarik kebiasaan merokok ini. Inggris dan Amerika mengenalkan kepada kita rokok putih merk Commodore, Dunhill, 555, Ardath, Marlboro dan Palmall. &lt;br /&gt;Perokok Indonesia sulit menerima rokok putih, karena mereka terbiasa dengan rokok cengkeh atau yang dikenal dengan kretek. Pada generasi pertama tanpa filter pula. Bagi kebanyakan orang Indonesia saat itu, mengisap rokok putih sama seperti makan sayur tanpa garam, hambar tak berasa.&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang Eropa dan Amerika tidak saja sulit menikmati rokok kretek, tetapi sekaligus aneh. Mereka mengenal cengkeh sebagai bahan penyedap kuah. Keanehan itu membuat seorang diplomat Inggris Raya di zaman kemerdekaan terheran-heran mencium bau asap yang mengepul di tengah jamuan malam di London lebih dari 50 tahun lalu (Mark Hanuzs, 2005).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi Budaya&lt;br /&gt;Bagaimana mengomunikasikan produk pada pasar yang melewati batas etnis-geografis, para pemasar perlu memerhatikan kebudayaan. Marlboro mengomunikasikan dirinya melalui gaya hidup. Orang muda terdorong mengisap rokok putih bisa jadi bukan atas keinginan beralih rasa, tapi ingin mencitrakan diri sebagai jantan dan modern. Dalam banyak hal Barat berhasil mengasosiasikan para penggunanya sebagai modern, seperti berhasil diciptakan Coca Cola atau McD.&lt;br /&gt;Djarum mencoba memasuki pasar tersebut. Rokok merk Premium yang sempat beredar di pasar Indonesia taste-nya mirip-mirip rokok putih. Tetapi di Indonesia Premium belum berhasil meng-associated dirinya menjadi modern. Lalu Premium mengalihkan pasarnya ke Malaysia. Rokok putih lokal yang cukup punya tempat adalah Country, produk Bentoel group. &lt;br /&gt;Pendekatan kebudayaan menjadi konsep pemasaran pabrikan rokok. Mereka ingin menciptakan bahwa merokok merupakan slice of life (irisan hidup). Karena itu, ada rokok rasa strawberi, teh, kopi, dst. RJ Reynold Tobacco, produsen Camel asal Winston-Salem Amerika Serikat, terkenal dengan rokok berbagai aroma dan rasa. Mereka seolah ingin mengatakan bahwa rokok tidak saja diisap, tapi dikunyah kayak permen. Mengingatkan kita pada tradisi ”chewing” di Amerika Latin atau ”nyusur” alias ”nginang” di negeri kita.&lt;br /&gt;Djarum menciptakan produk yang related dengan budaya udud sambil ngopi, atau sambil ”moci” (minum teh) di masyarakat kita. Lihatlah Djarum Black rasa kopi Cappucino. Lalu Black Tea, rokok rasa teh yang diluncurkan pertengahan 2006. Djarum agaknya ingin menyusupkan pesan komunikasi: inilah (me)rokok yang sesungguhnya!&lt;br /&gt;Meskipun penting, kebudayaan, kata pakar marketing Warren J. Keegan (1989), hanyalah satu dari tujuh faktor yang memengaruhi keberhasilan produk di market internasional. Enam faktor penting lain adalah (1) harga, (2) efektifitas iklan, (3) ketersediaan produk dan saluran distribusi, (4) ketersediaan bahan baku, (5) iklim atau suhu, dan (6) tingkat pendapatan. &lt;br /&gt;Mengingat banyaknya faktor itu, penting disadari bahwa kebudayaan, tradisi, adat dan kebiasaan lebih merupakan faktor yang memengaruhi daripada menentukan. Kebudayaan dianggap sebagai kekuatan penghambat daripada pendukung. Tetapi, karena kebudayaan begitu cepat berubah, terdapat banyak kesempatan untuk memercepat perubahan tersebut.&lt;br /&gt;Di pasar rokok putih, melalui berbagai upaya yang dilakukan Philip Morris dan BAT – produsen Marlboro dan Ardath, kini banyak kaum muda menggapit rokok putih di sela jari tangan mereka. Keduanya menduduki posisi pertama dan kedua market share rokok putih di Indonesia (Marketing, Mei 2006?).&lt;br /&gt;Cultural Genocide&lt;br /&gt;Optimisme perubahan diiringi juga kecemasan. Agresifitas regulasi terhadap industri ini, seperti pembatasan kadar tar dan nikotin, pembatasan beriklan, pengenaan cukai yang tinggi, dan rencana pemberlakuan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau, bisa melemparkan industri ini pada posisi sulit untuk berkembang. Indonesia selalu disudutkan dunia karena masih enggan meratifikasi FCTC.&lt;br /&gt;Rokok tidak saja dihadang oleh efek kesehatan para pecandunya, tetapi juga oleh gerakan kesehatan lingkungan. Dan rasanya tak ada gerakan kesehatan dan lingkungan yang cukup agresif menolak keberadaan produk kecuali terhadap rokok.&lt;br /&gt;Industri rokok bisa berkata nafas hidup mereka masih panjang. Pembelian 40 persen saham HM Sampoerna oleh Philip Morris tahun 2005 menjadi indikator positif kesempatan tersebut. Tetapi, berbagai pembatasan dan gerakan penentangan secara internasional yang terus menekan bisa menciptakan budaya baru: cultural genocide (pembinasaan budaya).&lt;br /&gt;Kodak adalah contoh relevan. Produsen film untuk foto tersebut pertengahan 2006 mengumumkan penutupan pabriknya karena telah tergerus kebiasaan baru memotret dengan kamera elektronik tanpa film. &lt;br /&gt;Contoh lain adalah kebangkrutan pabrik kloning hewan Genetic Saving &amp; Clone di San Francisco, Amerika Serikat, 12 Oktober 2006. Kloning telah ditentang kaum agamawan sejak masih gagasan.&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan pemikiran kebudayaan dan agama memang bisa memberikan harapan hidup suatu produk. Kondom contohnya. Semua alat dan tindakan kontrasepsi untuk program Keluarga Berencana (KB) dahulu diharamkan ulama karena berarti menolak takdir Tuhan memiliki banyak anak. Juga berarti menentang keyakinan Jawa lama bahwa ”banyak anak, banyak rejeki”. Kini kondom bukan saja dianjurkan demi mencegah penularan penyakit kelamin, melainkan untuk pembatasan demi kualitas pendidikan anak. Budaya melarang telah berubah menjadi anjuran.&lt;br /&gt;Yang amat mirip rokok adalah bir. Bir dan anggur beralkohol dibatasi hanya untuk orang dewasa, juga padanya dikenakan cukai tinggi. Bir tetap berkembang, karena minum bir bagi orang Barat dibutuhkan untuk menghangatkan badan. Bir menjadi irisan hidup yang sesungguhnya di negeri yang mengenal iklim dingin.&lt;br /&gt;Di negeri Timur bir dikonsumsi kalangan terbatas untuk gaya hidup dan perilaku. Meskipun terdapat iklim dingin di beberapa negara di Timur, pasar bir tetap terbatas karena keyakinan Timur (Islam) menganggap bir adalah khomr, minuman memabukkan yang dilarang agama. Sampai pada kandungan alkohol nol persen pun, kebudayaan dan hukum agama di Timur terlanjur menstigma haram minuman ini. Menjadi menarik ketika bir cap Bintang beralkohol 0% diiklankan di tivi-tivi. Mungkin bermaksud mengedukasi pasar muslim untuk merubah stigma negatif minuman ini.&lt;br /&gt;Tapi, gerakan anti-bir tak seagresif gerakan antirokok, karena efek bir dinilai hanya mengena kesehatan fisik pemakainya, sementara rokok tidak.  Nampak di sini visi gerakan kritis suatu produk lebih berpihak pada kesehatan fisik daripada mental. &lt;br /&gt;Memang sepanjang rokok masih mengandung candu, budaya merokok mungkin tetap hidup. Sebab candu adalah nadi dari budaya. Tapi, dengan ketatnya regulasi, di mana iklan rokok di masa yang akan datang tidak boleh dipromosikan di ruang publik: pamflet, koran, radio, televisi, film dst, hal ini sangat berpotensi menggerus industri rokok.&lt;br /&gt;Industri rokok menangkap gejala ini dengan menggeber orientasi kegiatan yang bertumpu pada public relations (PR) dan Corporate Social Responsibility (CSR), seperti kegiatan bea siswa pendidikan, olah raga, musik, bahkan lingkungan. Mereka ingin menancapkan simbol dan identitas produknya melalui berbagai even budaya di masyarakat.&lt;br /&gt;Strategi komunikasi yang dilakukan industri rokok dalam situasi ini tidak lagi bertumpu pada produk, tetapi gaya hidup dan peran corporate (lembaga). Industri rokok memang bakal mengalami tantangan luar biasa, entah lima atau sepuluh tahun lagi. Tetapi, gerakan eksesif anti-rokok bisa menelikung dan mempercepat cultural genocide industri ini, kecuali kelak ditemukan bahwa rokok bisa bermanfaat bagi kesehatan.&lt;br /&gt;Kudus, 15 Oktober 2006&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-4238850848462802786?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/4238850848462802786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/budaya-dilarang-merokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/4238850848462802786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/4238850848462802786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/budaya-dilarang-merokok.html' title='Budaya (dilarang) Merokok'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-8030046668438911189</id><published>2008-12-24T11:35:00.000+07:00</published><updated>2009-01-16T16:07:56.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM HASAN AONI'/><title type='text'>KH TURAIKHAN ADJUHRI</title><content type='html'>Oleh Hasan Aoni Aziz US&lt;br /&gt;Pemerhati sosial dan energi, tinggal di Kudus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEGENDA astronomi Islam Indonesia itu bernama KH Turaikhan Adjuhri. Ia kiai sederhana yang mewarisi tradisi matematika dan fisika yang dikenal luas di dunia pesantren Indonesia. Meski ia menolak disebut ahli falak – ilmu  perbintangan dalam Islam untuk menentukan arah qiblat, waktu shalat dan tanggal mulai dan berakhirnya bulan-bulan dalam tahun Hijriyah, tapi para ahli falak tak pernah alpa merujuk namanya. Ia lahir dan wafat di Kudus.&lt;br /&gt;Dengan matanya yang telanjang, kecuali lensa minus dan teropong teodolit temuan Lippershey, tiap menjelang ramadlan ia berdiri di pesisir pantai mengintip bulan saat matahari di ufuk barat tergelincir meninggalkan sore. Dalam Islam peristiwa itu disebut rukyah atau menatap hilal (semburat bulan), sebuah metamorfosa peralihan tanggal dari bulan sya’ban ke ramadlan. Apa yang dilihatnya menjadi fatwa kapan dimulainya puasa ramadlan bagi nahdliyin.&lt;br /&gt;Tahun ini adalah enam ramadlan tanpa KH Turaikhan Adjuhri sepeninggal dia tahun 1999. Ia meninggalkan empat anak, dan mewariskan keahlian falak pada salah satu puteranya bernama Sirril Wafa’ yang kini menetap di Jakarta, juga dua santri kesayangannya: KH Nur Ahmad di Krian, Jepara, dan KH Ma’sum Rosyidi di Kudus. Melalui Sirril Wafa’, Almanak Menara tiap tahun dicetak dan menghiasi ruang tamu kiai-kiai NU dan para pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia jauh dari gemerlap borjuasi kiai-kiai politik, dan justru membuat jarak politik melalui falak. Ia wafat meninggalkan Almanak Menara yang oleh ahli astronomi disebut sebagai kalender paling presisi. Angka-angka dalam perhitungan kalender itu adalah rumus abadi bagi para santrinya. Angka-angka yang di zaman pra Islam telah melambungkan nama Hermes Trismegistos, seorang mistisisme angka yang disebut Annemarie Schimmel dalam Misteri Angka-angka sebagai Nabi Idris. &lt;br /&gt;KH Turaikhan adalah Galileo Islam Indonesia. Ia menjadi duri bagi stabilitas Pemerintah, dan diintrograsi Koramil tahun 1990 karena menentukan waktu ‘iedul fitri yang berbeda dengan Pemerintah. Ia menentang maklumat Pemerintah yang menyeru masyarakat bersembunyi di rumah-rumah ketika gerhana matahari, lalu menganjurkan umat melihat gerhana dan mendirikan istisqo. Di hadapan serdadu, dengan kukuh ia menjawab, “Urusan saya adalah agama.” &lt;br /&gt;KH Turaikhan adalah kisah kecil dari pembangkangan kaum astronom dalam menghitung waktu. Kisah besarnya adalah Galileo yang terpenjara di Kota Arcetri, Italia, tahun 1632, karena menebar mazhab heliosentrisme – yang memandang matahari adalah pusat semesta alam – seperti ditulisnya dalam skrip Dialogue. Ia subversif terhadap doktrin gereja di bawah otoritas Paus Urbanus yang geosentrisme. Jika Galileo penyokong Copernicus, KH Turaikhan adalah  penyokong Syekh Husein Zaid al-Misro, pengarang kitab Al-Mathla’ul Sa’id asal Mesir, yang banyak mempengaruhi pemikirannya.&lt;br /&gt;Ilmu falak adalah ilmu waktu. Dunia bisnis mengenal waktu sebagai uang. Jawa memberi nama pawukon dalam kalender Saka, dan Islam mengenal waktu sebagai ibadah. Bagaimana menentukan waktu untuk sholat dan puasa, ilmu falak memberinya jawaban. &lt;br /&gt;Seperti planet-planet yang terus berotasi, waktu pun tak pernah berhenti berputar. Tapi, waktu seakan berhenti berputar lima tahun lalu ketika KH Turaikhan mangkat pada Kamis yang cerah. Ia disemayamkan dengan damai di dekat makam Sunan Kudus dengan ribuan umat yang menghujani air mata di sepanjang jalan Menara yang muram. Keranda yang membungkus jenazahnya berjalan sendiri hingga ke liang lahat, karena ribuan pelayat yang menyesaki jalan tak memberi ruang gerak para pengusung keranda, kecuali gerak jenazah dari tangan santri ke tangan santri lainnya.&lt;br /&gt;Mengenang ramadlan sama mengenang KH Turaikhan Adjuhri yang berdiri di pesisir pantai melihat bulan menjelang ramadlan. Sesedih umat Islam ketika ramadlan hampir tanggal, sesedih itu pula umat Islam meratapi kepergian sang syuhada dan ahli falak bernama KH Turaikhan Adjuhri.&lt;br /&gt;(Dimuat di Suara Merdeka, September 2004)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-8030046668438911189?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/8030046668438911189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/kh-turaikhan-adjuhri.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/8030046668438911189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/8030046668438911189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/kh-turaikhan-adjuhri.html' title='KH TURAIKHAN ADJUHRI'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-184292657249668937</id><published>2008-12-24T11:17:00.000+07:00</published><updated>2009-01-16T16:07:56.263+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM HASAN AONI'/><title type='text'>BURUK ROKOK CUKAI DIBELAH</title><content type='html'>Oleh Hasan Aoni Aziz US&lt;br /&gt;Pemerhati sosial dan energi, tinggal di Kudus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATAS asumsi kebahayaan, rokok – seperti etil alkohol dan minuman keras – selalu diburu cukai setiap tahun. Maka, sesuai prinsipnya, cukai diciptakan untuk membelenggu peredaran.&lt;br /&gt;Tapi, dengan keterbatasan devisa, pemerintah masih memperlakukan cukai rokok sebagai sumber pendapatan. Ini terlihat dari rencana revisi UU 34 Tahun 2000 tentang Pajak dan Retribusi Daerah atau PDRD yang saat ini tengah digodok DPR.&lt;br /&gt;Revisi tersebut akan memberikan diskresi kepada pemerintah daerah untuk memungut pajak baru demi menambah pendapatan daerah. Kecuali rokok, lingkungan juga akan dikenai pajak daerah. Juga usul dialihkan pungutan pajak bumi dan bangunan (PBB) dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) dari pusat ke daerah.&lt;br /&gt;Dalam hal rokok, DPR mengusulkan Pemda memungut maksimal 25% dari nilai cukai. Jika cukai atas rokok seharga Rp.10.000 adalah Rp.4.000, maka Pemda dapat memungut Rp.1.000 atau 25% dari Rp.4.000. Harga keseluruhan rokok setelah terkena pajak menjadi Rp.11.000. Sedang, pemerintah mengusulkan pajak atas harga jual rokok terhadap pengecer.&lt;br /&gt;Walau berbeda dalam teknis pungutan dan besaran, tetapi keduanya sama menempatkan cukai rokok sebagai sumber pendapatan. Yang baru, berdasar usulan yang muncul, hasil pajak ini akan digunakan untuk menanggulangi penyakit akibat rokok.&lt;br /&gt;Menarik ditelusuri apa motif di balik revisi UU itu serta bagaimana daerah berbasis industri rokok bersikap menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif Revisi&lt;br /&gt;UU 34/2000 tentang PDRD adalah ketentuan yang mengatur sistem desentralisasi fiskal sebagai konsekuensi atas penerapan otonomi daerah. Meski UU ini hasil revisi atas UU 18/1997, dalam penerapannya masih ditemukan banyak Perda yang bertentangan dengan prinsip pajak maupun iklim investasi di daerah.&lt;br /&gt;Antara lain masih adanya pajak ganda antar-Pemda satu dengan lainnya maupun dengan pemerintah pusat, tidak memberikan manfaat bagi pembayar pajak, juga menimbulkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy).&lt;br /&gt;Penelitian Komite Pengawasan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) maupun Kadin tahun 2005 terhadap 4.574 Perda yang dilaporkan Pemda dari 13.520 Perda yang ada (33,8%), ditemukan 404 Perda yang perlu dibatalkan dan 44 yang perlu direvisi. &lt;br /&gt;Dalam pajak rokok, sekilas ketentuan ini hendak “menghukum” barang berbahaya ini dengan menambah pajak. Namun, jika mengikuti alur tujuan menghindari pajak ganda, revisi jilid II ini bertentangan dengan semangat asalnya. Pajak rokok atau apapun istilahnya dapat dikategorikan pajak ganda, karena menduplikasi cukai.&lt;br /&gt;Revisi ini hanya akan merubah mekanisme penetapan besaran cukai rokok dari semula dilakukan oleh pemerintah pusat, diperluas ke daerah. &lt;br /&gt;Mudah diterka bahwa Pemda akan cenderung menerapkan batas maksimal persentase yang diusulkan, meskipun diktum “maksimal 25 persen” memungkinkan disepakatinya besaran pajak di bawah angka maksimal.&lt;br /&gt;Dilema Daerah Basis Rokok&lt;br /&gt;Bagi daerah basis industri rokok seperti Kudus, Kediri, maupun Malang, ketentuan ini merupakan regulation trap atau jerat. &lt;br /&gt;Pertama, aturan ini bisa jadi merupakan “regulasi antara” untuk menghapus dana alokasi cukai hasil tembakau atau DACHT yang belum lama ini dibagikan kepada lima propinsi “penghasil cukai rokok terbesar” senilai Rp. 200 milyar.&lt;br /&gt;Saya menangkap kesan pemerintah sebetulnya setengah hati mengucurkan DACHT, karena bertentangan dengan prinsip pemanfaatan pajak. Dalam konteks rokok, para pembayar cukai adalah para pembeli rokok yang menyebar di luar basis industri rokok. Kebijakan ini lebih sebagai “hadiah politik” atas protes panjang ketiga kota kretek itu meminta jatah cukai.&lt;br /&gt;Pemda akan berhitung, lebih besar manakah pendapatan pajak rokok yang akan diperoleh dibanding “hadiah” DACHT yang saat ini diterima? Jika lebih besar DACHT, sangat mungkin daerah industri rokok akan menolak ketentuan ini.&lt;br /&gt;Kedua, rencana hasil pajak rokok untuk mengover penyakit akibat rokok dapat menimbulkan beban daerah, karena pemerintah memungut pajak lebih besar dibanding daerah yang memetik hanya 25%-nya. Tujuan ini bagus, tetapi ironis karena pusat memerintah apa yang ia sendiri tak secara tekstual memeruntukkan hasil cukai rokok untuk menangani pesakitan.&lt;br /&gt;Ketiga, untuk mendapatkan daya dukung industri, pabrik rokok khususnya jenis sigaret kretek mesin (SKM) atau rokok berfilter dengan mesin, akan bersiap hengkang ke daerah baru yang menerapkan pajak rokok lebih rendah. Industri jenis SKM termasuk kategori swing manufacture yang mudah dipindah dan tak membutuhkan tenaga spesifik dan masif seperti pada sigaret kretek tangan (SKT), sepanjang infrastrukturnya memadai.&lt;br /&gt;Keempat, secara umum kenaikan cukai tinggi biasanya diikuti pembatasan lain yang dalam waktu lama dapat menurunkan tingkat konsumsi rokok. Kenaikan cukai, langsung atau tidak, selalu didorong atau setidaknya diikuti oleh desakan penerapan framework convention on tobacco control (FCTC) atau konvensi pengendalian tembakau.&lt;br /&gt;Traktat ini memuat pembatasan tar dan nikotin rendah, pengaturan kemasan, pembatasan iklan dan sponsor, serta perlindungan si pasif rokok dari paparan asap. Indonesia satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi FCTC.&lt;br /&gt;Penjualan rokok di pasar existing pabrik rokok di Eropa terus menurun setelah pemerintah menerapkan larangan merokok hingga ke ruang bar dan restoran. Cukai rokok dikenakan bervariasi dari 75 hingga 94 persen.&lt;br /&gt;Total penjualan bisa dipertahankan setelah mereka meluaskan pasar ke Eropa Timur dan negara berkembang yang tak punya aturan tegas dan cukai yang rendah.&lt;br /&gt;Penerapan cukai yang tinggi diikuti ketatnya pembatasan akan mengepung pasar rokok dan melempar bisnis ini ke pilihan deindustrialisasi. Hingga kini di dunia kurang lebih hanya tersisa lima industri rokok skala besar yang masih surviv.&lt;br /&gt;Penerapan aturan tar dan nikotin rendah, misalnya, akan menimbulkan larangan peredaran rokok SKT atau kretek tak berfilter yang saat ini menjadi tumpuan ratusan ribu buruh di masing-masing daerah industri rokok.&lt;br /&gt;Beberapa pabrik rokok mungkin akan surviv di tengah ketatnya aturan melalui pasar produk SKM, tapi tidak bagi ribuan buruh SKT. Kelak pemerintah daerah basis rokok akan menghadapi problem ini.&lt;br /&gt;Maka, menempatkan aturan pajak rokok sebagai kebaikan pemerintah pusat, khususnya bagi daerah industri rokok, sama seperti menggunting dalam lipatan. Karena itu, pemerintah daerah perlu berhati-hati menyikapinya.&lt;br /&gt;Kebijakan ini merupakan ranjau untuk daerah industri rokok, entah oleh motif menambah pendapatan atau pembatasan. Semua argumen ini terabaikan jika pemerintah masih melepas rokok dari asumsi kebahayaan serta menyingkirkan FCTC dari belenggu. Tapi, mungkinkah?&lt;br /&gt;Kudus, 20 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-184292657249668937?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/184292657249668937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/buruk-rokok-cukai-dibelah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/184292657249668937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/184292657249668937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/buruk-rokok-cukai-dibelah.html' title='BURUK ROKOK CUKAI DIBELAH'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-6617037840731638002</id><published>2008-12-24T11:06:00.000+07:00</published><updated>2009-01-16T16:07:56.263+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KOLOM HASAN AONI'/><title type='text'>CANDU VAN KUDUS</title><content type='html'>Oleh Hasan Aoni Aziz US&lt;br /&gt;Pemerhati sosial dan energi, tinggal di Kudus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di London, pada sebuah perjamuan diplomatik lebih dari 50 tahun lalu, seorang lelaki bertubuh pendek dan kurus untuk ukuran orang Eropa, memantik rokok, dan mengepulkan asap dari mulutnya. Ia mengenakan vest hitam, juga songkok di atas rambut putihnya. Aroma asap kretek menyaput seisi ruangan itu. “Apakah gerangan yang sedang Tuan isap itu?” tanya seorang diplomat bule. “Inilah yang mulia,” lelaki itu menjawab, “yang menjadi alasan mengapa Barat menjajah dunia!”&lt;br /&gt;Peristiwa itu diceritakan oleh sastrawan Pramudya Ananta Toer dalam buku Mark Hanusz: Kretek, The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarette. &lt;br /&gt;Agus Salim, “sesepuh” yang diceritakan itu, adalah duta besar pertama RI untuk Inggris Raya. Cerita itu sendiri pernah ditulis untuk pertama kali dalam buku peringatan 100 Tahun Agus Salim, tahun 1984.&lt;br /&gt;Sejarah rokok di Indonesia adalah sejarah Kudus. Dalam catatan Raffles dan Condolle disebutkan bahwa kebiasan merokok di Jawa sudah ada sejak abad 17. Bahkan Raja Mataram Sultan Agung yang memerintah tahun 1613-1645 dicatat Onghokham dan Amen Budiman sebagai chain smoker (perokok berat). Tapi, tak satupun dari catatan sejarah itu yang memperkenalkan rokok secara komersial kecuali seorang haji asal Kudus bernama Djamari pada akhir abad 19.&lt;br /&gt;Kediri maupun Malang, dua dari tiga kota industri rokok di Indonesia – termasuk Kudus, selalu berebut menyebut dirinya, “Kami lah kota kretek Indonesia!”. Tapi Kediri maupun Malang tak memiliki Haji Djamari yang telah menjadi ikon rokok, dan menjadi buah bibir masyarakat karena telah menyembuhkan sendiri penyakitnya sesudah mengisap rokok bercengkeh ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun tak memiliki Haji Ilyas dan Haji Abdul Rasul yang memproduksi rokok secara massal, sebagai pendahulu-pendahulu sejarah kesaudagaran rokok di Kudus. Suatu sejarah panjang rokok kretek sampai juragan rokok Bal Tiga Nitisemito yang tersohor itu. &lt;br /&gt;Kini, rokok telah tumbuh menjadi industrial idol negara. Pemasukan negara atas industri ini tahun 2003 mencapai 27 trilyun rupiah. Dari industri ini, Kudus menyumbang hampir 6 trilyun rupiah per tahun. Tapi, Kudus tetap meradang karena pemasukan besar itu tetap jadi penerimaan kecil baginya.&lt;br /&gt;Ibarat gula, industri ini telah menjadi tempat kerubutan ratusan ribu tenaga kerja yang mengisap manis dari pahitnya tembakau. Jika dahulu Barat, seperti disebut the old man Agus Salim, menjajah dunia karena cengkeh, maka industri rokok kini menjadi tempat peziarahan panjang angkatan kerja yang menanti kesempatan melinting tembakau dan cengkeh. Serta tempat hidup bagi para petani penghasil rempah-rempah itu.&lt;br /&gt;Rokok telah menjadi candu bagi tenaga kerja, petani, saudagar rokok, juga negara. Dan kita (juga saya), seperti kata Fromberg dalam Opium to Java, adalah pengisap candu, sekaligus terisap oleh industri rokok dan negara ini. Itulah kenapa rokok selalu berada dalam ironi: dicaci sekaligus didamba.&lt;br /&gt;Maka, ketika negara secara tegas memberlakukan ketentuan tar dan nikotin, sesungguhnya negara tidak sedang mencaci rokok, karena negara mendambakannya. Negara hanya sedang berkompromi secara malu-malu dengan Barat yang dulu menjajahnya untuk sebuah kepentingan bernama paru-paru manusia. &lt;br /&gt;(Dimuat di Suara Merdeka, 2004)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-6617037840731638002?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/6617037840731638002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/candu-van-kudus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/6617037840731638002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/6617037840731638002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/candu-van-kudus.html' title='CANDU VAN KUDUS'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-1538639866156437456</id><published>2008-12-16T14:37:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T14:39:58.164+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata Budaya'/><title type='text'>Jejak Wali di Kota Kretek</title><content type='html'>KALAU Anda memasuki Kabupaten Kudus untuk kali pertama, yakinlah pasti banyak yang bisa Anda rekam dalam ingatan. Kalau Anda dari arah barat (Semarang), Anda segera akan berhadapan dengan wilayah berkarakter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perkotaan kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak industri yang pesat berkembang di sana. Ada pabrik kertas dengan bangunan mewah, juga banyak dijumpai unit-unit (brak) pembuatan rokok yang menebarkan aroma saus tembakau. Wajar saja, Kudus memang kota penghasil rokok. Atribut Kota Kretek juga sudah sangat populer di telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma itu. Di pusat kota, papan-papan promosi makanan banyak terpancang, khususnya tentang jenang. Dan sebutan Kota Jenang juga menjadi atribut Kudus yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, boleh saja Kudus itu sebuah kota industri yang cenderung materialistis. Tapi jangan lupakan posisi penting wilayah tersebut dalam sejarah perkembangan Islam di Jawa. Sudah kesohor jika Kudus menjadi salah satu penyebaran Islam pada masa Wali Songo dengan dua tokohnya Sunan Kudus dan Sunan Muria.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dua tokoh penyebar Islam itu, wajar saja kisah dan artefak kebudayaan Islam bisa dijumpai di banyak tempat di Kudus. Wilayah itu pun akhirnya mendapat sebutan yang paling kuat di antara citra lain yang melekat yaitu Kota Santri. Lengkaplah pula sebutan itu ketika Purbatjaraka, ahli antropologi nusantara mengatakan, di seluruh Jawa hanya ada satu nama kota yang diambil dari bahasa Arab, yaitu Kudus (dari kata Al Quds yang berarti "tempat suci"). Walhasil pula, jejak-jejak sejarah dakwah para wali beserta peninggalannya itu sampai sekarang dapat kita telusuri baik untuk kepentingan ibadah maupun kelimuan (sejarah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks Masjid Menara Kudus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan wisata ziarah pertama adalah Kompleks Masjid Menara Kudus (KMMK). Jika pergi ke komplek itu dengan kendaraan pribadi maksimal sekelas minibus, Anda bisa memarkir kendaraan di sekitar lokawisata. Tapi kalau dengan bis wisata yang besar, Anda harus memarkir di terminal wisata baru di Desa Bakalan Krapyak yang letaknya lumayan jauh, sekitar 1,5 km dari KMMK. Jangan khawatir, banyak becak wisata atau angkudes siap mengantar Anda. Rp 2000 per orang untuk becak dan Rp 1.500 per orang untuk angkudes tentu bukan jumlah yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kalau sudah di atas sarana transportasi itu, suasana perjalanan seperti apa yang Anda inginkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau lewat Kauman di Kecamatan Kota, Anda akan mulai melihat pemandangan klasik. Di sisi-sisi jalanan berpaving terlihat deretan rumah dengan sentuhan arsitektur akulturatif Belanda, Islam dan Hindu. Di sela-selanya, ada banyak pedagang pernak-pernik seperti peci, tasbih, rebana, dan sajadah. Puncaknya kita akan melihat perpaduan arsitektur Hindhu-Islam Masjid Menara yang sudah kesohor itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti umumnya masjid di Indonesia, masjid tersebut juga menonjolkan bentuk kubah. Namun yang pasti berbeda adalah menara masjid yang mengingatkan bentuk candi-candi Hindu. Kalau mau lebih spesifik bentuk Menara Kudus mirip dengan Candi Jago atau Candi Singosari di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menara setinggi 15 meter itu berbahan dasar batu bata, sirap dan semen. Melalui inskripsi pada salah satu bagian rangka atap menara pendirian Menara Kudus menunjukkan angka tahun 1609 Jawa atau 1687 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menara terdiri atas tiga bagian yaitu kaki, tubuh, dan puncak. Kaki menara berbentuk bujur sangkar yang masing-masing sisinya berukuran 9,5 meter. Badan menara berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 6,30 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan menara dihiasi dengan panel-panel segiempat polos, lingkaran dan palang Yunani yang diisi piring-piring porselin. Puncak menara berupa ruangan mirip pendapa yang beralaskan kayu dan beratap dua tingkat berbahan sirap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu masuk halaman depan Masjid Menara berbentuk candi bentar. Di dalam masjid, ada dua gapura berbentuk paduraksa atau biasa disebut Kori Agung atau umum disebut Gapura Lawang Kembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas mengagumi hasil karya arsitektural tersebut, selanjutnya kita akan mengunjungi kompleks pemakaman. Kompleks tersebut sebenarnya terletak persis di belakang masjid. Namun untuk sampai ke sana kita harus melalui pintu Gerbang Padureksan Kidul Menara, di sebelah selatan menara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah Jafar Shodiq atau Sunan Kudus dimakamkan. Di samping puluhan makam di kawasan itu terdapat pula makam putra Sunan Kudus yaitu Pangeran Palembang. Makam Sunan Kudus sendiri terdapat di tengah-tengah bangunan induk berbentuk joglo. Makam Sunan Kudus dalam kesehariannya selalu tertutup kain kelambu. Peziarah hanya berdoa di sisi luar makam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin melihat lebih jelas bangunan makam, Anda bisa datang pada tanggal 10 Sura. Saat itu akan diadakan pergantian kelambu yang terkenal dengan istilah buka luwur. Namun Anda harus bersiap-siap untuk berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Karena saat itu, pengunjungnya begitu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pada ritus tersebut, kedatangan peziarah meningkat pada bulan Sura, Rajab, Maulud, dan masa liburan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam Sunan Muria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkunjung ke KMMK, tujuan selanjutnya adalah Makam Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe. Ziarah ke makam Sunan Muria yang berjarak sekitar 30 kilometer arah utara dari KMMK sudah menjadi satu paket perjalanan bagi para peziarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menggunakan kendaran pribadi atau rombongan, Anda juga bisa menggunakan jasa angkutan umum. Rute yang ditempuh cukup berkelok dan menanjak. Maklum, Makam Sunan Muria memang berada di Gunung Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan roda empat biasanya akan berhenti di subterminal Colo sekitar 2 km dari lokasi makam. Bukan karena apa-apa, tapi jalan menuju makam memang sangat menanjak dan sempit. Sebagai gantinya Anda bisa memakai jasa ojek untuk meneruskan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki kompleks pemakaman, peziarah diwajibkan membuka alas kaki. Untuk menyimpannya Anda harus mempersiapkan tas plastik. Perjalanan diteruskan dengan menyusuri lorong-lorong dengan bentuk bangunan yang relatif baru. Lalu kita akan bertemu lagi dengan satu pos. Di sini pengunjung wajib mendaftarkan diri pada petugas sebelum menuju makam Sunan Muria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks makam Sunan Muria berbentuk cungkup batu dengan ornamen yang mirip dengan makam Sunan Kudus. Di atasnya terdapat hiasan berbentuk troloyo dikelilingi kelambu putih. Sama seperti Makam Sunan Kudus, makam Sunan Muria pun dilingkupi kelambu. Prosesi penggantian kelambu buka luwur dilaksanakan setiap tanggal 15 Sura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai dari makam Sunan Muria, beberapa langkah menjelang pintu keluar Anda yang berziarah bisa mengambil air dari gentong keramat peninggalan Sunan Muria. Dibantu petugas penakar air di situ, Anda bisa membawa pulang air dengan botol atau jeriken. Jika tidak membawa wadah, Anda bisa membelinya di sekitar lokasi makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penginapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengunjungi dua lokasi sekaligus memang perlu waktu yang relatif lama. Apalagi jarak keduanya cukup berjauhan. Selain itu paket wisata ziarah ini selalu terkait dengan paket lain seperti makam Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya bagi peziarah yang sudah kemalaman di makam Sunan Kudus akan mencari penginapan sebelum meneruskan perjalanan ke Sunan Muria keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena paket wisata ziarah umumnya dilaksanakan golongan ekonomi menengah ke bawah, di sekitar kawasan KMMK pun terdapat penginapan murah meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarifnya dihitung per rombongan bis. Satu bis yang terdiri atas 50 sampai 60 orang misalnya ditarik biaya Rp 120 ribu sampai Rp 150 ribu. Kalau dihitung, rata-rata per orang hanya membayar Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per malamnya. Karena murah jangan berharap fasilitas yang muluk-muluk. Mereka hanya menyediakan tikar atau karpet serta bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penginapan rombongan ziarah semacam ini umumnya berada di bangunan-bangunan tua yang banyak bertebaran di sekitar kawasan Menara Kudus. Namun ada juga rumah-rumah baru, yang tentunya sederhana, untuk usaha sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat bermalam murah itu memang tidak memasang papan nama resmi layaknya hotel. Namun Anda tidak perlu khawatir karena para tukang becak biasanya sudah mengetahui penginapan-penginapan tersebut. Bahkan mereka mau mengantar sampai tujuan. Tentunya para tukang becak pun akan mendapat komisi dari pengelola penginapan jika membawa rombongan ziarah. Selain itu, bagi yang berkantung tebal, beberapa hotel ada di pusat kota yang jaraknya tak terlalu jauh dari KMMK.&lt;br /&gt;(Sony Wibisono/73)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-1538639866156437456?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/1538639866156437456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/jejak-wali-di-kota-kretek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/1538639866156437456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/1538639866156437456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/jejak-wali-di-kota-kretek.html' title='Jejak Wali di Kota Kretek'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8436120929855756267.post-3135285228155117205</id><published>2008-12-16T14:29:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T14:30:51.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Pusaka Sunan Kudus yang Selalu Memainkan Cuaca</title><content type='html'>KERIS Cintaka, pusaka peninggalan Sunan Kudus memang selalu membawa aura tersendiri saat dijamas. Seakan-akan pusaka tersebut selalu membuat suasana alam menjadi netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi Senin (15/12), saat pusaka tersebut dimandikan. Kudus yang akhir-akhir ini lembab dan basah, sejenak berganti teduh tidak lembab, namun tidak juga panas menyengat. Alam seakan netral mengiringi penjamasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kebetulan atau mitos, fenomena itu setidaknya sering dirasakan sendiri Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), EM Nadjib Hasan. “Sejak saya kecil, suasana redup dan teduh saat penjamasan selalu terjadi. Dalam ungkapan Kudusan seperti jembebrek, tidak ada hujan, panas, dan mendung,” ujarnya seusai penjamasan Keris Cintaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadjib tampaknya tak beromong kosong karena begitu selesai penjamasan keris dan tombak trisula, cuaca langsung terang. “Sudah sering, apalagi beberapa tahun belakangan,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjamasan terhadap pusaka, menurut Nadjib, dilakukan setiap Senin atau Kamis pertama setelah hari tasyrik. “Kalau setelah hari tasyrik yang jatuh pertama Kamis, pelaksanaannya Kamis. Karena kemarin hari tasyrik jatuh pada Selasa, Rabu, dan Kamis, maka setelah tasyrik yang pertama adalah Senin,” ujar menceritakan pusaka yang dinamai berdasar istilah cinta pusakanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan hari itu sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak dulu. Dengan demikian, pelaksanaannya mengikuti tradisi yang sudah ada. Penjamasan terhadap keris luk sembilan itu, kemarin dilakukan oleh H Fakihuddin. Setelah Keris Cinthoko dijamas, menyusul tumbak peninggalan Sunan Kudus, berupa dua trisula. Dua pusaka tersebut setiap harinya terpampang mengapit pintu mimbar pada Masjid Menara Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu penjamasan, antara tumbak dan keris diusahakan tidak bersamaan. Kalau kedua pusaka bertemu, salah satu pamor dari pusaka tersebut akan tersedot. Maka, sebelum keris tersebut disarungkan, tumbaknya tidak boleh masuk pada lokasi penjamasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjamasan atau pembersihan tersebut antara lain menggunakan jeruk nipis, untuk menghapus karat pada besi pusaka. Dilanjutkan dengan merendam pada air merang (batang padi) ketan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai penjamasan, dilanjutkan dengan tahlil dan doa. Dengan menghidang jajanan pasar. Makanan ringan yang dibeli dari pasar itu sebagai simbol sebuah kesederhanaan. Disajikan juga opor dan ayam bakar tanpa bumbu yang konon merupakan makanan kesukaan Sunan Kudus. (Sony Wibisono-76)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8436120929855756267-3135285228155117205?l=kudus-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kudus-online.blogspot.com/feeds/3135285228155117205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/pusaka-sunan-kudus-yang-selalu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/3135285228155117205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8436120929855756267/posts/default/3135285228155117205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kudus-online.blogspot.com/2008/12/pusaka-sunan-kudus-yang-selalu.html' title='Pusaka Sunan Kudus yang Selalu Memainkan Cuaca'/><author><name>kudus-online</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10996621112204650493</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
